
Oleh Emanuel Dapa Loka
Loh! Ada apa? Kok, ada larangan ”Mendoakan Doa Bapa Kami?” Jangan-jangan ini ajaran sesat dan menyesatkan?
Sangat mungkin pertanyaan yang disertai rasa heran tersebut muncul dalam pikiran anda setelah membaca judul di atas.
Jangan salah sangka. Saya tidak sedang melarang anda berdoa. Siapalah saya ini sehingga berani-berani melarang anda berdoa, apalagi Bapa Kami adalah doa yang Tuhan Yesus sendiri ajarkan. Doa ini tersua dalam Injil Matius 6:9-13 dan Injil Lukas 11:2-4.
Mari cermat sejenak. Seringkali kita mendengar ajakan dalam berbagai kesempatan baik dari pemimpin ibadat maupun Misa: Mari kita mendoakan Doa Bapa Kami. Tentu Anda pernah mendengar ajakan tersebut.
Segera setelah ajakan tersebut, secara bersama-sama umat mengucapkan Doa Bapa Kami itu. Ada mengucapkan cepat-cepat seperti dikejar harimau dari belakang sehingga selesai lebih dahulu.
Sebagian besar mengucapkannya dengan irama yang sama sehingga sama-sama tiba pada pengakhir doa, yakni ”Amin” yang bermakna kesetujuan atau iya atau sepakat dengan isi doa.
Lalu di mana persoalannya? Terletak pada kata ”Mendoakan”. Mendoakan berasal dari kata dasar ”Doa”. Setelah mendapat konfiks, yakni awalan me dan akhiran kan, ia mengandung arti melakukan tindakan ”Berdoa supaya”.
Misalnya mendoakan orang sakit supaya yang bersangkutan lekas sembuh, atau agar sabar menganggung rasa sakit. Atau mendoakan seseorang yang berulang tahun agar sehat selalu, panjang umur dan lekas mendapat jodoh.
Bagaimana dengan tindakan ”Mendoakan Doa Bapa Kami?” Setiap kali mendengar ajakan ”Marilah kita mendoakan Doa Bapa Kami”, saya sering bergumam ”Ada apa dengan Doa Bapa Kami, sehingga perlu didoakan?” Gumaman tersebut acap muncul karena saya merasa terganggu, walau saya pun paham maksud dari pengajak.
Doa Bapa Kami tidak sedang ”Kenapa-kenapa” alias sedang baik-baik saja sehingga tidak perlu didoakan. Sebenarnya, ini soal pilihan kata saja yang kurang tepat.
Daripada mengatakan ”Marilah kita mendoakan Doa Bapa Kami”, mengapa tidak mengatakan ”Marilah kita mendaraskan Doa Bapa Kami”? Atau kalau mau, bisa ditambahkan: Marilah kita mendaraskan Doa Bapa Kami dengan penuh hikmat”.
Bisa juga menggunakan kata “melambungkan” yang berarti mengatakan dengan suara atau malah menyanyikan.

