Menegur dan Menasihati Saudara karena Cinta

211
Pater Remmy Sila, CSsR

Oleh Pater Remmy Sila, CSsR, Superior Misi Samoa Kongregasi Redemptoris Provinsi Oceania

Kita bisa menegur dalam aneka cara yang menyejukkan.

SATU hal yang sangat sulit  dan berat adalah saling menegur dan menasihati sebagai saudara, baik itu dalam keluarga, komunitas maupun dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat. Hal ini antara lain “didukung” oleh pandangan dunia modern yang sangat menekankan hak asasi dan kebebasan pribadi sebagai manusia.

Apakah memang benar demikian? Sebagai orang beriman khususnya sebagai orang Kristen, kita mempunyai pandangan yang jelas berbeda sebagaimana terdapat dalam bacaan-bacaan Kitab Suci.

Nabi Yehezkiel: “…jika engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut tanggungjawab atas nyawanya daripadamu….” (Yeh 33: 8).

Bagaimana kita harus melakukannya? Tidak ada petunjuk praktis memang. Tetapi yang jelas kita tidak dianjurkan untuk memaklumkan perang. Kita hendaknya bijaksana dalam menemukan cara dan kata-kata yang tepat agar teguran dan nasihat kita menyentuh hati  sehingga didengarkan dan bisa membawa pembaruan dan perubahan cara hidup bagi orang tersebut. Sekali lagi, hal ini tidak gampang dilakukan.

Dalam Surat Santo Paulus kepada umat di Roma, kita diingatkan bahwa satu-satunya tugas kita adalah mencintai. Ketika kita mencintai orang lain, kita harus berani mengatakan yang sebenarnya. Karena kita mencintai orang lain, maka kita harus bersuara ketika orang yang kita cintai itu melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri atau orang lain.

Ketika kita mencintai orang lain, kita juga belajar bagaimana mendengarkan, menegur, menasihati dan juga bagaimana menerima teguran dan nasihat dari orang lain.

Sedangkan Injil Matius, mengulangi nasihat Nabi Yehezkiel. Namun di sini Yesus  menegaskan bahwa dalam menasihati sesama saudara, pertama-tama harus dilakukan pendekatan pribadi. Dan  jika orang tersebut  tidak mau mendengarkan kita, maka baiklah kita  melibatkan pihak kedua atau ketiga  untuk ikut membantu memberi kesaksian tentang kebenaran yang kita sampaikan. Tetapi apabila setelah berbagai cara ditempuh dan orang tersebut tetap tidak mau mendengarkan, maka orang tersebut harus dianggap sebagai orang yang tidak mengenal Allah dan boleh ditinggalkan.

BACA JUGA:  MARAN ATHA

Tetapi kembali kepada Surat Santo Paulus tersebut, semuanya kita lakukan karena cinta. Cinta bukanlah sesuatu yang membuat kita selalu merasa nyaman. Ada hal-hal tertentu dan saat-saat tertenu di mana kita dituntut untuk mencintai dengan harga yang mahal. Keberanian untuk menegur dan menasihati saudara kita yang melakukan kesalahan apalagi kejahatan, mungkin akan menyebabkan kita dibenci atau kehilangan persahabatan. Tetapi sikap diam dan masa bodoh bukanlah jalan keluar dan bukanlah bentuk cinta kepada sesama yang yang melakukan kesalahan.

Cinta mewajibkan kita untuk menyelamatkan saudara kita yang melakukan kesalahan atau kejahatan dan sekaligus menyelamat mereka yang dirugikan atau terluka oleh tindakan saudara kita yang “tersesat” atau salah jalan. Harus diingat, domba-domba yang tersesat hendaknya dibimbing untuk kembali ke kandang kawanan domba, bukan dengan bahasa kekuasaan atau ancaman, tetapi dengan bahasa kasih. Tuhan memberkati.

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here