
FLORES TIMUR– Tepuk tangan riuh, senyum bahagia, dan mata yang berbinar menyambut kedatangan Pater Markus Solo Kewuta, SVD di halaman SDK Lewouran, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, Rabu (5/8/2026). Pater Markus adalah alumnus SD tersebut. Sontak rasa bangga di antara para guru dan siswa menyembul.
Ruang-ruang kelas sederhana yang dia tinggalkan pada tahun 1981 masih lekat dalam ingatannya. Di wajah imam yang pandai menggubah lagu itu tampak keceriaan yang nostagik.
Kedatangan Padre Marco disambut hangat oleh puluhan siswa, para guru, pengawas sekolah, dan masyarakat. Suasana penuh sukacita itu semakin istimewa karena bertepatan dengan syukuran ulang tahunnya yang ke-58.
Kepala SDK Lewouran, Blasius Boli, S.Ag, yang juga merupakan teman sekelas Padre Marco, mengaku bangga melihat perjalanan hidup sahabat lamanya.
“Padre Marco adalah kebanggaan SDK Lewouran. Beliau membuktikan bahwa anak dari desa kecil ini mampu berkarya hingga dipercaya melayani di Vatikan,” ujar Blasius.
Di hadapan para siswa, Padre Marco mengenang masa kecilnya dengan penuh kehangatan. Ia bercerita bagaimana pendidikan di SDK Lewouran menjadi fondasi perjalanan hidupnya.
Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke SMPK Ile Bura Lewotobi, kemudian SMAK Seminari San Dominggo Hokeng, hingga akhirnya mengantarkannya melayani di berbagai tempat sebelum dipanggil bertugas di Vatikan pada 2007.
“Saya berasal dan bersekolah dari sini. Setelah lulus saya melanjutkan ke SMP Lewotobi. Perjalanan membawa saya semakin jauh hingga pada tahun 2007 saya dipanggil untuk bertugas di Vatikan,” kenangnya.
Suasana berubah semakin akrab ketika Padre Marco mengajak anak-anak berdialog. Dengan senyum lebar ia bertanya, “Siapa Paus sekarang?”
Serempak para siswa menjawab, “Paus Leo XIV.”
Ketika kembali bertanya siapa guru agama Katolik mereka, para siswa menjawab, “Ibu Mia Keban.”
Mendengar jawaban itu, Padre Marco spontan memuji, “Hebat ibu guru agamanya.”
Gelak tawa pun pecah, mencairkan suasana. Bagi anak-anak, momen sederhana itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Padre Marco mengaku terharu atas sambutan yang diterimanya. Penampilan puisi dan lagu-lagu dari para siswa menjadi hadiah yang sangat berkesan baginya.
“Terima kasih atas partisipasi adik-adik dan para guru yang mendukung acara ini. Puisi dan lagu-lagu yang ditampilkan membuat saya sangat bahagia dan betah berada di sini. Namun karena tugas, saya harus kembali ke Vatikan,” katanya.
Sebelum berpamitan, Padre Marco menitipkan pesan yang lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Ia mengajak anak-anak untuk berani bermimpi setinggi langit tanpa pernah melupakan tempat asal mereka.
“Suatu saat kalian akan merasakan pergi jauh, meninggalkan desa dan keluarga, bahkan menangis karena rindu. Namun ingatlah, kita berasal dari desa dan suatu hari akan kembali ke desa untuk mencintai kampung halaman. Jadilah jembatan antara diri kalian dan tanah kelahiran, gelekat lewo tanah,” tuturnya.
Sebagai ungkapan kasih, Padre Marco membagikan rosario, gambar Santo Kristoforus—pelindung para peziarah dan setiap orang yang melakukan perjalanan—serta sejumlah uang kepada para siswa.
“Ini saya berikan sedikit uang untuk membeli bola sepak agar kalian bisa bermain sambil belajar,” ujarnya yang disambut sorak gembira anak-anak.
Bagi siswa-siswi SDK Lewouran, kunjungan itu bukan sekadar pertemuan dengan seorang imam yang melayani di Vatikan. Mereka menyaksikan secara langsung bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari bangku sekolah sederhana di sebuah desa kecil.
Sebelum meninggalkan Lewouran, Padre Marco juga mengunjungi TKK Kristoforus Lewouran untuk memberikan berkat kepada para guru dan murid.
Melalui kepulangannya, ia ingin menegaskan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mengabdi dan berkarya. Sejauh apa pun seseorang melangkah, kampung halaman tetap menjadi akar yang memberi identitas sekaligus tempat untuk kembali menyalakan harapan.
“Jangan pernah malu berasal dari desa. Belajarlah dengan tekun, miliki cita-cita yang tinggi, tetapi jangan lupa pulang. Kampung halaman adalah akar yang membentuk siapa kita,” pesan Padre Marco, yang disambut tepuk tangan meriah para siswa, guru, dan warga yang memadati halaman SDK Lewouran.
Kunjungan singkat itu mungkin segera berlalu. Namun bagi anak-anak Lewouran, kisah tentang seorang putra desa yang berhasil menembus Vatikan akan terus hidup—menjadi pengingat bahwa mimpi sebesar apa pun dapat dimulai dari ruang kelas kecil di pelosok Flores Timur.*

