Kaki Kanannya Diamputasi, Agust Dapa Loka: Mengeluh adalah Kegagalan Menangkap Rahmat Tuhan

226

AKIBAT kecelakaan lalu lintas yang menimpanya tahun 2009, Agust Dapa Loka harus rela kehilangan kaki kanannya. Saat itu, tidak ada pilihan lain bagi dokter untuk menyelamatkan nyawa ayah tiga anak ini, selain mengamputasi kakinya.

Tentu saja setelah peristiwa tragis itu, banyak hal baru yang Agust alami. Tadinya, dia adalah sosok yang sangat aktif dalam dunia pendidikan, pembinaan kaum muda, kegiatan masyarakat, dan tentu saja melakukan berbagai kegiatan produktif lainnya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Setelah peristiwa tersebut, Agust harus mengurangi banyak kegiatannya. Pengurangan banyak kegiatan  tersebut sangat berpengaruh antara lain pada pendapatan keluarga, terutama untuk membiayai pendidikan ketiga putrinya.

Dari upaya kerasnya, kedua putrinya sudah menjadi sarjana dan bekerja. Tinggal anak bungsunya yang masih menempuh kuliah arsitektur di Universitas Duta Wacana Yogyakarta.

Lantas mengeluhkah Agust atau bahkan marah kepada Tuhan akibat tragedi yang menimpanya? Jawabannya mencengangkan! “Mengeluh? Mengeluh hanyalah kealpaan menangkap rahmat Tuhan,” katanya dengan tenang. Dalam kata-kata yang lebih lugas, pemenang NTT Academy Award bidang sastra atas novelnya berjudul Perempuan itu Bermata Saga, mengatakan, “Saya tidak mau mengeluh, sebab mengeluh adalah sebuah kebodohan.” Bahkan atas tragedi yang menimpanya, alumni IKIP Sanata Dharma Yogyakarta ini mengaku tidak pernah menggerutu kepada Tuhan. “Tuhan tidak pernah salah atas keputusanNya, juga atas diri saya. Tubuh ini adalah milikNya, entah mau ambil sebagian atau seluruhnya, itu adalah hakNya,” ujar Agust lagi tenang.

Kata-kata Agust bukanlah ungkapan kosong. Baik sebelum kecelakaan maupun setelahnya, Agust memang seorang petarung. Barang kali tidak terbayang bagi orang lain, seorang sarjana dari universitas ternama yang berpredikat sebagai guru di Kota Waingapu—sebelum kecelakaan—rela berkeliling kota untuk berjualan ikan dengan motor WIN miliknya. “Kalau saya diam saja sementara gaji sebagai guru tidak seberapa, siapa yang tahu-tahu datang memenuhi kebutuhan saya dan keluarga? Tidak ada pilihan lain, harus berjuang,” ujarnya kepada TEMPUSDEI.ID yang menemuinya di Waingapu, Sumba Timur, NTT.

BACA JUGA:  Imam Katolik Ini Mengaku Mencintai Islam dalam Surat Terbukanya kepada MUI, Apa Alasannya?

Setelah kehilangan satu kaki, semangat Agust tidak berkurang. Bahkan untuk ukuran orang disable sepertinya, semangat yang ia tunjukkan mengundang decak kagum. Selain tetap menjalankan tugasnya sebagai guru di SMA Anda Luri Waingapu, dia juga memelihara beberapa ekor babi, dan tentu saja harus membuat kandang babi, memberi makan, dll. Bahkan ketika atap kandang babinya rusak, dengan susah payah ia harus naik ke atap untuk memperbaiki atap itu. Maklum ketiga anaknya adalah perempuan. “Beruntung, saya tidak pernah jatuh. Ama Bokul di atas tetap menjaga saya,” ujarnya sambil tertawa.

Tidak hanya itu, ia juga tetap melayani permintaan berbagai pihak yang memintanya untuk memandu acara mereka sebagai MC seperti pernikahan, peresmian kantor, dan lain-lain.

Mencinta Pekerjaan

Agust dan Sice istrinya

Apa kunci utama sehingga penulis buku antologi puisi Gemericik Ilalang Padang Sabana ini begitu teguh dengan prinsipnya? Baginya, bekerja dalam bidang apa pun harus dipandang sebagai berkat dan panggilan hidup. “Kesadaran ini harus ada dulu. Inilah yang membuat saya bersyukur di tengah berbagai kenyataan hidup. Dan rasa syukur ini pula yang menggerakkan energi dalam diri saya untuk berusaha. Saya alami bahwa Tuhan dengan caraNya yang sangat kreatif menuntun saya dan keluarga melakukan hal-hal terbaik sehingga sampai saat ini masih baik-baik saja,” ujarnya penuh takzim.

Sebagai guru, dia mengaku sangat mencintai profesinya. Konsekuensinya dia berusaha melakukan tugas-tugasnya seakan-akan tidak peduli dengan kenyataan dari pilihannya. “Cinta terhadap profesi itu merupakan energi tersendiri,” tambah pria yang lulus seleksi CPNS pada masa mudanya ini. Ketika itu ia ditempatkan di Pulau Sabu, namun karena ingin mengabdi di Sumba, dia mengabaikan penempatan itu. Konsekuensi dari keputusannya ingin mengabdi di Sumba, dia harus menjadi guru honorer di Yayasan Persekolahan Nusa Cendana (Yapnusda).

BACA JUGA:  Lawan Virus Korona dan Higieniskan Hotel, Pengelola Hotel Tentrem Pasang Sinar Ultra Violet C

Barangkali pepatah lama Semua orang bisa menjadi guru, tapi tidak semua orang berhati guru, cocok disematkan pada pria humoris ini.

Karena kecintaan itu, penghasilan yang jauh dari standar yang dia dapatkan dari yayasan tidak menyebabkan dia mengeluh. Dia menjalani hidup secara prihatin, sambil berusaha tidak kehilangan kegembiraan dan kebahagiaan. “Kecilnya pendapatan bukan karena ketidakmampuan Yayasan dalam mengelola keuangan, tetapi memang tidak ada uang yang harus dikelola. Lantas, dengan kondisi Yayasan yang semacam itu kita mengeluh, ya ini benar-benar kebodohan,” ujarnya tegas.

Semakin lama, ia justru semakin mampu menerjemahkan profesi guru sebagai panggilan hidupnya. “Adakalanya saat akan mengakhiri jam pelajaran di sekolah, muncul perasaan risau bagaimana menjawab kebutuhan mereka yang menanti di rumah,” kenangnya.

Kini, sudah sembilan bulan Agust purba bakti atau pensiun. Saat ditanya kesannya selama 35 tahun mengabdi sebagai guru di SMA Katolik Anda Luri, ia mengaku bersyukur, namun ada juga ungkapan minor yang keluar dari bibirnya. Ia mengaku mengalami bahwa seringkali prinsip-prinsip dasar kekatolikan hanya terasa indah ketika disampaikan dari mimbar, sementara banyak kali tidak sampai kepada para pegawai atau yang bekerja di lingkungan sekolah Katolik.

Dan satu lagi yang menurutnya tidak akan terlupakan adalah saat saat terakhir menjelang dia pensiun. Setelah dirinya mengemasi semua barang milik pribadinya dan mengembalikan buku-buku sekolah, dia langsung berhenti begitu saja dari aktifitas mengajar tanpa adanya Surat Keputusan (SK) Pensiun. SK Pensiun baru didapatkannya setelah meminta kepada Yayasan sebagai dasar hukum dari perubahan identitas sesuai yang diminta pihak Dukcapil. “Yah… Barangkali inilah konsekuensi dari prinsip ‘bekerjalah sekuat tenaga sampai tak ada lagi orang lain yang menghiraukanmu’,” tandasnya mengakhiri obrolan pagi itu.

BACA JUGA:  Jalan-jalan Tikus Menjadi Wartawan dalam Kegembiraan, Harapan dan Kecemasan

SOLEMAN MOTO/EDL

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here