IN MEMORIAM Mikael Umbu Zasa: Di Leci Membangun Persaudaraan Sejati (3)

234
Mikael Umbu Zasa, foto: Billy Emanuel
Didi Nong Sae

Catatan Drs. G.F. Didinong Say, Sahabat dan teman perjuangan mendiang.

Kekuatan Mikael Umbu Zasa dalam merangkul sesama basodara Flobamora Jabodetabek terletak dalam pendekatan  melalui giat seni budaya Flobamora. Pertama-tama, berdasarkan karya dan perjuangannya, Umbu Zasa harus diakui merupakan representasi Sumba dalam berbagai kegiatan seni budaya Flobamora di Jakarta.

Umbu Zasa bersama bersama Samuel Lobo, Rudi Arifin dan lain-lain pernah tampil membawakan tarian Kataga di Istana Negara semasa Soeharto berkuasa.

Umbu juga terlibat aktif baik sebagai penampil maupun sebagai narasumber dalam kegiatan pentas seni dan seminar budaya yang diselenggarakan di Jakarta oleh Go East Institute pimpinan Ignas Kleden pada tahun 2000.

Atas undangan Konsulat Jenderal  Indonesia di Perth Australia yang dipimpin Dr. Alo Madja, pada tahun 2007, Umbu bersama Carel Da’e dan lain-lain tergabung dalam delegasi eksebisi seni budaya NTT di Australia Barat selama beberapa minggu dengan biaya sendiri.

Selain membawakan aneka tarian Sumba, Umbu Zasa juga selalu memanfaatkan setiap momen untuk memperkenalkan dan mempromosikan hasil karya seni budaya Sumba lainnya, terutama kain tenun ikat Sumba. Tanpa kenal lelah ia datang ke berbagai pihak kolektor tenun ikat Indonesia seperti ibu Yohanna Patiasina Seda untuk menawarkan dan memperkenalkan berbagai motif tenun Sumba yang eksotik.

Demi upaya pelestarikan dan promosi seni budaya NTT di Jakarta terutama dalam hal seni tari, Mikael Umbu Zasa mendirikan Sanggar Flobamora. Entah sudah berapa banyak pentas di Jabodetabek yang  ditampilkan oleh Sanggar Flobamora untuk mementaskan berbagai jenis tarian NTT seperti Kataga, Woleka, Hegong, Ja’i, Caci, Hedung, Tebe, Likurai, Bidu dan lain lain.

Untuk kegiatan seni budaya NTT, Umbu dengan semangat persaudaraan Flobamora tidak segan berkolaborasi dengan seniman NTT di Ibukota  seperti Ryan Pono, Evy Manafe, Paskalis Baut, Ronny Amal, Carel Da’e, Pian da Gomez, Adof Reku, Boy Clemens, Wens Kopong,  Ivan Nestorman, Thobby Ndiwa, Herci Noning, Eduardus Nabunome, Roy T Seran, dan masih banyak lagi.

Beberapa pentas Sanggar Flobamora di Jakarta yang terakhir yang patut dicatat:

  1. Penampilan berbagai tarian Sumba dari Sanggar Flobamora dalam acara Pisah Sambut Uskup Maumere yang diselenggarakan bersama oleh KBM Jaya Maumere, IKBNJ Ngada, dan IKBS Jakarta, di Anjungan NTT Taman Mini Indonesia Indah, November 2018. Sebuah acara sosial budaya religius meriah yang diikuti ribuan diaspora Maumere, Ngada, dan Sumba di Jakarta. Acara sarat budaya, penuh kekeluargaan, serta bernuansa harmoni toleransi ekumenis ini dihadiri Wakil Gubernur NTT, Joseph Nae Soi, Bupati Sikka Robby, Anggota DPR RI Melchias Mekeng, Komjenpol (purn.) Gorries Mere, Tokoh Muda NTT Erry Seda, Andi Gani Nuwa Wea, Joseph Djakababa, para tokoh dan sesepuh diaspora Flobamora di Jakarta lainnya.
  2. Penampilan tarian Kataga oleh Sanggar Flobamora Jakarta pada acara Rakernas PDIP Jelang Pilpres dan Pileg di JIEXPO Kemayoran, Januari 2019 yang lalu. Penampilan spektakuler yang mendapatkan applaus khusus dari Megawati Soekarnoputri.
  3. Untuk menyambut pelantikan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Maruf Amin, Oktober 2019 lalu, Andi Gani Nuwa Wea, Ketua Panitia Penyambutan Nasional Relawan JKW-MA secara khusus menugaskan Mikael Umbu Zasa untuk mempersiapkan beberapa tarian NTT yaitu Ja’i, Hegong, Bidu, dan Kataga untuk tampil di Medan Merdeka Barat. Maestro Umbu Zasa segera mempersiapkan tim tari anak anak Sanggar Flobamora sebaik mungkin agar dapat mengantar dan mengawal Presiden dan Wakil Presiden masuk ke Istana Negara dalam rampak tari dan gegap gempita gong gendang tetabuhan khas Flobamora. Dahsyat!
BACA JUGA:  Nama Almarhum Pater Hermann Berasal dari Orang Kudus Jerman Beato Herman Joseph (6)

Leci yang Penuh Romantika Kehidupan

Umbu Zasa saat Paskah Bersama IKBS di Bumi Perkemahan Cibubur 2017. Foto: Billy Emanuel

Lahan seluas 25 hektar di kawasan Cibubur Depok ini adalah sebidang tanah negara eks verponding 5658 atas nama de Meyer. Sudah lebih dari 20 tahun, lahan ini digarap dan dihuni oleh sekitar 200 KK warga asal Flobamora (Flores, Sumba, Timor dll). Mereka ini telah membangun sebuah komunitas paguyuban penggarap di atas lahan tersebut. Mereka hidup dalam semangat persaudaraan Flobamora yang kuat. Memasuki kompleks lahan tersebut, sungguh terasa suasana kehidupan seperti di NTT. Lahan digarap dan diolah perlahan-lahan agar semakin layak. Pemimpin paguyuban yang kerap disebut juga panglima oleh segenap anggota komunitas adalah Mikael Umbu Zasa.

Sebagai warga negara yang sadar hukum, Umbu Zasa dan pengurus paguyuban telah berjuang penuh pengorbanan untuk memperoleh keabsahan keberadaan penggarap di atas lahan tersebut. Umbu datang menemui ahli waris de Meyer, pihak-pihak pemerintahan setempat maupun instansi pertanahan terkait untuk mendapatkan keterangan yang mengukuhkan keberadaan para penggarap di atas lahan tersebut dengan surat dan dokumen.  Warga sekitar lahan yang selama ini selalu hidup berdampingan harmonis dengan komunitas penggarap Leci juga memberikan dukungan.

Namun keberadaan para penggarap di Leci bukanlah tanpa gangguan. Terjadi berkali-kali teror, intimidasi, dan provokasi dari pihak lain yang tergiur dengan lahan yang mendadak bernilai premium tersebut. Spekulan ataupun mafia tanah dengan tanpa alas hak yang jelas suka menggunakan berbagai kekuatan massa bahkan oknum aparat untuk menggusur para penggarap dari Leci.  Semua gangguan dan modus yang mengganggu selama ini selalu dihadapi Umbu dan segenap komunitas dengan berani, namun tetap kepala dingin. Pernah juga terjadi benturan fisik yang menimbulkan korban sehingga beberapa anggota komunitas seperti Innocentius Walang, Emel da Gomez sampai diproses dan ditahan pihak kepolisian. Namun Umbu dan kawan-kawan penggarap Leci bergeming.

BACA JUGA:  dr. Euginia Natalia Bato, Dokter Merangkap Supir Ambulans

Sekitar tahun 2016, datang pihak investor yang tertarik untuk membebaskan lahan Leci tersebut. Para penggarap bersetuju dengan syarat hak garap mereka diakui dan dibayar sepantasnya. Kesepakatan (MOU) para pihak dibuat di atas meterai, biaya tanda jadi diserahkan. Dalam perjalanan waktu, pelunasan pembayaran hak garap para penggarap Leci menjadi tidak jelas . Terkesan jelas bahwa pihak investor wanprestasi, entah apa alasan. Namun yang terjadi justru desain kriminalisasi terhadap Mikael Umbu Zasa, ketua Paguyuban Penggarap Lahan EV 5658. Ia dilaporkan ke polisi telah melakukan penyerobotan atas lahan tersebut. Polisi memanggil Umbu untuk diperiksa dan selanjutnya ditahan di Polda Metro Jaya selama 23 hari tanpa didukung oleh diskresi dan bukti yang cukup. Penyidik hanya berkilah bahwa penahanan Umbu Zasa adalah perintah atasan.

Warga Leci gelisah, namun tak gentar. Anak-anak Leci seperti  Domi, Tonce, Sondangi  dan lain-lain segera menghubungi  pengacara dan senior senior Flobamora. Marsel Abi dan Tobby Ndiwa dengan lantang melakukan protes keras kepada jajaran penyidik Polda Metro. Jou Hasyim mengirim Muhamad Hasyim ke Polda untuk mendesak pembebasan Umbu. Akhirnya Marsel Wawo, Petrus Selestinus, Laurens Mere, Willy Nuwa Wea dan Didi Say mulai melakukan lobby dan approach tingkat tinggi demi pembebasan penahanan Umbu Zasa. Beberapa tokoh penting NTT di Jakarta dihubungi.

Hari ke 23 penahanan, Andi Gani menekan polisi agar membebaskan Umbu Zasa yang ditahan tanpa dasar yang kuat. Tak tahan dengan tekanan Andi Gani, polisi akhirnya membebaskan Umbu Zasa.

Sebelumnya, dalam tahap pemeriksaan maraton 2 hari 2 malam di Polda Metro Jaya, Umbu Zasa dikondisikan oleh penyidik untuk mau menandatangani BAP penyerobotan. Kepadanya dijanjikan akan dicarikan solusi hukum dan keuangan yang menguntungkan. Mendengar itu, Umbu Zasa membuka kancing baju dan menantang balik penyidik agar menembak saja dadanya daripada mengikuti skenario tersebut.

BACA JUGA:  Pietro Sarubbi, Pemeran Barabas dalam The Passion of the Christ, Alami Pertobatan Mendalam

Pada hari ke-21 penahanan, Umbu Zasa dengan berat hati menceriterakan kerinduannya pada keluarga yang ditinggalkan. Saat itu, Lenny sang istri sedang dalam perawatan kanker payudara. Stress dan depresi mulai mendera Umbu Zasa.  Ia sempat ceriterakan bahwa di tahanan ada pihak yang datang menawarkan sejumlah uang agar dirinya  bersedia ‘out’ dari urusan Leci. Namun dengan tegas Umbu Sasa menolak. Semua itu karena kecintaannya yang sangat besar kepada warga Leci.

Urusan Leci belum selesai dan masih butuh waktu panjang. Namun warga Leci harus tetap berjuang mempertahankan haknya. Percaya diri, siap berjuang dengan kompak dan siap untuk berkorban. Jangan sia-sia kan air mata dan pengorbanan Mikael Umbu Zasa. Ada Paskalis Baut yang siap membela, ada banyak tokoh Sumba dan senior senior Flobamora Jabodetabek yang bersimpati dan yang terutama ada nilai dan semangat perjuangan yang telah ditanamkan oleh Mikael Umbu Zasa. (Bersambung)

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here