Bravo, Pangdam Jaya, Rakyat Bersamamu

156

Oleh Emanuel Dapa Loka

TEMPUSDEI.ID (23/11) – Perintah Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman untuk menurunkan baliho-baliho Rizieq Shihab di Petamburan dan diikuti dengan peringatan keras untuk “tidak macam-macam”, mendapat sambutan positif dari masyarakat. Apresiasi atas sikap tegas Sang Pangdam pun mengalir. Lihatlah! Markas Pangdam Jaya dibanjiri karangan bunga. Mensos dipenuhi macam-macam ungkapan kegembiraan.

Tindakan Pangdam Jaya tersebut serta-merta memberikan “rasa aman dan nyaman” kepada masyarakat yang merasa “gemas” dan terintimidasi oleh kata-kata bertuba dari pendiri Front Pembela Islam (FPI) tersebut. Sontak, Pemerintah terasa hadir kembali. Bayangkan betapa ngerinya kata-kata ancaman Rizieq yang mengatakan: apabila para penghina ulama, nabi dan penghina Islam tidak ditangkap, jangan menyalahkan umat Islam kalau terjadi pemenggalan kepala seperti di Prancis. Yang pasti, manusia berakal sehat tidak setuju Islam, nabi dan ulama dihina.

Sejumlah tindakan yang terindikasi melanggar hukum lain dari Rizieq di sekitar kepulangan dan penyambutannya membuat Jenderal Dudung semakin gerah. Ujaran pelecehan Rizieq terhadap TNI dan Polri yang meluncur begitu saja dari mulutnya, menambah kegerahan itu. Sebagai misal, tindakan institusi TNI yang mendisiplinkan anggotanya sendiri karena melakukan tindakan indispliner, Rizieq sebut sebagai “kurang ajar”. Perintah pimpinan Polri untuk menjaga rumah Nikita Mirzani setelah mendapat ancaman dari Maheer, dia katakan sebagai alasan polisi untuk “minta jatah”. Dan semua itu dia sampaikan di ruang publik.

Belum Genting?

Dukungan mengalir untuk Pangdam Jaya. Foto: Liputan6

Atas tindakan Pangdam Jaya tersebut, muncul juga berbagai pihak yang tidak setuju dan nyinyir. Alasan utama mereka adalah keadaan belum genting sehingga belum perlu TNI keluar dari barak. Tentang ini, ada yang memberikan tanggapan secara netral, ada juga yang berpendapat tergantung dia berdiri di mana, namun ada juga yang bicara dengan prinsip: apa pun yang dilakukan Pemerintah harus salah atau disalahkan. Harus salah! Titik!

Sebenarnya, Rizieq bicara provokatif bukan baru setelah dia pulang dari Arab pada 10/11 itu. Siapa pun yang tidak segaris dengannya akan dia hantam. Gus Dur saja yang sangat dihormati oleh semua kalangan di Indonesia dan dunia internasional, tidak luput dari hinaannya. Meski demikian, orang ini tetap saja  melenggang, tanpa ada yang bisa menghentikan. Seakan-akan hukum, adat ketimuran dan norma yang berlaku umum lumpuh kalau sudah berhadapan dengan Rizieq. Dia seakan-akan sangat sakti mandraguna.

Nah! Benarkah keadaan belum dalam keadaan genting? Siapa bilang? Bahwa kita tidak sedang perang dengan mengangkat senjata, iya. Genting itu tidak hanya menyangkut  kerusuhan yang menyebabkan korban berjatuhan. Atau ketika ada serangan militer dari negara lain. Jangan menganggap remeh kata-kata yang keluar dari mulut seseorang dengan banyak pengikut. Jika kata-katanya bersifat inspiratif dan motivasional untuk melakukan hal-hal baik, siapa pun akan menerima. Tetapi jika kata-kata itu bersifat provokatif, negatif, bertuba dan secara terus-menerus diulangi tanpa ada intervensi, cepat atau lambat akan dianggap benar dan wajar oleh mereka yang terpapar.

Ingat bahwa sebuah kata yang tampak netral, namun ketika keluar dari mulut tertentu dengan bahasa tubuh dan tekanan tertentu, ia akan berubah menjadi “magis”, memberi pengaruh, menghipnotis dan menggerakkan. Inilah yang harus dicegah.

Untuk para pengikutnya, Rizieq adalah pemimpin yang karismatis yang kata-katanya “bertuah”. Bisa saja mereka menganggap setiap kata yang keluar dari mulut Rizieq adalah kebenaran, apalagi diulang secara terus-menerus, tanpa ada yang membantah. Ketika Rizieq mengatakan, “Jika para penghina ulama, nabi tidak ditangkap, jangan salahkan umat Islam jika kejadian di Prancis terjadi di Indonesia” dan ini tersebar secara bebas ke tengah masyarakat dan diulang-ulangi tanpa ada bantahan atau perlawanan, bisa dianggap sebagai kebenaran oleh pengikutnya. Dengan demikian, suatu waktu mereka merasa sah-sah saja menggorok leher orang. Yang menyedihkan, pernyataan tersebut, menyeret nama “umat Islam”.

Bukankah ini sangat genting dan perlu dihentikan? Jika Pangdam Jaya diam saja juga di saat semua diam, bukankah kita sedang menunggu berbiaknya perilaku barbar? Lalu ketika benar-benar muncul hal-hal yang tidak diinginkan akibat pembiaran, kaum oppotunis berteriak lagi memainkan jurus: menyalahkan Pemerintah.

Tidak bisa tidak! Semua orang yang berkehendak baik dan mencintai Indonesia, harus hentikan ini! Bravo!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here