
Ada saat ketika seorang pesepak bola tidak lagi sekadar bermain sepak bola. Ia mengubah cara orang memandang permainan itu. Lionel Andrés Messi adalah salah satunya.
Lebih dari dua dekade mengenakan jersey Timnas Argentina, Messi akhirnya menjalani pertandingan terakhirnya bersama La Albiceleste. Perpisahan itu berlangsung di Estadio Monumental, Buenos Aires, Selasa (6/10/2026), ketika Argentina menghadapi Benin.
Ada sesuatu yang terasa lebih personal pada malam itu. Messi tidak sendirian datang ke lapangan. Ia membawa keluarganya. Tiga putranya, Thiago, Mateo, dan Ciro, ikut turun ke lapangan bersama sang ayah.
Seolah-olah sebuah perjalanan panjang hendak ditutup bukan hanya dengan sepak bola, tetapi juga dengan keluarga yang selama bertahun-tahun menjadi tempat Messi kembali.
Namun, perpisahan Messi dengan Timnas Argentina bukan sekadar cerita tentang seorang pemain yang meninggalkan lapangan. Ia adalah sebuah babak dalam sejarah sepak bola yang perlahan ditutup.
Dan mungkin, untuk memahami arti Messi, kita perlu kembali kepada sebuah kalimat César Luis Menotti, legenda sepak bola Argentina: “Sepak bola tanpa bintang ibarat dunia tanpa penyair.”
Messi telah membenarkan ungkapan itu. Ia bukan hanya bintang. Ia adalah penyair sepak bola.
Jika penyair menulis dengan kata-kata, Messi menulis dengan kakinya. Ia menulis melalui dribel pendek yang membuat lawan kehilangan arah.
Melalui umpan yang datang dari ruang yang tak terlihat. Melalui tendangan kaki kiri yang seolah memiliki bahasanya sendiri. Melalui gerak tubuh yang sederhana, tetapi mampu mengubah jalannya pertandingan.
Lapangan hijau menjadi kertasnya. Bola menjadi penanya. Dan setiap pertandingan menjadi halaman tempat ia menuliskan syair.
Dari keluarga sederhana
Penyair besar tidak selalu lahir dari panggung besar. Messi lahir di Rosario, Argentina, 24 Juni 1987, dari keluarga sederhana. Ayahnya, Jorge Messi, bekerja di sebuah pabrik besi. Ibunya, Celia Cuccittini, bekerja sebagai petugas kebersihan paruh waktu.
Di tengah keterbatasan itu, sepak bola tumbuh sebagai bagian dari kehidupan keluarga. Messi merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ia memiliki dua kakak laki-laki, Rodrigo dan Matias, serta seorang adik perempuan, María Sol.
Masa kecilnya tidak dibangun oleh kemewahan. Ia tumbuh bersama bola, keluarga, dan lingkungan yang membuatnya belajar mencintai permainan sejak usia sangat dini.
Ada pula sosok yang meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan sepak bolanya: sang nenek, Celia Oliveira Cuccittini.
Nenek inilah yang sejak kecil memberikan keyakinan terhadap bakat Messi. Ia menjadi salah satu orang yang selalu mendukung Messi ketika anak itu mulai menapaki dunia sepak bola.
Ketika Messi bergabung dengan Newell’s Old Boys pada 1995, sang nenek meninggal dunia. Kehilangan itu tidak pernah benar-benar hilang dari kehidupan Messi.
Setiap kali mencetak gol, Messi memiliki kebiasaan menunjuk kedua telunjuknya ke langit. Selebrasi itu menjadi tanda penghormatan kepada nenek yang dipercaya menjadi salah satu sumber keyakinannya sejak kecil.
Dengan cara sederhana itu, Messi seakan mengatakan: ada orang-orang yang tidak lagi berada di tribun, tetapi tetap hadir dalam setiap keberhasilan.
Keluarga yang tumbuh bersama karier
Perjalanan Messi kemudian membawanya jauh dari Rosario. Tetapi keluarga tetap menjadi bagian penting dari hidupnya.
Bukan hanya ayah dan ibunya. Saudara-saudaranya, kerabat, dan orang-orang terdekat ikut menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang anak Rosario menuju panggung sepak bola dunia.
Dalam keluarga besarnya, sepak bola bahkan menjadi semacam bahasa bersama. Beberapa sepupunya juga berkarier sebagai pesepak bola, antara lain Maximiliano Biancucchi dan Emanuel Biancucchi.
Namun, dari seluruh kisah keluarga Messi, barangkali kisah bersama Antonela Roccuzzo menjadi salah satu yang paling dikenal.
Messi dan Antonela telah mengenal satu sama lain sejak masa kanak-kanak. Hubungan yang tumbuh dari kedekatan itu akhirnya membawa mereka ke pernikahan pada 2017.
Dari pernikahan tersebut lahir tiga putra: Thiago, Mateo, dan Ciro. Mereka bukan sekadar nama yang menghiasi kehidupan pribadi Messi. Ketiganya tumbuh menyaksikan ayah mereka menjalani salah satu karier sepak bola paling panjang dan penuh warna dalam sejarah modern.
Kini, ketika Messi memasuki pertandingan terakhirnya bersama Argentina, ketiga anak itu hadir di sisinya. Sebuah lingkaran seperti sedang ditutup.
Anak dari Rosario yang dahulu bermain bola bersama saudara-saudaranya kini berdiri di stadion besar Buenos Aires bersama anak-anaknya sendiri.
Dulu ia mengejar bola. Kini anak-anaknya menyaksikan jejak yang telah ia tinggalkan.
Sepak bola sebagai karya seni
Tetapi warisan terbesar Messi mungkin tidak dapat dihitung hanya dengan jumlah gol, trofi, atau penghargaan.
Angka-angka memang penting. Namun, Messi memberikan sesuatu yang lebih sulit diukur: keindahan. Ia membuat sepak bola terasa seperti karya seni.
Ada pemain yang membuat kita menghitung. Ada pemain yang membuat kita berdebat. Tetapi ada pemain yang membuat kita terdiam.
Messi berkali-kali berada di wilayah itu. Ketika ia menerima bola, pertandingan seperti berhenti sesaat. Beberapa pemain lawan mendekat. Messi bergerak. Satu pemain dilewati. Pemain kedua menyusul. Ruang sempit terbuka. Bola tetap dekat dengan kakinya.
Lalu tiba-tiba, sebuah umpan. Atau sebuah tembakan. Atau sebuah gol. Semuanya berlangsung dalam hitungan detik.
Namun, di mata penonton, gerakan itu seperti sebuah kalimat panjang yang ditulis tanpa satu kata pun.
Di situlah Menotti menjadi relevan. Sepak bola memang membutuhkan sistem, strategi, fisik, disiplin, dan kerja kolektif. Tetapi bintang memberi permainan itu sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat diajarkan melalui papan taktik: imajinasi.
Dan Messi memiliki imajinasi itu. Ia membuat hal yang tampaknya mustahil menjadi masuk akal. Ia membuat ruang sempit terasa luas. Ia membuat pemain bertahan terlihat kehilangan waktu. Ia membuat jutaan orang di seluruh dunia menunggu apa yang akan dilakukan sebuah kaki kiri.
Karena itu, Messi tidak sekadar bermain sepak bola. Ia menafsirkannya. Ia memberi permainan itu bahasa.
Penyair sepak bola
Mungkin itulah sebabnya Messi akan dikenang jauh melampaui statistik.
Penyair tidak dikenang hanya karena jumlah puisinya. Ia dikenang karena kata-katanya pernah menyentuh manusia. Begitu pula Messi.
Ia akan dikenang karena pernah membuat orang berdiri dari kursi. Membuat anak-anak berlari membawa bola dan mencoba meniru gerakannya. Membuat orang yang tidak terlalu memahami taktik sepak bola tetap mampu merasakan keindahan sebuah dribel, umpan, atau gol.
Ia membuat sepak bola menjadi pengalaman estetik.
Dan pada akhirnya, karya seni selalu membutuhkan penonton. Messi memiliki jutaan bahkan miliaran penonton yang mengikuti puisinya selama lebih dari dua dekade.
Kini sebuah babak telah selesai. Di Estadio Monumental, Buenos Aires, ia berdiri bersama anak-anaknya. Seorang ayah yang pernah menjadi anak Rosario. Seorang pemain yang pernah bermimpi. Seorang manusia yang sepanjang hidupnya ditemani keluarga.
Dan seorang seniman yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya menulis. Bukan dengan tinta. Bukan dengan pena. Melainkan dengan kaki.
Lapangan hijau adalah kanvasnya. Bola adalah bahasanya. Gol adalah tanda bacanya. Dan ketika akhirnya ia menutup buku Timnas Argentina, mungkin kita baru benar-benar menyadari betapa panjang dan indah puisi yang telah ditulisnya.
Messi telah membenarkan Menotti: sepak bola tanpa bintang memang seperti dunia tanpa penyair. Dan Messi adalah salah satu penyair terbesar yang pernah dimiliki sepak bola. Ia tidak menulis syair dengan kata-kata. Ia menulisnya dengan kakinya. (tD)

