Puisi-puisi Sultan Musa dari Samarinda

122

RINDU CENDAWAN

aku lelah
berbalut letih
menulis sepi
menjemur gundah

aku salah
berkalut perih
melukis diri
melebur kesah

masihkah angin mendesir
dalam renyah menyisip
masihkah embun mendecak
dalam hembus menyisir

Lalu, menulis ‘Tuhan aku rindu cendawan-Mu’

#2020

APAKAH  AKU  SUDAH  SIAP  ?

Membisu tak beranjak pergi
Mungkinkah terpana ?
Wujud yang telah kau kira
Membentang tanya tak lagi tertawa ?
Mungkin enggan mengakui
Semua telah kau ucap

Telah lewati masa detik dendangkan waktu
Iringi semua pedihku
Berselimut  jawabmu
Mengapa harus kini ?
Kau tawarkan rasamu
Hatiku telah terisi wangi bunga yang lain
Sesal kita tak menyatu
Tak lewati batasku
Rasa impian jiwaku
Tak tertulis di hatimu
Dan kini masih membisu
Terlihat padaku

Sesal alunkan langkahmu
Pernah, kutawarkan seluruh hatiku
Menjadi berteduh diam
Hempaskan jawabmu

#2020

KITA INI APA ?
Selama ini
Karang hati tetap mengukir
Walau membisu dalam jenuh
Yang semu kini menjauh

Selama ini
Hati terkikis menghujam
Walau tak di mengerti
Yang termenung  menghantam

Aku dan olehmu…
Mengikuti seakan hilang
Meski tetap ku tatap
Di bawah hamparan gelap

Seolah itu olehmu
Kuberhenti di gelap matamu
Kuterperajat di hitam matamu
Kita ini apa ?

#2020

DIMENSI SEMESTA

Dan kearah tanya
tentang apa
berapa

Dan serunya logika
siapa
tapi bagaimana

Ada tilas : biarkan semesta menjalankan sisanya

#2020

TENTANG PENULIS

Sultan Musa

SULTAN MUSA berasal dari Samarinda Kalimantan Timur. Tulisannya pernah dimuat media lokal dan nasional serta daring. Karyanya termaktub dalam beberapa buku antologi bersama penyair – penyair Nasional & Internasional. Merupakan 10 Penulis Terbaik versi Negeri Kertas Awards Indonesia 2020. Karya tunggalnya “Candramawa“(2017), “Petrikor“(2019), “Sedjiwa Membuncah“(2020) & versi e-book “Mendjamu Langit Rekah” (2020).

BACA JUGA:  Puisi-puisi Weinata Sairin tentang Aib Negeri dan Doa Seorang Buronan

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here