NARSIS

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR

Kita mengenal istilah NARSIS atau Narsisme. Istilah tersebut berasal dari mitologi Yunani dan mengacu pada seorang pemuda tampan, Narcissus, seorang pemburu yang sombong.

Ia adalah putra Dewa Sungai Cephissus dan bidadari Liroipe dan dikenal karena ketampanan fisiknya.

Terhadap orang-orang yang jatuh cinta kepadanya, dia suka menghina dan mencemooh.

Tingkah lakunya membuat Nemesis (dewi yang menghukum perbuatan jahat, mengatasi kesombongan, dan nasib baik yang tidak selayaknya diperoleh). Dia menuntun pemuda itu ke sebuah kolam yang jernih di mana dia melihat dan jatuh cinta dengan ketampanan wajahnya yang dia lihat terpantul di sana.

Dia begitu terobsesi dengan gambaran wajah dirinya sendiri sampai dia tidak makan atau minum, dan akhirnya mati sia-sia.

Sikap narsis juga bisa menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Nabi Maleakhi dalam bacaan pertama dan Yesus dalam Injil hari ini bereaksi keras terhadap narsisme semacam itu di kalangan pemimpin agama pada zaman mereka.

“Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang” (Mat 23:4).

Kata-kata Yesus ini adalah kritik yang sangat keras kepada para pemimpin agama. Yesus menantang mereka yang menyalahgunakan agama menjadi sebuah kesempatan untuk mendapatkan kehormatan, kemuliaan, dan kekuasaan pribadi.

Yesus menuduh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mencari bagi diri mereka sendiri kemuliaan yang merupakan hak Allah.

Mereka berpakaian dan bertindak sedemikian rupa sehingga menarik perhatian pada diri mereka sendiri dan bukannya memuliakan Tuhan. Karena semangat mereka yang salah terhadap agama, mereka mencari rasa hormat dan kehormatan bagi diri mereka sendiri.

Cara mereka ini menjadikan agama sekedar sarana untuk pamer diri sendiri.

Semangat narsisme semacam ini bisa terjadi pada pemimpin agama saat ini juga. Dalam dunia dimana follower menjadi bagian penting kesuksesan seseorang, sikap narsis akan tumbuh subur.

Pada para pengkotbah, Yesus hanya menjadi batu loncatan untuk popularitas mereka. Mereka dikenal dengan mudah tetapi Yesus tidak cukup dikenal.

Semangat narsisme juga bisa berjangkit pada siapa saja selama dia merasa diri orang penting, berkuasa, dan punya status serta berpenampilan menarik.

Selalu berusaha menarik perhatian pada diri sendiri merupakan bentuk narsisme yang bisa menghancurkan diri sendiri.

Khayalan

Bos ada di kantor barunya. Seorang karyawan masuk. Bos mengangkat telepon dan memulai percakapan khayalan yang menyanjung dirinya sendiri. Dia memberi isyarat kepada pekerja itu agar menunggu karena dia sedang sibuk bicara di telpon. Karyawan itu berkata, “Lanjutkan bos. Saya di sini siap untuk menghubungkan kabel telepon Anda.

“Hati yang sombong, seperti pagar yang bengkok”. (Ben Franklin)

Salam dari Biara Redemptoris Taman Bougenville, Bekasi, JABAR.