Wed. Sep 2nd, 2026
Seingo di kereta barang Surabaya - Yogyakarta. Teh manis, pisang rebus itu...

Hujan pertama setelah kemarau panjang turun semalam.

Pagi itu tanah merah di halaman rumah masih basah. Bau tanah memenuhi udara. Rumput-rumput yang berbulan-bulan menguning mulai tersenyu, Di kejauhan, beberapa petani sudah turun ke sawah. Musim tanam segera dimulai.

Seingo mengikat tali sepatunya.

Ia memasukkan tangan ke saku celana, mengambil dompet, lalu mengeluarkan seluruh uang yang tersisa. Uang itu dihitungnya sekali lagi.

Tidak banyak.

Ia melipatnya rapi dan memasukkannya kembali ke dompet.

Di sudut halaman, Mamanya duduk di atas sepotong kayu bulat. Perempuan berusia lima puluh delapan tahun itu tertunduk. Sejak tadi ia hampir tidak berbicara.

Seingo berdiri.

“Mama.”

Perempuan itu mengangkat wajah.

“Jaga diri di jalan.”

Seingo mengangguk.

“Uang ini cukup, kan?”

Seingo tersenyum.

“Cukup, Mama.”

Padahal tidak.

Uang itu mungkin hanya cukup untuk membawanya sampai Yogyakarta. Belum untuk registrasi kuliah. Belum untuk makan. Belum untuk kebutuhan lain selama semester tujuh.

Tetapi Seingo tidak ingin membuat ibunya semakin cemas.

Ia mengangkat ransel.

“Seingo berangkat.”

Mama mengangguk.

Seingo berjalan meninggalkan halaman.

Beberapa langkah kemudian ia menoleh.

Mamanya masih duduk di atas kayu bulat itu.

Seingo melanjutkan langkah.

Ia berjalan kaki menuju sebatang pohon rindang tempat orang-orang biasa menunggu bus.

Dari sana ia akan menuju Waingapu. Dari Waingapu ia akan menumpang kapal barang ke Surabaya. Dari Surabaya, ia akan mencari kereta barang menuju Yogyakarta.

Cara paling murah yang ia tahu.

Seorang penunggang kuda tiba-tiba menghentikan kudanya di dekat Seingo.

“Hei, mau ke mana?”

“Pulang ke Jogja, Pak.”

“Lanjut kuliah?”

“Iya.”

“Sudah semester berapa?”

“Semester tujuh.”

Penunggang kuda itu mengangguk-angguk.

Lalu bertanya dengan wajah sungguh-sungguh,

“Berapa harga truk di Jogja?”

Seingo terdiam.

Ia hampir tertawa, tetapi urung.

“Wah, saya juga tidak tahu, Pak.”

Penunggang kuda itu berlalu.

Seingo memandang punggungnya yang semakin jauh.

Ia tahu pertanyaan itu bukan sekadar tentang harga truk.

Bagi orang-orang di kampungnya, seorang mahasiswa adalah orang yang diharapkan tahu lebih banyak. Kelak, ketika pulang, ia diharapkan bisa menjawab banyak pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab sendiri.

Seingo memasukkan tangan ke saku.

Terasa dompet tipis di sana.

Ia teringat Mama.

Bibit padi.

Uang yang dibawanya adalah hasil penjualan sebagian bibit padi yang seharusnya dipakai untuk musim tanam tahun ini.

Seingo berhenti.

Ia menunduk.

Ujung sepatu kulitnya sudah pudar. Ada bagian yang mulai mengelupas.

Matanya panas.

Ia menyeka wajah.

Kemudian berbalik memandang jalan yang baru saja dilewatinya.

Rumah.

Mama.

Sawah.

Bibit.

Seingo menarik napas panjang.

Ia mengayunkan langkah lagi.

***

Tut…

Tut…

Kereta barang melambat.

Stasiun Nganjuk terlewati.

Seingo duduk di antara tumpukan barang. Punggungnya bersandar pada dinding gerbong. Ransel dipeluknya erat-erat.

Ia hanya berharap bisa sampai Yogyakarta tanpa ketahuan.

Pintu gerbong terbuka.

Seorang petugas masuk.

“Siapa kamu?”

Seingo berdiri.

“Maaf, Pak.”

Seingo menunduk.

“Saya tidak punya uang untuk beli tiket.”

Petugas itu memandangnya lama.

“Turunkan saja di Madiun.”

Jantung Seingo berdegup lebih cepat.

“Tolong, Mas.”

Petugas lain mendekat.

“Kenapa?”

“Saya mau kuliah di Jogja.”

“Kalau mau kuliah, ya harus punya uang.”

Seingo menggenggam tali ranselnya.

“Mamaku tidak punya uang lebih.”

Petugas itu diam.

“Uang yang saya bawa ini hasil jual bibit sawah. Kalau saya pakai untuk naik kereta penumpang, saya tidak punya uang untuk makan.”

Tak ada yang menjawab.

Seingo menelan ludah.

“Tulung aku, Mas.”

Kereta kembali bergerak.

Tut…

Tut…

Slamet, petugas yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, memandang Seingo.

Lelaki itu agak tinggi dan kekar. Salah satu kakinya tampak sedikit pincang ketika berjalan.

Ia memasukkan tangan ke dalam tas kecilnya.

“Yo uwis.”

Seingo mengangkat wajah.

“Ojo nangis.”

Slamet mengeluarkan dua buah pisang rebus dan sebungkus kecil teh hangat.

“Iki. Isi dulu perutmu.”

Seingo menerima pisang itu dengan kedua tangan.

“Janji senengke ibumu, yo.”

Seingo mengangguk.

Slamet kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang.

“Ini untukmu.”

“Tidak usah, Pak.”

“Ambil.”

“Saya malu.”

“Buat nambah-nambah.”

Seingo menerima uang itu.

“Maturnuwun, Pak.”

Slamet mengangguk.

“Kalau mau sampai Jogja, jangan tidur.”

Seingo tersenyum untuk pertama kalinya hari itu.

Di setiap stasiun berikutnya, tanpa disuruh, Seingo membantu Slamet dan petugas lain menurunkan barang.

Tangannya pegal.

Punggungnya sakit.

Tetapi ia tidak mengeluh.

Menjelang Stasiun Gondolayu, Seingo melihat hamparan sawah dari pintu gerbong.

Sawah-sawah itu baru selesai dibajak. Tanahnya hitam dan basah.

Pikiran Seingo kembali kepada Mama.

Dari mana Mama mendapatkan bibit untuk sawah tahun ini?

Ia menggenggam uang pemberian Slamet.

Bibit yang Mama jual akan tumbuh di sawah orang.

Ia menatap sawah yang berlari mundur bersama gerak kereta.

Mudah-mudahan aku juga tumbuh.

Pukul 02.45.

Seingo tiba di tempat kos dengan tubuh lelah.

Ia menghitung uangnya.

Kemudian menghitung lagi.

Tidak cukup untuk registrasi.

Seingo duduk di tepi tempat tidur.

Ia menatap dinding.

Semester tujuh.

Tinggal beberapa langkah lagi.

Tetapi malam itu ia merasa seperti berdiri di depan tembok yang terlalu tinggi.

Kalau tidak registrasi, kuliahnya terhenti.

Kalau kuliahnya terhenti, bagaimana dengan Mama?

Bagaimana dengan Papa?

Bagaimana dengan adik-adiknya?

Seingo merebahkan tubuh.

Ia teringat wajah Mama di halaman rumah.

Ia teringat pisang rebus.

Teh hangat.

Dan suara Slamet.

Janji senengke ibumu, yo.

Seingo membuka mata.

Tidak.

Ia tidak boleh berhenti.

***

Pagi itu ia makan dua tempe bacem.

Setelah itu langsung menuju kampus.

Seingo menemui dosen walinya, Pak Susanto.

“Pak, saya mau bicara.”

Pak Susanto mempersilakannya duduk.

Seingo menceritakan semuanya.

Tentang Mama.

Tentang Papa yang dua tahun terakhir lumpuh setelah jatuh dari pohon sukun.

Tentang uang kuliah.

Tentang bibit padi.

Tentang perjalanan dari kampung.

Tentang kereta barang.

Tentang Pak Slamet yang memberinya pisang rebus, teh hangat, dan uang.

Pak Susanto mendengarkan tanpa memotong.

Setelah Seingo selesai, ruangan itu hening.

Pak Susanto menarik napas.

“Kamu bawa KHS tiga semester terakhir?”

Seingo mengeluarkan berkas dari dalam ranselnya.

Pak Susanto membuka lembar pertama.

Diam.

Membuka lembar kedua.

Diam lagi.

Kemudian lembar ketiga.

Dahi Pak Susanto mengernyit.

Seingo menunduk.

Ia mengira dosennya sedang mencari cara menyampaikan bahwa kuliahnya harus berhenti.

“Seingo.”

“Iya, Pak.”

“Kenapa kamu tidak pernah cerita soal ini?”

Seingo mengangkat wajah.

“Soal apa, Pak?”

“Nilaimu.”

Seingo terdiam.

Pak Susanto menunjuk lembar KHS.

“Bagus sekali.”

Seingo menunduk lagi.

“Dari tiga semester ini, cuma ada tiga nilai B. Selebihnya A.”

Pak Susanto menutup berkas.

“Saya punya pekerjaan untukmu.”

Seingo mengangkat kepala.

“Asisten penelitian.”

Seingo hampir tidak percaya.

“Bisa mulai besok?”

“Bisa, Pak.”

“Kerja keras?”

“Siap.”

“Tidak mengganggu kuliah?”

“Tidak, Pak.”

Pak Susanto tersenyum.

“Kalau begitu, kita coba.”

***

Hari-hari Seingo berubah.

Pagi kuliah.

Siang ke laboratorium.

Sore turun ke kebun percobaan.

Malam membaca dan menulis laporan.

Ia belajar tentang tanah, air, hama, penyakit tanaman, dan berbagai varietas padi.

Beberapa percobaan gagal.

Tanaman yang ia harapkan tumbuh justru menguning.

Sebagian mati.

Ia mencatat.

Mencabut.

Menanam lagi.

Mencoba lagi.

Ia tidak pernah membuang kegagalan tanpa mencari tahu penyebabnya.

Suatu pagi, Pak Susanto berdiri di samping petak percobaan.

“Lihat itu.”

Seingo mendekat.

Beberapa rumpun padi tampak berbeda.

Batangnya lebih kuat. Bulirnya lebih banyak. Tanaman itu juga bertahan ketika petak percobaan lain mulai terserang hama.

Seingo berjongkok.

Tangannya menyentuh daun padi itu.

“Ini yang kita cari, Pak?”

Pak Susanto mengangguk.

“Belum selesai. Jangan buru-buru senang.”

Seingo tersenyum.

Ia tahu.

Masih panjang.

Tetapi untuk pertama kalinya ia merasa menemukan sesuatu.

Bukan hanya varietas padi.

Mungkin juga jalan hidupnya.

Penelitian itu terus dikembangkan.

Setelah melalui berbagai percobaan, varietas padi tersebut menunjukkan hasil yang menjanjikan: lebih tahan terhadap serangan hama tertentu, memiliki bulir yang lebih banyak, dan memberikan hasil panen yang lebih baik.

Pak Susanto menyusun laporan.

Kemudian penelitian itu diperkenalkan kepada Victor Bangun, pemilik lahan pertanian di Kabanjahe.

Victor tertarik.

“Kalau saya coba di lahan saya?”

“Silakan,” kata Pak Susanto.

“Berapa luasnya?”

“Mulai dari sebagian dulu.”

Victor mengangguk.

Musim tanam berikutnya, benih itu ditanam.

Seingo menunggu hasilnya dengan cemas.

Minggu pertama.

Minggu kedua.

Bulan pertama.

Tanaman tumbuh.

Daunnya hijau.

Batangnya kokoh.

Ketika masa panen tiba, hasilnya melampaui perkiraan.

Victor datang menemui Pak Susanto.

“Saya mau kembangkan varietas ini.”

Pak Susanto menoleh kepada Seingo.

“Bagaimana?”

Seingo hanya tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kampung, ia merasa uang hasil Mama jual bibit padi tidak sia-sia.

***

Dua tahun kemudian Seingo menyelesaikan kuliahnya.

Wisudanya sederhana.

Tidak ada rombongan keluarga dari kampung.

Mama tidak datang.

Papa juga tidak.

Tetapi ketika namanya dipanggil, Seingo teringat halaman rumah.

Tanah merah.

Hujan pertama.

Dan sepotong kayu bulat tempat Mamanya duduk.

Setelah wisuda, Victor menawarinya pekerjaan.

Seingo menerima.

Tahun-tahun berikutnya berlalu.

Kariernya berkembang.

Ia dipercaya mengawasi pengembangan hasil pertanian.

Penghasilannya meningkat.

Namun sepatu yang dikenakannya tetap sederhana. Pakaian kerjanya pun tidak jauh berbeda dari pakaian para staf.

Ia keras kepada orang yang bekerja asal-asalan.

Tetapi setelah memarahi, ia akan mengajarkan cara yang benar.

Ia sering mendatangi rumah para pekerja.

Kepada anak-anak mereka, ia selalu berkata,

“Kamu pasti bisa.”

Seingo tahu rasanya hampir kehilangan kesempatan.

Ia tidak ingin anak-anak itu mengalami hal yang sama.

***

Suatu hari Seingo kembali ke Yogyakarta.

Banyak hal yang ia rindukan.

Bu Sri, penjual pecel yang dulu sering lewat dari kos ke kos.

Kebun kecil di kampus tempat ia menghabiskan begitu banyak waktu.

Suara Pak Susanto.

Dan seorang lelaki bernama Slamet.

Seingo ingin sekali bertemu dengannya.

Sudah dua puluh tahun.

Masihkah Slamet bekerja di kereta barang?

Masihkah ia ingat seorang mahasiswa miskin yang hampir diturunkan di Stasiun Madiun?

Seingo tersenyum sendiri.

Kalau waktu itu aku benar-benar diturunkan…

Ia tidak berani meneruskan pikirannya.

Slamet tidak hanya menyelamatkannya dari kereta.

Ia memberinya sesuatu yang lebih besar.

Kepercayaan.

Matahari baru muncul dari balik bangunan ketika Seingo sampai di Warung Bu Wati, di dekat tembok luar Stasiun Gondolayu.

Warung itu masih sederhana.

“Ngopi dulu, Nak.”

Bu Wati meletakkan secangkir kopi di depannya.

“Kenal Pak Slamet, Bu?”

Bu Wati mengernyit.

“Pak Slamet?”

“Petugas kereta barang. Tinggi. Kekar. Agak pincang.”

Bu Wati berpikir.

“Oh, Slamet.”

“Iya.”

“Sudah dua bulan tidak ke sini.”

Seingo menahan napas.

“Kenapa?”

“Katanya sakit.”

“Sakit apa?”

“Punggung. Dulu pernah jatuh waktu mengangkat barang. Cedera lama. Sekarang kambuh.”

“Di rumah sakit mana?”

Bu Wati menyebut nama rumah sakit.

Seingo berdiri.

Sebelum pergi, ia mengeluarkan uang lima ratus ribu dan meletakkannya di meja.

“Ini untuk utangnya Pak Slamet.”

Bu Wati terkejut.

“Lho, kebanyakan.”

“Mboten nopo-nopo, Bu.”

Di rumah sakit, Seingo langsung menuju bagian administrasi.

“Pak Slamet dirawat di sini?”

Petugas memeriksa data.

“Iya.”

“Berapa biayanya?”

“Sekitar tiga puluh lima juta.”

“Kalau ini dilunasi bisa dilakukan tindakan penting?”

Seingo mengeluarkan kartu.

“Bayar.”

Petugas menatapnya.

“Bapak keluarga pasien?”

Seingo terdiam sesaat.

“Saya keluarganya.”

Petugas mengurus pembayaran.

Setelah itu Seingo menuju ruang perawatan.

Slamet sedang berbaring.

Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus daripada yang diingat Seingo.

“Selamat siang, Pak.”

Slamet membuka mata.

Memandang Seingo.

Lama.

“Maaf… siapa, ya?”

Seingo tersenyum.

“Coba ingat dua puluh tahun lalu.”

Slamet mengernyit.

Seingo duduk di samping tempat tidurnya.

“Kereta barang dari Surabaya.”

Slamet masih menatapnya.

“Seorang anak kampung.”

Slamet diam.

“Tidak punya tiket.”

Mata Slamet bergerak.

“Pisang rebus.”

Slamet mengernyit lagi.

“Teh hangat.”

Seketika wajah lelaki itu berubah.

“Seingo?”

Seingo mengangguk.

Slamet bangkit sedikit, lalu meringis menahan sakit.

“Kamu?”

Seingo menggenggam tangannya.

“Iya, Pak.”

Mereka berpelukan.

Lama.

Slamet menangis.

“Kamu sudah sukses, ya?”

Seingo tersenyum.

“Belum selesai, Pak.”

Slamet tertawa kecil.

“Bagaimana ibumu?”

“Sehat.”

“Bapakmu?”

“Sudah sehat juga. Sudah operasi.”

Slamet mengangguk.

“Syukurlah.”

Seingo terdiam sejenak.

“Saya masih ingat pesan Bapak.”

“Pesan apa?”

“Janji senengke ibumu.”

Slamet tersenyum.

“Dan kamu lakukan?”

Seingo mengangguk.

“Saya berusaha.”

Slamet memejamkan mata.

“Gusti ora sare.”

Seingo tersenyum.

“Iya, Pak. Gusti ora sare.”

Ia menggenggam tangan Slamet lebih erat.

“Boleh saya doakan Bapak?”

Slamet mengangguk.

Seingo menundukkan kepala.

Tiga hari kemudian Slamet menjalani operasi.

Dua minggu setelahnya ia diperbolehkan pulang.

Di bagian administrasi, seorang petugas menyerahkan selembar kertas kepadanya.

“Pak, ini sisa uang yang dititipkan keluarga Bapak.”

Slamet mengernyit.

“Keluarga?”

“Keponakan Bapak.”

“Keponakan?”

“Iya. Namanya Seingo.”

Slamet terdiam.

Petugas menyerahkan uang itu.

“Lima belas juta. Semuanya sudah dibayar. Termasuk tunggakan sebelumnya.”

Slamet tidak segera mengambilnya.

Tangannya gemetar.

“Seingo…”

Ia teringat sebuah kereta.

Seorang anak muda.

Ransel lusuh.

Sepatu tua.

Wajah yang ketakutan karena tidak punya uang. Seorang anak yang hampir diturunkan di Stasiun Madiun.

Pisang rebus.

Teh hangat.

Dan kalimat yang ia ucapkan begitu saja dua puluh tahun lalu.

Janji senengke ibumu, yo.

Slamet menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Air matanya mengalir di sela-sela jari.

“Semoga Allah memberkahi hidupmu, melimpahkan rezekimu, dan menjaga keluargamu.”

Ia mengusap wajah.

Di luar rumah sakit, matahari pagi menyinari jalan.

Entah berapa jauh perjalanan sebuah kebaikan.

Kadang ia bermula dari sepotong pisang rebus.

Dari secangkir teh hangat.

Dari beberapa lembar uang yang diberikan kepada seorang anak yang hampir kehilangan jalan pulang.

Dan seperti bibit yang ditanam di tanah, kebaikan itu tumbuh diam-diam.

Bertahun-tahun.

Dua puluh tahun.

Sampai akhirnya kembali sebagai buah.*

Related Post