
Oleh Febry Silaban, Munsyi dan penulis buku Empat Huruf Suci YHWH
Ada sebuah nasihat kehidupan yang sederhana, menggelitik, tetapi sarat makna. Nasihat ini disampaikan melalui ungkapan Latin:
Numquam cum porco conluctare. Ambo foedi eritis, sed porcus gaudebit. Artinya: “Jangan pernah bergulat dengan seekor babi. Kalian berdua akan menjadi kotor, tetapi si babi justru akan menikmatinya!”
Seorang anak laki-laki tampak kesal. Wajah dan pakaiannya berlumuran lumpur. Sementara itu, seekor babi justru tertawa terbahak-bahak sambil berguling-guling dengan riang di kubangan lumpur.
Apa yang sebenarnya terjadi? Rupanya, si anak berusaha mengalahkan babi dengan bergulat di dalam lumpur. Ia mengerahkan tenaga, berjuang mati-matian, dan berharap bisa memenangkan pertarungan.
Namun, semakin keras ia berusaha, semakin kotor pula dirinya. Sebaliknya, si babi justru semakin bahagia!
Si anak mengira sedang bertarung. Si babi mengira sedang diajak bermain! Di sinilah letak kelucuan sekaligus kebijaksanaan ungkapan tersebut. Keduanya sama-sama kotor, tetapi hanya satu yang menikmati pertarungan!
Ketika Perdebatan Menjadi Kubangan Kotor
Ungkapan ini sebenarnya merupakan metafora tentang bagaimana kita menghadapi orang yang gemar bertengkar, memprovokasi, atau memperdebatkan sesuatu tanpa niat mencari kebenaran.
Dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di media sosial dan grup WhatsApp, kita mungkin pernah menjumpai situasi semacam ini.
Seseorang menyampaikan pendapat dengan argumentasi yang masuk akal. Namun, alih-alih menanggapinya dengan argumentasi yang setara, lawan bicaranya justru melontarkan ejekan, serangan pribadi, atau komentar yang sengaja memancing emosi.
Ketika provokasi itu dibalas, perdebatan pun semakin panas. Argumentasi berubah menjadi saling sindir. Diskusi yang semula bertujuan mencari kebenaran akhirnya berubah menjadi ajang saling menjatuhkan.
Tanpa disadari, kita telah masuk ke dalam kubangan lumpur yang sama!
Dan yang paling ironis, orang yang sengaja memancing keributan justru merasa menang karena berhasil menyeret orang lain ke dalam permainannya.
Ia tidak membutuhkan kebenaran untuk merasa menang. Cukup melihat lawan bicaranya kehilangan kesabaran!
Namun, nasihat ini bukan berarti kita harus menghindari setiap perdebatan. Perbedaan pendapat justru diperlukan untuk menguji gagasan, memperluas wawasan, dan menemukan kebenaran.
Yang perlu kita bedakan adalah diskusi yang bertujuan mencari kebenaran dengan pertengkaran yang sekadar mencari kemenangan.
Orang bijaksana tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, dan kapan sebaiknya berhenti.
Sedikt Belajar Bahasa Latin
– Numquam = Tidak pernah; dalam kalimat larangan berarti jangan pernah.
– Cum porco = Dengan seekor babi.
– Conluctare = Bergulatlah atau bertarunglah. Bentuk ini merupakan imperatif dari kata kerja deponen conluctor.
– Ambo = Kalian berdua.
– Foedi = Kotor, buruk, atau menjijikkan.
– Eritis = Kalian akan menjadi.
– Sed = Tetapi.
– Porcus = Babi.
– Gaudebit = Akan bergembira atau bersukacita.
Ada tiga kata yang menarik untuk diperhatikan. Pertama, conluctare, yang berkaitan dengan kata luctari, berarti bergulat. Pergulatan fisik dalam ilustrasi ini menjadi simbol pertengkaran verbal yang tidak sehat.
Kedua, foedi, bentuk jamak dari foedus, yang berarti kotor atau menjijikkan. Dalam konteks metaforis, kekotoran ini bukan hanya menyangkut tubuh, melainkan juga sikap dan perilaku.
Ketiga, gaudebit, bentuk futurum dari gaudere, yang berarti bergembira. Artinya, si babi bukan sekadar tidak keberatan menjadi kotor. Ia justru akan menikmati pertarungan tersebut!
Menarik, bukan? Satu kalimat Latin dapat menyampaikan pelajaran kehidupan yang begitu mendalam.
Elang Tidak Menangkap Lalat
Ada ungkapan Latin klasik lainnya yang memiliki semangat serupa: Aquila non capit muscas.
Artinya: “Burung elang tidak menangkap lalat.”
Seekor elang tidak perlu menghabiskan energi untuk mengejar setiap lalat yang melintas di hadapannya.
Demikian pula manusia yang bijaksana. Ia tidak harus menanggapi setiap ejekan, provokasi, atau persoalan remeh yang datang kepadanya.
Bukan karena ia tidak mampu menjawab, melainkan karena ia tahu bahwa tidak semua pertengkaran layak dimenangkan, dan tidak semua provokasi layak mendapatkan perhatian.
Apa Pesanya?
Kebijaksanaan bukan hanya soal kemampuan menyampaikan argumentasi yang hebat, melainkan juga kemampuan mengenali kapan sebuah perdebatan sudah kehilangan manfaatnya.
Kita boleh berbeda pendapat, bahkan berdebat dengan tegas. Namun, jangan sampai keinginan memenangkan perdebatan membuat kita kehilangan ketenangan, kesantunan, dan martabat.
Sebab, orang bijaksana berdebat untuk menemukan kebenaran, sedangkan provokator berdebat untuk menikmati keributan.
Dan akhirnya, ingatlah: “Jangan bergulat dengan babi di dalam lumpur. Kamu akan pulang untuk mandi, sementara si babi malah minta ronde kedua!”
Sapientia est scire quando tacendum sit. “Kebijaksanaan adalah mengetahui kapan harus diam.”
Selamat menikmati secangkir kebijaksanaan Latin di pagi hari!

