Misa Tatap Muka Pertama di Gereja Santa Clara Bekasi pada Masa Tatanan Baru

593
Suasana Misa perdana pada masa tatanan baru di Gereja Santa Clara. Foto: KOMSOS Santa Clara/Iyo.
Jumlah umat yang hadir dibatasi dan melalui protokol yang ketat. Foto: KOMSOS Santa Clara/Iyo

Bekasi, Tempusdei.id – Untuk pertama kalinya, pada 2 Agusutus 2020, Gereja Santa Clara mengadakan Misa tatap muka di gereja. Misa terakhir akibat pamdemik Covid-19 diadakan di gereja ini pada 15 Maret 2020.

Meski gereja telah dibuka kembali, namun umat yang dibolehkan hadir dalam Misa masih dibatasi. Yang diperkenankan hadir pun harus melewati protokol yang sangat ketat.

Seperti informasi tempusdei.id dapatkan, dewan paroki harian mengatur sedemikian rupa agar umat yang mengikuti Misa di gereja adalah mereka yang benar-benar sehat dan dalam jumlah yang terbatas. Jarak batas aman juga diatur dengan baik. Untuk itu, setiap minggu, Misa hanya diadakan satu kali dan dihadiri oleh umat dari dua wilayah dan harus mendaftarkan diri ke ketua lingkungan.

Tidak cukup sampai di sini. Yang boleh menghadiri Misa adalah mereka yang berusia 18-59 tahun dan dalam keadaan sehat. Yang boleh ikut serta dalam Misa hanya umat dari paroki Santa Clara berdasarkan data dalam BIDUK (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan) di paroki.

Setiap umat yang datang ke gereja diperiksa suhu tubuhnya di gerbang pekarangan gereja lalu diarahkan untuk mencuci tangan pada tempat yang disiapkan dengan pengawasan petugas. Umat juga diwajibkan membawa handsanitizer untuk membersihkan tangan saat akan menyambut komuni walaupun saat masuk gerbang pekarangan dan saat masuk gereja sudah mencuci tangan dengan sabun dan dengan handsanitizer. 

Para petugas liturgi termasuk para imam juga menjalani pemeriksaan dan menjalani protokol yang sama. “Kita ingin patuh sungguh-sungguh demi keselamatan bersama. Dengan ini, kita juga hendak membantu Pemerintah mengatasi Covid-19 ini,” ujar Romo Ray.

Bersyukur dan Tetap Waspada

Dalam Misa perdana pada masa tatanan baru itu, Pastor Paroki Romo Raymundus Sianipar, OFMCap mengajak umat untuk bersyukur. Namun ia juga mengimbau umat untuk tetap waspada dan menuruti seluruh protokol yang ada dengan baik.

Berdasarkan bacaan Injil, Romo Ray dalam khotbahnya mengajak umatnya untuk tidak segan-segan berkorban bagi orang lain. Yesus yang sebenarnya ingin berkabung akibat kematian Yohanes Pembaptis, jelas Romo Ray, harus mengorbankan rencanaNya, lalu melayani orang lain yang membuntutiNya karena terpanggil melayani. “Melayani mereka mendesak untuk Yesus lakukan daripada menyendiri dan beristirahat atau berkabung. Kadang ada yang menyela tugas dan kegembiraan kita, tapi itu bisa jadi adalah cara Tuhan memakai kita. Kadang dalam hidup ini memang ada interupsi untuk rahmat Tuhan,” kata Romo Ray mencoba mengonkretkan makna karya Yesus tersebut.

Romo Ray juga mengajak umat selalu memberi ruang bagi kuasa Tuhan untuk bekerja. Kesediaan memberi ruang itu tambah Romo Ray, membawa rahmat sehingga kita tidak pernah kekurangan.

Lantas, apa makna perbanyakan roti yang Yesus lakukan dan roti yang sisa sebanyak 12 bakul ? “Perbanyakan roti mengingatkan kita pada Ekaristi penebusan Tuhan. Tuhan ingin mengubah diri kita menjadi komunitas yang peka untuk kepentingan bersama dan demi kebaikan orang lain.”

Lalu roti yang sisa itu dikemanakan? “Pesan soal 12 bakul itu, orang banyak itu kan sudah kenyang. Di luar mereka ada banyak orang yang belum dapat, dan roti itu dibagikan kepada orang lain itu. Ini menunjukkan bahwa Tuhan sungguh hadir di tengah umatNya, dan menjadi sumber kekuatan kita. Kita pun perlu berbagi dengan sesama. Ekaristi mendorong kita untuk peka pada orang lain, dan menjadi sakramen kasih Allah bagi sesama,” pungkas Romo Ray. (tD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here