Kerja Maksimal dengan Semangat Extramiles!

62

Oleh Anthony Dio Martin

“Kalau bekerja tujuannya adalah cari makan, babi di hutan pun cari makan”—Buya Hamka

Di suatu jam makan siang, seorang mantan seminaris berbincang-bincang dengan seorang sahabat tatkala masih di SD. Tak disangka mereka ternyata bekerja di gedung yang sama, hanya saja di perusahaan yang berbeda. Dalam obrolan itu berkatalah ia kepada temannya yang mantan seminaris itu. “Saya betul-betul heran bagaimana, kok kamu nggak keluar aja dari tempat kerja ini. Kan tempatmu terkenal sebagai neraka? Ngapain bekerja di sana?”

Ternyata, dengan tersenyum, si temannya yang mantan seminaris itu berkata, “Saya tidak pernah bekerja untuk bossku. Saya bekerja untuk Tuhan. Saya melihat setiap masalah, termasuk dengan boss saya sebagai bagian dari kesulitan yang akan memurnikan hidup saya. Karena itu, saya tidak pernah melihat itu sebagai kesulitan!”

Buya Hamka pernah mengatakan, “Kalau bekerja tujuannya adalah cari makan, babi di hutan pun cari makan”. Ini ungkapan yang sangat menohok. Makanya, ketika pekerjaan dilakukan dengan motivasi intrinsik, hanya demi karir dan uang, biasanya banyak yang mengalami kekecawaan. Sebagai contoh saja, baru-baru ini, seorang distrik manager (DM) di suatu perusahaan farmasi sangat kecewa karena tidak dipromosikan jadi RM (Regional Manager) padahal prestasinya paling bagus. Beberapa tahun ini ia bekerja keras demi promosi. Malahan, ia dipindah ke distrik lain yang lebih susah. Menurutnya, itu hanya akal-akalan atasannya untuk tidak mempromosikan dirinya. Seminggu setelah pemindahan ini, ia keluar dari perusahaannya dengan kekecewaan yang luar biasa.

Bayangkan saja betapa kecewanya kita tatkala kita bekerja dengan tujuan karir dan material, namun ternyata kita tidak memperolehnya. Materi kita kosong, jiwa kita pun kosong karena yang dikejar, ternyata tidak diperoleh.

BACA JUGA:  Kerja Rajin, Belajar dari Camar Aneh nan Bijaksana

Karena itu, bukanlah hal buruk, jika kita bisa memasukkan unsur-unsur spiritualitas dalam pekerjaan kita. Saya pun teringat dengan kisah John Powell SJ yang berkisah soal seorang suster tua yang tiap hari bekerja keras menyapu halaman seminari. Ia begitu rajin, bahkan sampai ketika musim dingin pun masih dengan tekun menyapu. Di suatu pagi musim dingin yang sangat dingin, ia menyapa suster itu dan berkata bahwa suster biarawati itu tidak perlu bekerja sekeras  itu. Namun, dengan tersenyum suster tua itu berkata, “Surga itu tidak gratis, Romo!”. Ternyata, semangat pendek itulah yang melatarbelakangi seluruh aktivitas kerjanya.

Spiritualitas dalam Kerja

Percayalah, ketika pekerjaan kita hanya demi “roti dan ikan”, maka kita akan menjadi gampang kecewa. Namun, yang memberi makna luar biasa justru ketika bekerja dilandasi spiritualitas kerja. Sebagai contoh. Bayangkanlah saja, seorang mantan Jesuit yang kini bekerja di perusahaan IT di sekitar Jl. Sudirman, Jakarta pernah mengatakan bagaimana ia menghidupi spiritualitas Jesuit dalam bekerja. Salah satunya yang ia ingat, “Ketika kita digoda untuk mempercepat doa kita, justru kita harus memperlama doa kita”.

Menurutnya, kalimat itu ia terapkan dalam bekerja. Tatkala ia tergoda untuk melakukan sesuatu secara instan, bermalas-malasan dan ingin segalanya selesai dengan cepat-cepat, ia justru teringat kalimat St Ignasius tersebut dan ia bekerja lebih tekun.

Kata kunci yang tidak pernah ia lupakan adalah kesabaran dan ketabahan.  Dan ternyata, di tempat kerjanya ia pun dihargai sebagai seorang pribadi yang bekerja dengan “extramiles” (semangat lebih). Ia pun menjadi orang yang sangat dipercaya karena etos kerjanya yang tinggi.

Di sisi lain, ada seorang guru di sebuah sekolah Katolik yang terkenal dengan kebaikannya. Ia menjadi telinga bagi para guru yang lain. Malahan, kepala sekolah pun sangat percaya kepadanya. Meskipun ia bukan guru agama di sana, mungkin sang guru agama pun seharusnya berguru soal spiritualitas kepadanya. Alasannya, ia begitu mengagumi spiritualitas hidupnya St Fransiskus Asisi. Pemikiran soal Fransiskus Asisi begitu mengena baginya. Ia pun menjadikan rekan-rekan guru, siswa, para orang tua murid hingga para petugas di sekolah sebagai keluarganya dan saudaranya. Si guru itu peduli. Ia meluangkan waktu untuk mendengarkan dan meladeni mereka semua. Ia tidak membeda-bedakan suku, agama ataupun latar belakang ekonomi. Perlakuannya sama. Bahkan banyak lulusan sekolah tersebut yang kembali ke sekolah itu, hanya karena “kangen” dengan kebaikan si guru tersebut. Ia sungguh Fransiskan sejati.

BACA JUGA:  Mengelola 4 Jenis Puasa! Apa Saja dan Bagaimana Caranya?

Begitupun, ada seorang lulusan sekolah Ursulin yang tidak pernah lupa dengan nasihat dari seorang suster kepala sekolahnya. Hingga sekarang setelah ia membangun bisnisnya, ia punya pegawai yang sangat loyal kepadanya. Dulu, ia pun bekerja dan merangkak dari bawah. Ternyata, salah satu semangat kerja yang melatarbelakanginya adalah semangat memberikan contoh. Ia teringat kalimat-kalimat dari St. Angela yang ditanamkan oleh susternya sewaktu ia masih sekolah. “Kamu mau orang lain lakukan? Lakukanlah itu pada dirimu dulu”.

Dan akhirnya, ketika ia diterima kerja di luar negeri, ia pun disayang atasan dan bawahannya. Namun ketika krisis moneter, ia pun terpaksa pulang ke Indonesia dan ia pun merangkak dari bawah. Kini, ia sukses dengan bisnis logistiknya, namun tetap disayang oleh para bawahannya sebab dirinya selalu menjadikan dirinya sebagai teladan yang hidup.

Begitulah, hanya dari tiga kisah itu saja kita bisa melihat betapa luar biasanya jika spiritualitas kerja bisa dimasukkan sebagai semangat dalam bekerja. Dan yang terpenting, spiritualitas kerja ini bukan untuk diumumkan, diteriakkan tetapi sungguh dihidupi dan dijadikan sebagai terang yang menyertai setiap langkah pekerjaan kita. Dan dengan demikianlah, kerja kita menjadi berkat bagi diri dan bagi orang. So tanyakan, apa spiritualitas kerjamu?

Anthony Dio Martin, trainer, inspirator, Managing Director HR Excellency & Miniworkshopseries Indonesia, penulis buku-buku bestseller, executive coach,  host di radio bisnis SmartFM, dan penulis di berbagai harian nasional. Website: www.anthonydiomartin.com dan FB: anthonydiomartinhrexcellency dan IG: anthonydiomartin

 

 

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here