Empat Alasan Yesus Dianggap ”Tidak Waras”

Pater Kimy Ndelo CSsR, Salam dari Biara Santo Alfonsus-Konventu Weetebula, Sumba, NTT

“Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.” (Mrk 3:21).

Yesus dianggap “tidak waras lagi” oleh kaum keluarganya. Mengapa demikian? Paling tidak ada empat alasan.

Pertama: Yesus telah meninggalkan pekerjaan dan rumah yang nyaman sebagai seorang tukang kayu dan memilih menjadi pengkhotbah keliling tanpa penghasilan dan tempat tinggal yang tetap.

Kedua, Yesus memilih para nelayan sederhana yang tidak memiliki pengaruh politik dan sosial, para pemungut pajak dan orang-orang zelot fanatik, sebagai murid-murid-Nya.

Ketiga, Yesus mulai mengeritik orang-orang berpengaruh di Yerusalem, orang-orang Saduki dan Farisi, sebagai orang-orang munafik. Keluarga-Nya takut bahwa Dia akan ditangkap dan diadili karena mengkritik penguasa saat itu.

Keempat, Yesus secara diam-diam mengakui diri-Nya sebagai Mesias yang sudah lama dinantikan dan menjadikan tindakan-tindakan mukjizat-Nya sebagai bukti pendukung klaim-Nya itu.

Tindakan mukjizat inilah yang diragukan, baik oleh keluarga-Nya maupun oleh para lawan-Nya, tokoh-tokoh agama. Mereka menganggap Yesus, entah terlalu meninggikan diri atau dikuasai oleh iblis sehingga mampu melakukan hal-hal di luar nalar manusia.

Melawan keraguan ini lalu Yesus menggunakan counterargument: kekuatan iblis sebagai kerajaan yang terpecah-belah jika Dia menggunakan kekuatan mereka untuk mengusir sesama Iblis. Setan tidak mungkin merusak dirinya sendiri. Kejahatan tidak mungkin menghancurkan kejahatan.

Maka kesimpulannya jelas: Hanya kebaikanlah yang bisa mengalahkan kejahatan. Dan jika Yesus menghancurkan Iblis, maka kekuatan-Nya jelas berasal dari Tuhan.

Menolak percaya akan hal ini berarti membutakan mata hati dan merupakan tindakan menghujat Roh Kudus.

Pilihan-pilihan hidup untuk menjawab panggilan Tuhan tak  selamanya sejalan dengan pemikiran orang lain, bahkan orang terdekat sekalipun. Apalagi kalau pikiran dan perbuatan itu melawan kejahatan. Karena itu Yesus mengatakan “dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Mat 10:36).

Kejahatan bisa datang dari siapa saja. Siapa yang melawan kejahatan bisa jadi akan berhadapan dengan orang-orang terdekatnya.

Gereja Terpecah

Sekelompok jemaat yang telah berkembang makin besar membutuhkan gedung gereja yang baru. Setelah bangunan itu selesai dibangun, muncul perselisihan tentang di sisi mana mana mereka harus meletakkan piano.

Perdebatan terjadi, kemarahan berkobar, dan Gereja akhirnya terpecah. Pihak yang kalah keluar dan mendirikan kelompok jemaat yang baru. Pihak yang “menang” tetap menggunakan gereja tersebut, tetapi mereka tidak lagi membutuhkan tempat duduk tambahan dan tidak mampu membayar biaya pemelihaaran. Akhirnya mereka harus menjual bangunan itu.

Jangan-jangan perpecahan dalam gereja dan di mana saja merupakan karya iblis yang tidak kita sadari!**