Thu. Jul 2nd, 2026

Berikut ini “bisikan hati” Genoveva Misiati Oetomo, Ibu dari Bimo Petrus Anugerah, korban yang tak pernah kembali dari Tragedi 1998. Ketika meninggalkan rumah untuk yang terakhir kali, Bimo berjanji akan kembali untuk merayakan Paskah bersama ibunya, namun ia tak pernah kembali. Genoveva Misiati Oetomo meninggal pada 6 Agustus 2018.

Anakku, tentu saja kau masih ingat,
setelah ibu menarik napas penghabisan
di Rumah Sakit Panti Nirmala, Malang
pada Senin 6 Agustus 2018 pagi, pukul 5.30,
ibu tahu-tahu berjumpa denganmu di sini

di mata air paling bening yang pernah ibu lihat

Iya, Nak!
Permukaan mata air ini diterpa cahaya paling kemilau,
bahkan cahayanya
tembus ke dasar yang paling dalam.

Itu terjadi setelah 20 tahun kita tak bersama merayakan Paskah di Malang.

Sejak pagi itu Ibu tak perlu lagi memanggil namamu
di antara desir malam,
karena engkau anak ibu,
Bimo Petrus Anugrah telah lebih dahulu bersiram di sini.

Ibu masih ingat, ketika itu engkau masih begitu belia.
Saat cintamu kepada negeri ini memuncak,
cinta itu tak kau simpan
sebagai kata-kata di beranda rumah,
melainkan kau bawa ke jalan-jalan sejarah.

Dan cinta itu
ternyata meminta harga yang amat mahal:
ialah pikiranmu,
ialah perasaanmu,
bahkan masa depanmu.

Kau membayarnya
tanpa gentar,
tanpa takut.

Dari Malang,
dari tanah Arema yang kau cintai,
kau semai harapan
agar negeri ini lurus jalannya,
agar permai masa depannya.

Bimo, ibu tahu kau tidak sendiri.

Di lorong waktu yang sama,
terselip nama-nama yang tak pernah selesai dicari:
Ibu masih ingat nama Herman Hendrawan, Suyat, Wiji Thukul dan entah siapa lagi

Nama-nama itu
Ibu eja satu demi satu
bagai litani panjang
bagi mereka yang teguh berdiri
di bawah selembar bendera,
membawa mimpi tentang Indonesia
yang lebih adil dan manusiawi.

Ada pula seorang kawan kalian
yang dahulu dikenal berbudi,
berjalan di barisan depan
bersama cita-cita yang sama.
Nama belakangnya konon melambangkan pesona dan karisma

Kini ia telah bersalin wajah
Otaknya yang cerdas telah ia simpan di belakang rumah

Musuh utamanya yang kini duduk di singgasana telah ia jilat-jilat
bahkan tanpa menimbang kalian, ia menyebutnya
tokoh yang layak memimpin Indonesia,
pemersatu bangsa,
manusia terbaik yang pernah dimiliki negeri ini

Kekuasaan
telah melumpuhkan nuraninya,
membius akalnya,
mengubah kesetiaan menjadi jabatan,
mengempaskan perjuangan menjadi kedudukan.

Sementara kalian
tetap tinggal dalam sunyi,
dalam daftar panjang
orang-orang yang tak pernah dikembalikan.

Kini,
Ibu menunggu Paskah yang kedua puluh sembilan,
untuk kembali berpaskah lagi denganmu di sini.

Di sini, ibu tak lagi menunggu ketukan
di pintu seperti biasanya di Malang.
Tak perlu lagi menempel-nempelkan telinga
di lubang kunci pintu untuk mendengar langkah kakimu di halaman.
Tak perlu lagi menanti di atas kehilangan.

Bimo anakku,
sesungguhnya ketika ibu masih di rumah kita,
ibu telah tiba pada keyakinan yang paling pilu sekaligus agung:
bahwa engkau telah lebih dahulu
merayakan Paskah Abadi,
di tempat ini
tempat yang tak dapat dijangkau penguasa,
tak dapat disembunyikan sejarah,
dan tak dapat dibungkam oleh ketakutan.

Di sini,
engkau telah bersinggasana
bersama mereka
yang dirampas dari pelukan keluarga,
namun tidak pernah berhasil dirampas
dari ingatan.

Bimo, anakku,
sudah dua puluh delapan kali Paskah berlalu,
puji Tuhan kita telah bersama di sini, di Surga Mulia
Ibu tak sabar lagi menanti Paskah keduapuluh sembilan

Emanuel Dapa Loka
KRL Jakarta, Medio Juni 2026

Related Post