
SEMARANG – Ada kalimat sederhana namun mengandung makna mendalam yang pernah disampaikan Irwan Hidayat. Ia mengatakan dirinya bukanlah pemilik Sido Muncul. “Pemiliknya Tuhan, saya hanya pekerja,” begitu kira-kira pandangannya.
Bagi sebagian orang, pernyataan itu mungkin terdengar filosofis. Namun melihat perjalanan dan tindakan sosial yang terus dilakukan perusahaan herbal terbesar di Indonesia itu, ucapan tersebut terasa makin mendekati kenyataan.
Di tengah dunia usaha yang sering diukur dari laba dan ekspansi, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk justru menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian dari denyut bisnisnya.
Bukan sekali dua kali. Bukan pula sekadar kegiatan seremonial. Ada kesinambungan, ada keyakinan, dan ada keberpihakan pada mereka yang lemah serta hidup dalam keterbatasan.
Irwan Hidayat tampaknya percaya pada satu prinsip sederhana: semakin banyak memberi, semakin besar kelimpahan yang datang. Filosofi itu tercermin dalam berbagai program kemanusiaan yang terus dijalankan perusahaan melalui produk andalannya, Tolak Angin.
Jumat, 8 Mei 2026, semangat itu kembali terlihat di Putussibau. Di kota perbatasan yang jauh dari hiruk-pikuk pusat bisnis nasional tersebut, Sido Muncul menggelar bakti sosial operasi katarak gratis bagi warga kurang mampu.
Sebanyak 100 mata penderita katarak ditargetkan mendapatkan tindakan operasi di RSUD dr Achmad Diponegoro. Kegiatan itu terlaksana berkat kerja sama dengan Asia Muslim Charity Foundation dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia Cabang Kalimantan Barat.
Dalam kegiatan tersebut, Irwan Hidayat secara simbolis menyerahkan bantuan senilai Rp150 juta kepada Direktur RSUD dr Achmad Diponegoro, Paulus Miki, S.Farm. Penyerahan bantuan turut disaksikan jajaran pemerintah daerah setempat.
Bagi Irwan, operasi katarak bukan sekadar program sosial. Ini adalah upaya memulihkan kehidupan seseorang. Sebab ketika penglihatan hilang, sebagian besar kualitas hidup ikut meredup.
Sejak 2011, Tolak Angin bersama PERDAMI telah mengoperasi lebih dari 57 ribu mata di seluruh Indonesia. Sementara sepanjang 2026 saja, sejak Januari hingga Mei, sudah 275 mata berhasil dioperasi.
Yang menarik, Irwan secara terbuka menyebut kegiatan seperti ini tidak semata dibiayai dari anggaran Corporate Social Responsibility (CSR). Sebagian bahkan berasal dari dana promosi perusahaan.
Di sinilah tampak cara pandang berbeda yang dianut Sido Muncul. Mereka tidak memisahkan antara bisnis dan kemanusiaan. Promosi bukan hanya soal menjual produk, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Karena itu, program sosial perusahaan tidak berhenti pada operasi katarak. Mereka juga terlibat dalam operasi bibir sumbing, penanganan stunting, promosi pariwisata daerah, hingga rencana penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Pendekatan semacam ini membuat Sido Muncul tampak tidak sekadar membangun citra perusahaan, tetapi juga membangun makna keberadaan bisnis itu sendiri.
Di tengah kompetisi industri yang keras, Irwan Hidayat justru menunjukkan bahwa keuntungan tidak selalu harus berakhir di laporan keuangan. Sebagian bisa kembali kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dan mungkin, dari situlah lahir keyakinan yang terus ia pegang: perusahaan hanyalah titipan. Manusia hanya bekerja menjalankan amanah. Sedangkan pemilik sejatinya tetap Tuhan.
Di wilayah perbatasan seperti Kapuas Hulu, kehadiran program operasi katarak gratis itu bukan hanya menghadirkan layanan kesehatan, tetapi juga harapan. Harapan bahwa masih ada dunia usaha yang melihat masyarakat kecil bukan sekadar pasar, melainkan sesama manusia yang perlu ditolong.
Apa yang dilakukan Sido Muncul melalui Tolak Angin setidaknya memberi pesan penting: bisnis dapat tumbuh tanpa kehilangan empati. Bahkan, justru dengan empati itulah sebuah usaha menemukan keberkahannya. (tD)

