Sebanyak 18 Uskup Rayakan HUT ke-18 Karina pada 17 Mei

JAKARTA-Berselang dua  hari (17/5) setelah peresmian dan pemberkatan gedung baru KWI di Jl. Cut Meutiah No. 10 Jakarta Pusat, 18 orang uskup merayakan Misa Syukur HUT ke-18 Karina atau Yayasan Caritas Indonesia.

Perayaan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Presidium KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin sebagai konselebran utama, dan dihadiri pengurus Karina,  para undangan, donatur termasuk istri pengusaha Henry Soetio (Alm).

Bersamaan dengan Misa tersebut, Karina juga melakukan “Pameran Foto” seputar karya-karyanya di berbagai tempat dan dalam aneka peristiwa kemanusiaan.

Dalam khotbahnya Mgr Anton mengapresiasi para pengurus Karina, relawan, para donator dan semua yang terlibat dalam karya kemanusiaan.

Dalam khotbah yang sama, Uskup Bandung menguraikan perbedaan esensial antara pelayanan yang dilakukan oleh seorang beriman dengan yang tidak.

Untuk menjelaskan hal ini Uskup Anton mengutip teolog Tom Jacobs SJ (Alm). Kata Romo Tom Jacobs, jelasnya, kedua-duanya baik tetapi maknanya berbeda. Bagi orang ateis, kebaikan selesai begitu saja setelah dilakukan di dunia ini. Tetapi bagi orang yang beragama atau beriman, lain.

“Bagi orang beriman, perbuatan baiknya ada kaitan dengan kehidupan yang akan datang. Ada makna plus ketika melayani karena komitmen pelayanannya ditempatkan pada imannya kepada Allah. Bahkan bagi banyak orang, pelayanan ditempatkan dalam konteks ‘Saya melayani Tuhan karena Tuhan telah mengasihi saya, maka saya tergerak untuk melayani’,”elas Uskup dari Ordo Salib Suci ini.

Pada bagian lain khotbahnya, Uskup Anton menyebut, syarat menjadi gembala adalah mengasihi Tuhan. “Kalau tidak mengasihi Tuhan, tidak usah jadi gembala karena nanti bukannya membina umat, tapi bisa membinasakan,” katanya disambut tawa umat.

Lanjutnya, Yesus menyerahkan penggembalaan Gereja-Nya hanya kepada orang-orang yang mencintai-Nya. Demikian juga Tuhan menyerahkan karya-karyanya, hanya kepada orang-orang yang mempunyai kasih kepada Yesus.

Uskup Anton memberi contoh percakapan Yesus dengan Petrus. Yesus bertanya kepada Petrus, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka? Menurut Uskup Anton, Petrus kelagapan menjawab karena sebelumnya ia menyangkal Yesus tiga kali. “Bagaimana mungkin dia mengasihi Yesus? Mengasihi Yesus saja dia malu.  Bagaimana dia mengasihi Yesus, mengikuti saja tidak setia? Bagaimana ia berani mati bagi Yesus, membela saja takut,” katanya.

Namun, jelas Uskup Anton lebih jauh, dalam kelemahannya Petrus mengatakan, “Tuhan Engkau tahu aku mengasihi Engkau lebih dari segala sesuatu.”

Dalam Bahasa Yunani, ada lanjutannya: Apakah engkau mengasihi Aku sampai mati? Petrus di sini mengatakan: aku mencintaimu sebagai sahabat. Sementara Yesus menuntut Petrus memiliki cinta agape sampai mati.

Hadirkan Belarasa

Tentang Karina, Uskup Anton menjelaskan bahwa Karina tidak hanya menyumbang untuk bencana di dalam negeri, tapi juga di luar negeri, termasuk ke Turki.

Melalui karya-karyanya, Karina Indonesia hendak menghadirkan belarasa gereja dan dalam kesatuan dengan gereja universal. Karina menghadirkan gereja sinodal yang berjalan bersama dalam karya belarasa.

“Karena itu, dengan cara yang pantas dan sikap cukacita dan sukarela, Karina melakukan berbagai tindakan pertolongan karena tergerak oleh belas kasih. Selama 18 tahun, Karina telah melakukan tindakan preventif lewat advokasi dan mitigasi termasuk pencegahan tindak kriminal perdagangan orang. Lewat tindakan kurasi, Karina menyembuhkan orang dan membantu pemulihan daerah yang terkena bencana,” jelas Uskup seraya mengapresiasi.

Membantu orang jelasnya, bukan sekadar memberikan bantuan-bantuan material, tetapi bagaimana mengajak orang yang dibantu mengalami disentuh oleh Tuhan, bahkan ditebus oleh Allah hingga bersyukur kepada Allah.

“Semoga Karina Indonesia semakin menjadi tanda kehadiran epifani – belarasa Ilahi dalam hidup insani yang membutuhkan belas kasih Allah,” pungkas Uskup yang selalu enerjik ini.

Direktur Caritas Nasional Romo Freddy Rantetaruk Pr

Caritas Nasional

Sebelumnya kepada tempusdei.id, Direktur Karina Romo Freddy Rantetaruk Pr menjelaskan bahwa Karina didirikan pada 17 Mei 2006.

Jelas Romo Freddy, sebelumnya secara internasional sudah ada Caritas Internasional, bahkan sudah berusia lebih dari satu abad. “Caritas ini bagian dari pelayanan utama Gereja Katolik di bawah paus langsung. Maka sebenarnya, di setiap negara yang memiliki konferensi waligereja, ada Caritas Nasional,” jelas imam asal Keuskupan Agung Makassar ini.

Seharusnya tambah Romo Freddy, Gereja Katolik Indonesia memiliki Caritas Nasional, namun dalam sejarahnya, Gereja Katolik Indonesia memiliki PSE yang pada 2006 sudah berusia hampir 40 tahun dan sudah mengambil bagian dalam pelayanan kemanusiaan, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan sosial dan ekonomi umat.

“Namun Komisi PSE tidak memiliki komisi tanggap darurat dan tanggap bencana. Setelah berbagai bencana seperti tsunami Aceh, bencana Padang, Sibolga, kita didorong oleh Caritas Internasional untuk untuk memikirkan segera berdirinya Caritas Nasional,” jelas Romo Freddy.

Sejak berdirinya jelas Romo Freddy, Caritas Nasional sudah berusaha hadir memberikan berbagai pelayanan baik di dalam maupun luar negeri, termasuk ke Turki. (EDL)