Romo Berthold Pareira, Pakar Kitab Suci dan Imam Karmelit Pertama Asal Flores itu Berpulang

1910

TEMPUSDEI.ID (10/1/21)

Romo Pareira mampu menghafal kata demi kata beserta tanda baca Kitab Suci berbahasa Indonesia dan bahasa asing lain, beserta dengan tafsirannya.

Berita duka bagi Gereja Katolik Indonesia kali ini datang dari Malang. Romo Berthold Anton Pareira, OCarm (81),  pakar Kitab Suci Perjanjian lama, wafat pada Jumat (8/1/2021) malam.

Hingga akhir hayatnya, Romo Pareira masih tercatat sebagai dosen dan Guru Besar Kitab Suci di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang.

Nama Romo Pareira tidak bisa dipisahkan dari STFT Widya Sasana. Pareira adalah ikon sekolah tinggi tersebut. Pareira sudah mengajar selama 46 tahun sejak ia merampungkan studi doktoral di Universitas Gregoriana, Roma, Italia, pada 1975.

Seperti diutarakan Ketua STFT Widya Sasana Romo Prof Dr Armada Riyanto, CM kepada kompas.id, pada usia senja, ilmu dan pemikiran Pareira masih sangat dibutuhkan. Ia masih semangat mengajar tafsir Kitab Suci. Namun, melihat kemampuan fisiknya, STFT Widya Sasana tidak lagi membebankan tugas sebagai penguji dan pendamping bagi para mahasiswa yang menggarap skripsi atau tesis.

”Romo Pareira mengajar sejak sekolah ini baru berumur empat tahun. Sebagai bentuk penghargaan kami, STFT akan menyematkan nama beliau di salah satu ruang belajar kami. Harapannya, semangat dan ilmunya terus hidup bersama dengan kami,” tutur Armada.

Fokus pada Ilmu dan Spiritualitas Karmelit

Romo Armada menilai, Romo Pareira merupakan sosok rohaniwan dan ilmuwan yang sangat berbakti, sederhana, serta sahabat yang memiliki kepedulian. ”Semua yang pernah mengenalnya merasa memiliki beliau, mewarisi semangat cintanya, melanjutkan cita-cita perjuangan dan kegigihannya,” katanya.

Stephanus Didik Iswahyudi, salah seorang muridnya yang kini bekerja di Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Jakarta, menuturkan, Romo Pareira adalah seorang imam yang sangat sederhana. Beliau tidak memiliki handphone dan tidak bisa mengendarai kendaraan apa pun.

BACA JUGA:  Pater Stefanus Adi Budi Kristanto, MSC, Imam Pertama dari Paroki Santa Clara, Bekasi Utara

”Setahu saya, beliau adalah orang yang hidupnya lebih banyak dihabiskan untuk belajar di kamar, menulis, dan menerjemahkan. Beliau tidak pernah mau pusing soal uang. Fokus pada ilmu yang didalami dan sangat menghidupi spiritualitas karmel,” katanya.

Menurut Romo Didik, Romo Pareira tipe orang yang keras. Dia ingin para mahasiswanya belajar dengan sungguh-sungguh.

Romo Pareira yang lahir di Maumere, 13 Juni 1939, menjalani pendidikan calon imam Katolik di Seminari Menengah Mataloko di Flores (Nusa Tenggara Timur), Seminari Tinggi Karmel Batu (Jawa Timur), dan Seminari Tinggi Karmel Pematang Siantar (Sumatera Utara). Ia lantas ditahbiskan menjadi Imam Karmelit pertama asal Flores pada 24 Juli 1966.

Setelah ditahbiskan, Pareira menjalani studi lanjut teologi di Universitas Gregoriana, Roma, dan Kitab Suci di Biblicum, Roma. Hingga akhirnya meraih gelar doktor teologi.

Sepulang dari masa studi, Pareira menjadi dosen Kitab Suci Perjanjian Lama di STFT Widya Sasana. Di sela kesibukan mengajar, ia juga aktif sebagai anggota Komisi Internasional ”Justice and Peace” Ordo Karmel (1989-2000) dan Komisi Teologi Konferensi Waligereja Indonesia (1994-1999).

Kecintaan Pareira kepada Kitab Suci mengantarkan dia masuk dalam tim perbaikan dan penyempurnaan terjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Indonesia. Romo Pareira bahkan mampu menghafal kata demi kata beserta tanda baca Kitab Suci berbahasa Indonesia dan bahasa asing lain, beserta dengan tafsirannya.

Selamat jalan, Romo Pareira. Beristirahatlah dalam Damai Abadi bersama para Kudus. (tD/kompas.id)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here