Tue. Jul 7th, 2026

Irwan Hidayat Lakukan yang Dia Cintai, dan Cintai yang Dia Lakukan

Irwan Hidayat di Bima Yamgor

Di lantai dua House of Jamu, kawasan Cipete, Jakarta Selatan, aroma ayam goreng yang baru diangkat dari penggorengan memenuhi ruangan. Menjelang jam makan siang, hampir seluruh meja telah terisi. Pelayan lalu-lalang mengantarkan sepiring ayam goreng lengkap dengan sambal, lalapan, dan semangkuk sayur asem.

Sulit membayangkan bahwa restoran bernama Bima Yamgor ini lahir dari sosok yang selama puluhan tahun identik dengan jamu. Namun bagi Irwan Hidayat, Direktur Utama sekaligus pemilik PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk., membuka restoran bukanlah lompatan bisnis yang aneh. Justru sebaliknya, itulah cara ia menjalani hidup.

Ia memiliki prinsip sederhana yang telah membimbing hampir seluruh perjalanan bisnisnya: lakukan apa yang benar-benar disukai, lalu cintai apa yang dikerjakan.

Prinsip itu bukan sekadar slogan motivasi. Dalam diri Irwan, filosofi tersebut telah menjelma menjadi kenyataan.

Hampir bisa dikatakan, “Irwan Hidayat adalah jamu, dan jamu adalah Irwan Hidayat.”

Selama puluhan tahun namanya melekat erat dengan industri jamu nasional. Di bawah kepemimpinannya, Sido Muncul berkembang dari perusahaan jamu keluarga menjadi perusahaan publik yang produknya dikenal hingga berbagai negara.

Bagi banyak orang, menyebut Irwan Hidayat berarti mengingat jamu. Sebaliknya, berbicara tentang perkembangan jamu modern hampir selalu menghadirkan nama Irwan Hidayat.

Namun perjalanan bisnisnya tidak berhenti di sana. Ia merambah industri perhotelan melalui Hotel Tentrem, aktif di dunia investasi saham, bahkan dikenal rajin mengampanyekan pentingnya investasi di pasar modal.

Menurutnya, kepemilikan saham bukan hanya instrumen investasi, tetapi juga sarana masyarakat ikut memiliki perusahaan-perusahaan Indonesia yang baik.

Kini, daftar bisnis yang digelutinya kembali bertambah dengan hadirnya restoran ayam goreng Bima Yamgor. Alasannya ternyata sangat sederhana.

“Kalau membuat bisnis itu, ya yang saya sukai. Saya suka olahraga tenis, padel, ya saya buat lapangan. Suka menginap di hotel, saya bikin Hotel Tentrem. Karena saya suka makan ayam goreng, saya bikin restoran Bima,” ujar Irwan.

Ia mengaku tidak pernah memulai usaha hanya karena melihat peluang keuntungan semata. Baginya, sebuah bisnis harus berangkat dari sesuatu yang memang ia nikmati.

Karena itu pula, ia memiliki batas yang tegas terhadap bidang usaha yang tidak sesuai dengan minatnya.

Ucapan itu terdengar ringan, tetapi menggambarkan cara berpikirnya selama puluhan tahun menjadi pengusaha. Bisnis bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan perpanjangan dari kesukaan dan pengalaman pribadi.

Semangat itu terasa ketika menikmati sajian di Bima Yamgor. Potongan ayam goreng yang disajikan tidak terlalu besar. Kulitnya renyah dan gurih, sementara dagingnya memiliki tekstur yang sedikit mengingatkan pada ayam kampung, tetapi lebih empuk.

Sambal baladonya tampak merah menyala, meski tingkat kepedasannya masih bersahabat. Bagi penikmat rasa pedas, tersedia sambal bawang tambahan yang disajikan dalam mangkuk kecil.

Sepiring ayam itu ditemani lalapan berupa irisan tomat, mentimun, dan kol, serta semangkuk sayur asem dengan cita rasa sedikit manis yang memberi keseimbangan rasa.

Tak hanya ayam goreng, restoran ini juga menawarkan berbagai hidangan Nusantara, mulai dari ayam bakar cabe, ayam bakar kecap, empal goreng, iga bakar, lidah cabe hijau, selat Solo, bakmoy, pecel sayur, hingga nasi goreng kampung.

Bagi Irwan, nama “Bima” pun bukan dipilih secara kebetulan. Inspirasi itu datang dari tokoh pewayangan yang selama ini dikenal sebagai sosok pemberani, kuat, jujur, tabah, dan teguh memegang prinsip.

Karakter itulah yang ingin melekat pada merek Bima, sebagaimana keberhasilan Kuku Bima yang telah lebih dulu dikenal masyarakat.

Menariknya, Irwan juga menemukan sisi lain dari tokoh tersebut. “Selain itu, ternyata setelah saya cari-cari, Bima itu koki. Waktu dia bunuh orang Kurawa, kan dicari. Dia melarikan diri. Nah, di dalam pelarian dia mencari nafkah dengan menjadi juru masak,” tuturnya.

Kisah itu seolah melengkapi filosofi yang ia pegang selama ini.

Bagi Irwan Hidayat, kesuksesan tidak selalu lahir dari mengejar tren atau mengikuti apa yang sedang ramai. Kesuksesan justru datang ketika seseorang mengerjakan sesuatu yang benar-benar ia cintai.

Dari jamu, hotel, fasilitas olahraga, pasar modal, hingga restoran ayam goreng, benang merahnya selalu sama. Semua lahir dari kesukaan pribadi yang kemudian dikelola dengan kesungguhan.

Mungkin karena itulah bisnis-bisnis yang ia bangun tidak sekadar menjadi usaha, melainkan juga cerminan dirinya sendiri.

Melakukan apa yang disukai dan mencintai apa yang dilakukan bukan hanya nasihat yang sering terdengar dalam seminar motivasi. Pada Irwan Hidayat, kalimat itu telah menjadi perjalanan hidup yang nyata—dan terus berkembang bersama setiap usaha yang ia bangun. (tD/*)

Related Post