Fri. Jul 3rd, 2026
Tidak segan-segan berbagi bagi masa depan sesama.

Ada luka yang bisa dijahit oleh dokter. Tetapi ada luka yang jauh lebih dalam—luka yang tumbuh karena tatapan orang, ejekan teman sebaya, atau rasa malu yang diam-diam menggerogoti kepercayaan diri seorang anak.

Anak-anak dengan bibir sumbing sering kali memikul kedua luka itu sekaligus. Yang satu tampak di wajah. Yang satunya lagi bersembunyi di dalam hati.

Mungkin karena itulah Irwan Hidayat, Direktur Utama Sido Muncul tidak pernah melihat bibir sumbing semata sebagai persoalan medis.

Di balik wajah mungil yang terlahir dengan celah di bibir atau langit-langit mulut, Irwan melihat ada seorang anak yang sesungguhnya hanya ingin diterima, bermain tanpa diejek, bersekolah tanpa dipandang berbeda, dan tertawa tanpa menutupi wajahnya.

Baginya, yang harus dipulihkan bukan hanya bentuk bibir. Yang jauh lebih penting adalah mengembalikan senyum dan rasa percaya diri.

Empati itu tidak lahir dalam sehari. Ia tumbuh dari perjalanan panjang hidup Irwan sendiri, perjalanan yang membentuk keyakinannya bahwa setiap rezeki selalu membawa tanggung jawab untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.

“Sesuai dengan perjalanan hidup saya, perusahaan ini harus bisa memberi manfaat,” ujarnya sederhana.

Kalimat itu bukan slogan perusahaan. Selama bertahun-tahun, ia menjadi kompas yang mengarahkan langkah PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk dalam berbagai kegiatan sosial. Salah satunya adalah program operasi gratis bibir sumbing.

Kamis (2/7/26) pagi di RS Hermina Galaxy, Bekasi, puluhan keluarga datang membawa harapan yang sama. Sebanyak 50 pasien mengikuti operasi bibir sumbing dan celah langit-langit yang diselenggarakan Sido Muncul melalui produk Kuku Bima dan Tolak Angin bekerja sama dengan Smile Train Indonesia. Nilai bantuannya mencapai Rp325 juta.

Namun sesungguhnya yang dibawa pulang keluarga-keluarga itu jauh melampaui angka tersebut. Mereka pulang dengan harapan bahwa anak-anak mereka kelak bisa tersenyum tanpa rasa malu.

Program ini bukan kisah yang baru dimulai. Sejak 2018, ketika operasi pertama digelar di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sido Muncul terus menjangkau anak-anak penyandang bibir sumbing di berbagai daerah. Hingga pertengahan 2026, sebanyak 774 pasien telah memperoleh kesempatan menjalani operasi.

Di balik angka itu tersimpan ratusan cerita. Ada anak yang akhirnya berani masuk sekolah. Ada yang mulai lancar berbicara. Ada yang tak lagi menjadi sasaran ejekan.

Ada pula orang tua yang akhirnya bisa tidur lebih tenang karena melihat masa depan anaknya kembali terbuka.

Irwan memahami bahwa bagi banyak keluarga, tantangan terbesar bukan hanya biaya operasi. Yang lebih berat adalah beban batin yang mereka tanggung setiap hari.

Ketika seorang anak lahir dengan bibir sumbing, tidak sedikit orang tua yang diliputi rasa bersalah dan cemas. Ada pula yang kehilangan harapan. Bahkan, masih ada anak-anak yang dijauhi lingkungan karena kondisi yang sebenarnya dapat diperbaiki melalui tindakan medis yang relatif singkat.

Karena itu, baginya, operasi gratis ini bukan sekadar membantu biaya pengobatan. Ini adalah upaya mengangkat kembali martabat seorang anak. Ia percaya, setiap anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh dengan percaya diri. Keyakinan itu berjalan seiring dengan iman yang dipegangnya sepanjang hidup.

Bagi Irwan, Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa kesulitan. Namun Tuhan selalu membuka jalan bagi mereka yang mau berusaha dan saling menolong.

“Setiap orang di dalam perjalanan hidupnya pasti mengalami kesulitan. Tapi Tuhan juga baik. Setiap ada kesulitan, selalu diberi jalan untuk keluar dari kesulitan itu,” ujarnya.

Ucapan itu lahir bukan sebagai nasihat kosong. Selama bertahun-tahun, keyakinan tersebut telah diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Iman, bagi Irwan, bukan hanya sesuatu yang disimpan di dalam hati atau diucapkan dalam doa. Iman menemukan maknanya ketika menggerakkan tangan untuk menolong, menggerakkan hati untuk berbelas kasih, dan menggerakkan pikiran untuk mencari jalan agar semakin banyak orang memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Menemukan kebahagiaan  saat berbagi. (ist).

Di ruang tunggu rumah sakit, harapan itu terlihat jelas di wajah Edeen dan Komala Sari. Saat putra pertama mereka lahir, kebahagiaan bercampur dengan kepedihan.

Komala mengaku sempat merasa berada di titik terendah dalam hidupnya. Yang paling membuatnya takut bukan sekadar kondisi bibir sang anak, melainkan kemungkinan anaknya tumbuh dengan rasa rendah diri.

“Awalnya hancur, pasti sedih,” tuturnya lirih.

Perasaan itu perlahan berubah ketika mereka mengetahui adanya program operasi gratis dari Sido Muncul.

“Alhamdulillah sekali. Program ini sangat membantu kami. Kami jadi tambah semangat.”

Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa.

Namun bagi orang tua yang selama berbulan-bulan hidup dalam kecemasan, kalimat tersebut adalah napas baru.

Country Manager dan Program Director Smile Train Indonesia, Deasy Larasati, menyaksikan sendiri bagaimana konsistensi Sido Muncul telah menjangkau anak-anak dari berbagai pelosok Indonesia.

Menurutnya, setiap anak berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk diterima oleh keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

“Jangan karena kurangnya kepedulian kita mereka harus berhenti sekolah karena malu atau dikucilkan. Mereka juga mempunyai hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak.”

Ya, operasi ini memang memperbaiki bibir yang sumbing. Tetapi yang sesungguhnya sedang dipulihkan adalah sesuatu yang tak dapat dilihat oleh mata, ialah keberanian seorang anak untuk tersenyum. Kepercayaan dirinya untuk menatap masa depan. Harapan orang tuanya untuk melihat putra-putri mereka tumbuh tanpa rasa minder.

Dan bagi Irwan Hidayat, di sanalah makna sesungguhnya dari sebuah perusahaan yang ingin memberi manfaat. Bukan semata menghasilkan produk yang dipercaya masyarakat, melainkan menghadirkan kasih dalam bentuk yang nyata.

Sebab ketika iman diwujudkan dalam tindakan, pertolongan tidak hanya menyembuhkan luka di wajah, tetapi juga mengobati luka yang selama ini tersembunyi di dalam hati. (tD/*)

Related Post