
Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR
“Hai saudara, bagaimana engkau masuk kemari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?” (Mat. 22:12)
Menerima undangan Allah tidak cukup. Kita juga harus mempersiapkan diri untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Inilah pesan penting perumpamaan Yesus tentang perjamuan kawin dalam Injil Matius.
Pakaian pesta yang dikenakan para tamu bukan sekadar soal penampilan luar, melainkan lambang kesiapan seseorang untuk menghormati undangan dan mengambil bagian dalam sukacita Kerajaan Allah.
Ironinya, ketika para tamu yang semula diundang menolak datang, sang raja memerintahkan para hambanya untuk mengundang siapa saja yang mereka jumpai di jalanan, baik orang jahat maupun orang baik.
Ruang perjamuan pun dipenuhi tamu. Namun, sang raja mendapati seorang tamu tidak mengenakan pakaian pesta. Ia pun menegurnya dan memerintahkan agar orang itu dikeluarkan dari perjamuan.
Mengapa sang raja begitu keras terhadap seorang tamu yang mungkin berasal dari kalangan miskin?
Dalam penafsiran yang lazim atas perumpamaan ini, pakaian pesta dipandang sebagai tanda penghormatan terhadap tuan rumah dan kesediaan untuk mengikuti tata cara perjamuan.
Ada pula tradisi penafsiran yang menyebut kemungkinan tuan rumah menyediakan pakaian bagi para tamu. Namun, Injil tidak secara eksplisit menjelaskan bahwa pakaian tersebut disediakan oleh sang raja.
Karena itu, inti perumpamaan ini bukan terletak pada asal pakaian, melainkan pada ketidaksiapan tamu tersebut menghadapi undangan yang telah diterimanya.
Dari sini kita dapat memahami bahwa undangan Allah merupakan anugerah, tetapi anugerah itu menuntut tanggapan nyata.
Allah membuka pintu Kerajaan-Nya bagi siapa saja. Akan tetapi, mereka yang menerima undangan-Nya juga dipanggil untuk menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.
Dalam konteks perumpamaan tersebut, penolakan sebagian orang Israel terhadap undangan Allah membuka jalan bagi orang-orang lain untuk masuk ke dalam perjamuan.
Namun, keterbukaan undangan itu tidak berarti bahwa seseorang dapat menerima panggilan Allah tanpa bersedia mengubah hidupnya.
Kata Gereja berasal dari bahasa Yunani ekklesia, yang menunjuk pada persekutuan orang-orang yang dipanggil atau dihimpun.
Menjadi bagian dari Gereja berarti menerima panggilan untuk mengikuti Kristus.
Namun, keanggotaan dalam Gereja dan kehadiran dalam perayaan Ekaristi tidak dengan sendirinya menjamin bahwa seseorang telah hidup sesuai dengan Injil.
Lantas, pakaian pesta seperti apakah yang harus kita kenakan? Rasul Paulus memberikan jawabannya dengan jelas: “Sebagai orang-orang pilihan Allah, yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Dan di atas semuanya itu, kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kol. 3:12,14).
Inilah pakaian pesta yang sesungguhnya bagi orang beriman. Belas kasih, kemurahan hati, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan kasih harus mewarnai seluruh kehidupan kita.
Karena itu, mengenakan pakaian yang pantas ketika mengikuti perayaan Ekaristi merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Allah.
Namun, kepantasan itu tidak boleh berhenti pada penampilan luar. Pakaian yang rapi seharusnya berjalan seiring dengan hati yang bersih dan perilaku yang mencerminkan kasih Kristus. Tidaklah berarti penampilan luar menjadi tidak penting, tetapi penampilan luar saja tidak cukup.
Ada sebuah kisah yang mengilustrasikan hal ini. Sebuah keluarga dengan 12 anak baru saja pindah ke sebuah kota kecil. Mereka hidup dalam kemiskinan.
Mengetahui keadaan keluarga itu, anggota sebuah gereja Protestan berinisiatif membantu mereka. Mereka membelikan pakaian dan makanan secukupnya, sekaligus mengundang keluarga tersebut untuk menghadiri ibadat pada hari Minggu berikutnya.
Keluarga itu menerima bantuan tersebut dengan penuh syukur. Namun, pada hari Minggu yang dijanjikan, mereka tidak muncul di gereja. Anggota jemaat yang penasaran kemudian mendatangi rumah mereka. Ternyata, keluarga itu baru saja pulang dari gereja lain dengan mengenakan pakaian baru.
Pendeta yang ikut berkunjung bertanya, “Maaf, bolehkah kami tahu mengapa kalian tidak datang menghadiri undangan kami?”
Sang ayah menjawab, “Kami bangun pagi-pagi, mandi, lalu mengenakan pakaian baru ini. Kami merasa penampilan kami begitu bagus dan elegan. Karena itu, kami memutuskan pergi mengikuti misa di Gereja Katolik.”
Kisah ini mengundang senyum. Namun, pesan perumpamaan Yesus jauh lebih dalam daripada sekadar mengenakan pakaian terbaik ketika pergi ke gereja.
Pakaian dapat membuat seseorang merasa pantas berada di rumah ibadah, tetapi pakaian tidak dengan sendirinya mengubah hati dan perilakunya.
Allah tidak hanya mengundang kita untuk datang, tetapi juga memanggil kita untuk berubah.
Kita boleh mengenakan pakaian terbaik ketika mengikuti Ekaristi. Namun, yang jauh lebih penting ialah mengenakan belas kasih ketika berjumpa dengan sesama, kerendahan hati ketika berhadapan dengan orang lain, kesabaran ketika menghadapi kesulitan, dan kasih dalam setiap tindakan.
Jangan sampai kita rajin menghadiri perjamuan Tuhan, tetapi kehidupan kita justru bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan-Nya.
Sebab, menerima undangan adalah awal perjalanan iman. Mengenakan pakaian pesta berarti membiarkan diri diubah oleh kasih Allah dan mewujudkan perubahan itu dalam kehidupan sehari-hari.

