Tue. Nov 3rd, 2026
Bruder Daniel

Biarawan Daniele Natale adalah putra rohani Santo Padre Pio. Setelah sempat dinyatakan meninggal dunia, ia mengaku mengalami api penyucian selama tiga jam. Namun, ia kemudian diizinkan kembali ke dunia untuk menjalani hidup selama 42 tahun lagi.

Pada 24 Oktober, seorang putra rohani Santo Padre Pio lainnya diakui sebagai “hamba Allah yang mulia” (venerable) oleh Gereja Katolik. Ia adalah Bruder Daniele Natale, yang semasa hidupnya dikenal sangat dekat dengan Padre Pio, seorang mistikus ternama.

Keduanya lahir di kota yang sama, San Giovanni Rotondo, Italia. Mereka kemudian menjalani kehidupan religius dalam ordo Kapusin setelah Daniele bergabung sebagai bruder.

Gelar “hamba Allah yang mulia” menunjukkan bahwa Gereja telah mengakui kehidupan dan kebajikan heroik Bruder Daniele. Dengan pengakuan ini, ia resmi menjadi kandidat untuk beatifikasi dan kanonisasi.

Tahap selanjutnya adalah pengakuan atas mukjizat yang terjadi melalui perantaraannya. Jika disetujui, ia dapat dinyatakan sebagai “beato” (yang berbahagia), sebelum akhirnya dikanonisasi sebagai orang kudus.

Melihat kesaksian tentang kehidupan dan pengalaman rohaninya, perjalanan menuju pengakuan kekudusan ini menjadi sesuatu yang menarik untuk disimak.

Tiga Jam di Api Penyucian

Pada 1952, Bruder Daniele didiagnosis menderita kanker limpa. Ia kemudian dirujuk kepada seorang dokter di Roma. Setelah memeriksanya, dokter tersebut semula menolak melakukan operasi karena menilai penyakitnya sudah terlalu parah dan peluang hidupnya sangat kecil.

Namun, setelah mempertimbangkan kondisinya, tim dokter akhirnya sepakat untuk melakukan operasi. Seusai operasi, Bruder Daniele mengalami koma dan dinyatakan meninggal dunia.

Peristiwa yang kemudian terjadi terdengar seperti adegan dalam sebuah film.

Anna Gębalska-Berekets mengisahkan pengalaman luar biasa Bruder Daniele dalam sebuah artikel di Aleteia.

Kerabatnya berkumpul mengelilingi tubuhnya untuk berdoa. Namun, tiga jam kemudian, sang biarawan tiba-tiba menyingkap kain penutup tubuhnya, bangkit, dan mulai berbicara.

Ia bercerita bahwa setelah meninggal, dirinya berdiri di hadapan Tuhan. Ia melihat Tuhan sebagai Bapa yang penuh kasih, bukan sebagai hakim yang hanya menunggu untuk mengadili dan mempertanggungjawabkan segala dosa yang pernah dilakukannya selama hidup di dunia.

Bruder Daniele menyadari bahwa Sang Pencipta senantiasa memeliharanya setiap hari, meskipun selama hidupnya ia tidak selalu menanggapi kasih tersebut.

Menurut kesaksiannya, biarawan Kapusin itu kemudian harus menjalani tiga jam di api penyucian. Penderitaan yang dialaminya begitu dahsyat, terutama pada bagian-bagian indra tubuh yang paling sering digunakannya untuk menyinggung Tuhan.

Namun, penderitaan yang paling berat adalah perasaan terpisah dari Sang Pencipta.

Dalam pengalaman tersebut, Bruder Daniele juga mengaku melihat Santa Perawan Maria. Ia memohon kepada Bunda Maria agar menjadi perantara di hadapan Allah Bapa dan memberinya kesempatan untuk kembali ke dunia.

Tiba-tiba, Padre Pio muncul di samping Maria. Ia ikut memohon kepada Bunda Allah agar meringankan penderitaan sahabatnya itu. Akhirnya, Bruder Daniele memperoleh pengampunan dan diizinkan kembali menjalani kehidupan di dunia.

Pengalaman tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia merasa mendapat misi khusus untuk membantu mempertobatkan hati sesamanya setelah kembali ke dunia.

Bruder Daniele kemudian menjalani hidup selama 42 tahun lagi sebelum wafat pada 1994.

Selama sisa hidupnya, ia mengorganisasi Kelompok-Kelompok Doa dan mengabdikan diri pada pelayanan rohani. Ia secara khusus memilih untuk tidak ditahbiskan menjadi imam. Karena itu, ia menjalankan berbagai tugas di biara, antara lain sebagai juru masak, petugas sakristi, dan penjaga pintu.

Bruder Daniele dikenal luas karena kesalehan dan kehidupan rohaninya. Ia melayani orang-orang miskin dan mereka yang menderita, sekaligus mendampingi banyak orang dalam perjalanan iman mereka. (Aleteia)

Related Post