Romo Aba “Ndeso”: Kerinduan Orang Akan Ekaristi jadi Panggilan Allah untuk Saya jadi Imam

733

Beberapa waktu belakangan ini, imam Katolik bernama Romo Aba atauYohanes Tabah Sapy Susanto MSC ini banyak menarik perhatian melalui channel “Romo Ndeso” di youtube. Dia mengundang perhatian bukan karena hal-hal sensasional yang ia lakukan, bukan karena ajaran yang serempet sana serempet sini, bukan pula karena penampilan yang wah atau kocak, tapi justru karena gaya yang tenang, serius dan tidak aneh-aneh. Materi yang ia bicarakan pun serius, namun ia bahasakan dengan sederhana dan mudah dimengerti dengan diksi-diksi terpilih dan bertenaga. Ada yang belum melihatnya? Coba cari di youtube dengan mengetik “Romo Ndeso”.

Mari mengenal lebih dekat imam kelahiran Kendari, 09 November 1986—pada Pesta Pemberkatan Basilika St. Yohanes Lateran ini.

Bagaimana semula keinginannya untuk menjadi imam itu bersemi? Apa yang memicu dan bagaimana kosmologi yang mengitari panggilannya? Berikut kami sajikan dalam bentuk tanya-jawab dengan imam yang ditahbiskan pada 09 April 2016 di Gereja Katedral Manado ini:

Romo Aba “Ndeso”

Soal menjadi imam, Romo. Apa yang mendorong? Adakah peristiwa atau pengalaman tertentu yang menumbuhkan niat, lalu menguatkan dan kemudian mantap menjadi Imam?

Saya dibesarkan dalam keluarga Katolik yang sungguh taat dalam beragama. Sekalipun pendidikan Katolik secara formal tidak pernah saya dapatkan (sebelum akhirnya masuk Seminari), dan rekan-rekan sepermainan tidak ada yang beragama Katolik, namun berkat penanaman kekatolikan di dalam keluarga yang sangat membekas, hal ini membuat saya sungguh jatuh cinta dengan kekatolikan.

Daerah tempat saya tinggal demikian jauh dari pusat paroki. Hal ini membuat pelayanan kerohanian Katolik (di Gereja maupun di Sekolah) menjadi sangat minim. Dulu kami dikunjungi dua bulan sekali atau bahkan sampai tiga empat bulan sekali. Kalimat-kalimat kerinduan akan Ekaristi yang sering saya dengar dari orang tua dan rekan Katolik yang lain, seakan terdengar seperti suara Allah yang memanggil saya untuk imamat.

Semula, apa yang Romo bayangkan dengan menjadi imam?

Ekaristi! Ini bayangan saya akan imamat. Dan untuk Ekaristi itu seorang imam harus pergi ke pelosok-pelosok, mempersiapkan kendaraannya untuk medan ringan maupun berat, bahkan harus bermalam di jalan. Bayangan inilah yang ada pada diri saya saat itu, sehingga semacam tercipta pemahaman betapa mahalnya Ekaristi, dan saya harus menjadi bagian di dalamnya.

Ada sosok tertentu yang berpengaruh memberikan kesan menarik tentang menjadi imam? Bagaimana ia memberi pengaruh?

Romo Aba dan anak-anak di depan kandang Natal. (Foto: Dok Romo Aba).

Sejujurnya (mungkin terkesan saya mengada-ada, tapi ini benar adanya). Saya memiliki pengalaman mimpi malam yang sangat berkesan saat saya di bangku kelas 5 SD. Saya menduga karena saya sering membaca kisah santo-santa dari buku Sahabat-Sahabat Yesus. Dalam mimpi itu saya berjumpa dengan malaikat bersayap yang berkata “Aba (nama panggilan saya) apakah kamu mau ikut aku?” Saya menjawab malaikat itu, “Saya mau ikut, tetapi jangan sekarang. Saya masih ingin tinggal dengan mama dan papa.” Saat itu saya berpikir bahwa saya akan meninggal. Pengalaman mimpi itu terjadi beberapa kali saat saya masih SD. Bahkan pohon tempat di mana saya berjumpa dengan malaikat itu (dalam mimpi) sampai sekarang masih berdiri di depan rumah saya. Saya tidak mengizinkan pohon itu ditebang. Setiap liburan pulang rumah saya selalu mengenang pengalaman mimpi itu.

Itulah mengapa saya agak bingung jika ditanya sosok imam siapa yang sedemikian berpengaruh bagi panggilan saya. Sebab kesan akan imamat itu tertanam dalam diri saya bukan dari sosok imam tertentu, tetapi dari kisah-kisah orang kudus dalam buku Sahabat-Sahabat Yesus.

Apakah ada dari saudara/i yang menjadi biarawan/wati?

Saya dibesarkan oleh orang tua jauh dari sanak keluarga yang lain. Ayah saya adalah seorang Larantuka (Flores Timur) asli Katolik. Ibu saya seorang Mojokerto (Jawa Timur) seorang Muslim yang kemudian menjadi Katolik. Sampai akhirnya saya ditahbiskan imam, saya tidak pernah mengenal sungguh siapa saja keluarga saya dari pihak Ayah maupun ibu. Setelah ditahbiskan sebagai imam, dan saat berkunjung ke Larantuka, barulah saya mengetahui bahwa ada dari keluarga besar kami dari pihak Ayah, yang ternyata juga adalah seorang imam.

Bagaimana dunia sekitar atau pergaulan, termasuk kosmologi pedesaan menumbuhkan keinginan menjadi imam?

Ya, saya terbantu dengan buku Sahabat-Sahabat Yesus. Bagi saya kisah santo-santa sangat menarik untuk diikuti. Terbangun pemahaman di kedalaman diri saya sejak kecil bahwa hidup yang menyenangkan bagi Tuhan itulah hidup seperti Santo dan Santa. Dengan pemahaman itu, sekalipun rekan-rekan sepermainan saya tidak ada yang beragama Katolik (semua mereka adalah muslim), tetapi suara panggilan untuk menjadi seperti Santo dan Santa itu begitu kuat. Saat-saat ini saya merefleksikan, Roh Kudus bersuara melalui buku Sahabat-Sahabat Yesus itu bagi saya.  Kini saya mensyukuri bahwa dahulu saya dibesarkan di daerah pedesaan. Dunia pedesaan mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang sederhana dan tenang.

Beberapa kali Romo katakan, Romo berusaha mencintai Imamat Romo. Apa dan bagaimana yang Romo lakukan untuk menyiangi, menyirami cinta Romo pada imamat Romo?

Imam adalah identitas diri saya sekarang, dan karenanya saya harus professional dalam imamat. Artinya, imamat bukan sekadar jabatan yang ditempelkan pada saya, tetapi harus menjadi sesuatu yang tidak bisa terpisahkan dari diri saya. Sebenarnya tidak ada usaha khusus untuk menyiangi, menyirami imamat. Sebab imamat adalah milik Yesus Kristus. Hanya saja saya perlu membangun relasi dengan Yesus Kristus. Sebab imam yang membangun imamatnya tanpa relasi yang intensif dengan Yesus Kristus, adalah imam-imaman. (bersambung….)

BACA JUGA: https://www.tempusdei.id/2020/10/2710/romo-aba-ndeso-dituduh-cari-uang-dari-youtube-saya-tidak-dapat-apa-apa-dari-youtube.php

EMANUEL DAPA LOKA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here