
JAKARTA — Di tengah dunia jurnalistik yang bergerak cepat, penuh tekanan, tuntutan kecepatan, dan beragam dilema, para wartawan Katolik diajak untuk tidak kehilangan arah.
Di balik kesibukan mengejar berita, ada ruang yang perlu tetap dijaga: ruang keheningan dan kebugaran rohani.
Ajakan itu kembali mengemuka dalam Misa Jumat Pertama Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Kapel Suster Regina Pacis, Palmerah, Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Misa yang digelar setiap Jumat pertama setiap bulan itu menjadi kesempatan bagi para wartawan Katolik untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pekerjaan jurnalistik.
Mereka datang untuk menimba kekuatan baru, menata kembali hati, sekaligus mengingat alasan mendasar mengapa mereka memilih jalan jurnalistik.
Dalam renungannya, Romo Yustianus Octovianey Dua, Pr, mengajak para wartawan Katolik bercermin secara jujur: bagaimana mereka menempatkan diri di tengah dunia yang sarat tekanan dan dilema?
“Bagaimana Anda sebagai wartawan Katolik menempatkan diri secara jujur di dunia yang penuh tekanan dan dilema? Bertahan atau terbawa arus?” ujar Romo Yustianus.
Menurut imam Keuskupan Agung Ende yang sedang menempuh studi lanjut di sebuah universitas swasta di Jakarta itu, wartawan berada di ruang publik yang tidak sekadar merekam realitas, tetapi juga ikut membentuk realitas melalui pemberitaan.
Karena itu, seorang wartawan tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis. Ia membutuhkan keteguhan batin agar tidak mudah kehilangan kompas moral ketika berhadapan dengan berbagai kepentingan.
“Kita juga berhadapan dengan kebiasaan lama. Apakah kita mau berubah?” katanya.
Pertanyaan tersebut menjadi penting bagi para wartawan Katolik yang setiap hari berhadapan dengan fakta, opini, tekanan pekerjaan, kepentingan publik, bahkan berbagai kepentingan di balik sebuah peristiwa.
Di tengah situasi tersebut, Romo Yustianus mengajak wartawan Katolik menjadi “anggur baru” di tengah kecemasan dunia.
Karya jurnalistik, katanya, semestinya juga menjadi anggur baru. Wartawan tidak dipanggil hanya untuk mencatat fakta-fakta secara kering, tetapi menghadirkan pemberitaan yang memberi kehidupan dan membebaskan.
“Tugas seorang wartawan bukan untuk mencatat fakta-fakta kering. Jadilah saluran anggur baru, beritakanlah yang membebaskan,” ujarnya.
Namun, anggur baru membutuhkan kantong yang baru. Karena itu, pembaruan tidak hanya dituntut dari karya jurnalistik, tetapi juga dari pribadi wartawan itu sendiri.
“Perbarui kantong tua dalam diri masing-masing agar anggur baru tidak sia-sia,” pesan Romo Yustianus.
Jangan Kehilangan Keheningan
Di tengah derasnya arus informasi, keheningan menjadi sesuatu yang mahal bagi seorang wartawan. Setiap hari, wartawan berhadapan dengan notifikasi, tenggat waktu, peristiwa, komentar, konflik, dan berbagai suara dari ruang publik.
Dalam situasi seperti itu, Romo Yustianus mengingatkan pentingnya kembali kepada Tuhan.
“Jika seorang wartawan kehilangan keheningan, dia akan hilang di tengah keriuhan. Mari selalu datang kepada Tuhan,” katanya.
Bagi para wartawan Katolik, Misa Jumat Pertama menjadi salah satu ruang untuk melakukan jeda tersebut. Bukan untuk meninggalkan dunia jurnalistik, melainkan untuk kembali ke dunia itu dengan hati dan perspektif yang diperbarui.
Di hadapan altar, kesibukan mengejar berita untuk sementara ditanggalkan. Para wartawan kembali diingatkan bahwa sebelum menjadi pembawa berita, mereka adalah manusia yang juga membutuhkan kekuatan, keheningan, dan tuntunan Tuhan.
Romo Yustianus juga mengingatkan agar para wartawan tetap memelihara prinsip-prinsip kerja jurnalistik. Di tengah perubahan zaman, ada nilai-nilai yang tidak boleh ikut berubah.
“Anggur yang tua lebih baik. Jaga prinsip kerja jurnalistik,” katanya.
Kejujuran, kesederhanaan, dan ketekunan, menurut dia, merupakan nilai penting yang harus terus dirawat seorang wartawan.
Nilai-nilai itu tidak dapat dibeli dan tidak boleh ditukar dengan kepentingan apa pun.
Sejauh apa pun seorang wartawan melangkah dalam kariernya, berbagai tantangan akan selalu datang. Karena itu, keberanian untuk mempertahankan kebenaran menjadi bagian penting dari panggilan tersebut.
“Jangan takut mewartakan kebenaran,” tegasnya.
Merawat Api di Tengah Kesibukan
Semangat para wartawan Katolik untuk tetap hadir dalam Misa Jumat Pertama menunjukkan bahwa tugas jurnalistik tidak hanya membutuhkan ketajaman mata dan telinga, tetapi juga ketajaman hati.
Wartawan dipanggil menjadi mata dan telinga Kristus di dunia—melihat mereka yang kerap tidak terlihat, mendengarkan suara yang sering tidak didengar, dan menghadirkan kebenaran dengan cara yang membangun kehidupan.
Karena itu, kebugaran rohani bukanlah sesuatu yang berada di luar pekerjaan jurnalistik. Justru dari sanalah seorang wartawan dapat menemukan kembali alasan untuk tetap jujur ketika kejujuran terasa berat, tetap sederhana ketika popularitas menggoda, dan tetap tekun ketika pekerjaan menghadirkan kelelahan.
Misa Jumat Pertama PWKI kali ini mengangkat tema “Perdamaian”. Doa-doa dipanjatkan bagi dunia, baik dunia global maupun dunia lokal, yang sedang menghadapi berbagai ujian berat.
Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh konflik, kepentingan, dan informasi yang menyesatkan, para wartawan Katolik pun memiliki peran untuk merawat perdamaian melalui karya jurnalistiknya.
Mereka tidak hanya dituntut memberitakan apa yang terjadi, tetapi juga menghadirkan kebenaran yang memberi ruang bagi manusia untuk memahami, berdialog, dan berharap.
Satu hal penting yang diingatkan: menjadi wartawan Katolik bukan sekadar soal profesi. Ada panggilan untuk terus memperbarui diri, menjaga hati, dan menghadirkan karya yang menjadi tanda kehadiran Kristus di tengah dunia. (tD)

