Wed. Jun 17th, 2026
Messi, penyair bola

Emanuel Dapa Loka, penikmat bola

Segera setelah tirai Piala Dunia 2022 ditutup, dunia sepak bola ramai oleh satu keyakinan: itulah panggung terakhir bagi sejumlah bintang besar. Nama-nama seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Luka Modrić, dan beberapa legenda lain disebut-sebut tengah menapaki senja karier mereka.

Namun waktu ternyata belum selesai menuliskan kisah mereka. Bintang-bintang itu masih bersinar, masih memimpin skuadnya, bahkan tetap menjadi sandaran harapan jutaan penggemar.

Di antara sekian nama, Lionel Messi tetap menjadi pusat gravitasi perhatian. Pemain mungil milik Argentina yang dijuluki La Pulga—Si Kutu—itu kembali hadir di panggung terbesar sepak bola dunia.

Messi mencetak hatrick saat melawan Aljazair atau Algeria pada 17/06 pagi WIB. Tubuhnya boleh tak lagi muda, tetapi sihir yang tersimpan di kedua kakinya masih membuat dunia terpana.

Benar, Messi adalah bintang yang tetap bersinar menjelang usia 39 tahun. Nama Messi menggema sepanjang pertandingan. Betapa publik sepak bola sangat mencintai Messi, bahkan mungkin pendukung Aljazair tidak begitu kecewa yang amat saat gawang Zidane dijebol Messi. Ketiga gol Messi sangat segar untuk dinikmati.

Tentang arti seorang bintang dalam sepak bola, César Luis Menotti, legenda sekaligus filsuf sepak bola Argentina, pernah berujar, “Sepak bola tanpa bintang ibarat negeri atau dunia tanpa penyair.” Sebuah kalimat sederhana yang mengandung makna mendalam: sepak bola membutuhkan mereka yang mampu mengubah permainan menjadi keindahan.

Menotti tentu tahu betul apa yang ia katakan. Dialah pelatih yang membawa Argentina meraih gelar Piala Dunia pertama pada 1978, setelah menaklukkan Belanda 3-1 di partai final.

Bagi Menotti, sepak bola bukan sekadar kemenangan; ia adalah seni yang hidup di atas rumput hijau.

Maka pada Piala Dunia 2026 ini, ungkapan lama itu masih terasa relevan: “Messi adalah Argentina, dan Argentina adalah Messi.” Ketika Albiceleste berangkat menuju Amerika Utara, mereka membawa ambisi untuk mengharumkan nama bangsa. Namun di balik semangat itu tersimpan misi yang lebih personal: mempersembahkan kejayaan bagi Messi, sang kapten yang mereka hormati dan cintai.

Maklum, inilah kesempatan yang benar-benar terakhir bagi Messi untuk menorehkan babak penutup yang sempurna.

Di mata pelatih Lionel Scaloni, Messi tetap sosok sentral. Pengalamannya adalah kompas, ketenangannya adalah cahaya yang menuntun rekan-rekannya di tengah tekanan.

Karena itu, menjelang ulang tahunnya yang ke-39 pada 24 Juni, pertanyaan besar pun mengemuka: akankah Messi kembali menulis keajaiban demi keajaiban?

Kapten Argentina yang kini membela Inter Miami itu masih dipercaya mengenakan ban kapten. Dukungan dari ruang ganti dan staf pelatih terus mengalir. Sempat diganggu cedera otot ringan pada akhir Mei, Messi telah pulih dan kembali menunjukkan ketajamannya dengan mencetak gol internasional ke-117. Angka yang bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa api dalam dirinya belum padam.

Barangkali permainan seperti itulah yang dimaksud Menotti ketika ia mengucapkan kalimat ”Bola bagi pemain sepak bola adalah seperti kata-kata bagi penyair; di kaki atau di kepala sebagian dari mereka, ia menjelma menjadi sebuah karya seni.”

Dan jika sepak bola memang seni, maka Messi adalah salah satu penyair terbesarnya.

Messi tidak sekadar mengoper, menggiring, atau mencetak gol. Ia merangkai makna.

Setiap sentuhan bolanya seperti bait puisi yang lahir tanpa kata-kata, namun mampu dipahami oleh siapa saja, dari Buenos Aires hingga belahan dunia yang paling jauh.

Kini Argentina sedang mengayun langkah dengan hasil gemilang dalam pertandingan perdana berhadapan dengan Aljazair. Api semangat mereka tentu saja sedang onfire: ingin mempertahankan tropi juara sekaligus memberikan hadiah terindah untuk Messi, sebuah nama yang berasal dari bahasa Ibrani, yang berarti “yang diurapi”, atau dalam tradisi tertentu dimaknai sebagai mesias.

Saya memilih optimistis. Selama Messi masih berdiri di lapangan, selama bola masih bergulir di hadapannya, selalu ada kemungkinan terjadi keajaiban. Dan bila Piala Dunia 2026 ini benar menjadi milik Argentina, dunia akan kembali menyaksikan bagaimana seorang bintang menutup kisahnya dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seorang penyair.*

Related Post