Berjalan dalam Badai

31
badai akan berlalu

Pater Kimy Ndelo, CSsR

Pada suatu musim dingin, di tengah kegelapan malam, di sebuah daerah pertanian kecil di Midwest, Amerika, sebuah rumah berlantai dua dari sebuah keluarga muda terbakar. Dengan cepat, orang tua dan anak-anak mengikuti rencana darurat mereka yang sudah dilatih dengan baik dan berjalan melewati rumah yang dipenuhi asap ke halaman depan.

Di sana sang ayah dengan cepat menghitung dan menyadari bahwa putra mereka yang berusia 5 tahun tidak ada di antara mereka. Tiba-tiba dia mendengar tangisan dan mendongak untuk melihat anak laki-laki di jendela kamar tidurnya, menangis dan menggosok matanya. Masuk kembali ke rumah terlalu berbahaya. Dengan cepat, sang ayah memanggil putranya, “Lompat, Nak! Saya akan menangkapmu!”

Di antara isak tangisnya, bocah itu menanggapi suara yang sangat dikenalnya. “Tapi aku tidak bisa melihatmu, Ayah!” Sang ayah menjawab dengan sangat yakin. “Tidak, Nak, kamu tidak bisa melihatku, tapi aku bisa melihatmu! Lompatlah!”

Saat itu, anak laki-laki itu melompat ke dalam kegelapan berasap dan mendapati dirinya dengan aman ditangkap dalam pelukan ayahnya.

Miliki Iman
Bacaan Kitab Suci kita hari ini berbicara tentang percaya – tentang memiliki Iman – tentang kemampuan menyadari fakta bahwa Tuhan selalu bersama kita, bahkan dalam badai kehidupan. Yesus berjalan di atas air menjumpai murid-murid-Nya di tengah angin badai. (Mat 14:22-33).

Kitab Suci Perjanjian Lama mencatat tentang Allah berjalan di atas air (mis., Ayub 9:8; Habakuk 3:15; Mzm 77:20). Atas dasar ini ada penafsiran bahwa apa yang dibuat Yesus adalah sebuah teofani yang berarti bahwa Yesus menyatakan diri-Nya kepada murid-muridnya sebagai Tuhan dengan membuktikan penguasaannya atas laut. Bahkan gambaran ini diperkuat lagi dengan fakta bahwa Yesus mampu meredakan badai dan laut yang bergelora, suatu gambaran tentang kekacauan yang sulit diatur dan yang dihuni oleh roh jahat.

Itulah sebabnya para murid dengan mudah menganggap Yesus adalah hantu. Dan cara untuk mengusir hantu adalah dengan berteriak-teriak. Inilah yang dilakukan para murid sampai Yesus memberi tahu mereka;
“Tenanglah. Aku ini. Jangan takut!.”

Setelah sadar akan hal itu lalu orang-orang di perahu menyembah Yesus dan menyatakan dia benar-benar Anak Allah.

Tidak ada seorang manusia pun yang bisa berjalan di atas air seperti Yesus. Sekelas Musa saja harus membutuhkan kuasa Allah mengeringkan laut supaya bisa berjalan di tanah yang kering.

Hal yang tak kalah menarik adalah Petrus. Disini dia meminta untuk berjalan seperti Yesus tetapi lalu ketakutan dan nyaris tenggelam. Petrus memang nyaris tenggelam karena kurang beriman. Tetapi apa yang dibuatnya adalah sebuah lompatan iman yang tidak dimiliki oleh para murid yang lain.

Begitu dia mengenal Yesus, keberaniannya muncul seketika. Bukan karena hendak “show of force”, melainkan karena yakin bahwa dekat Yesus dia tidak mungkin tenggelam, sekalipun berjalan di atas air yang diliputi angin badai.

Lompatan iman macam ini dibutuhkan dengan segala risiko. Mungkin ini bukan cara yang dianggap bijak tetapi hidup dalam iman tak selalu mengikuti alur yang biasa-biasa saja. Butuh keberanian untuk memberi kesaksian bahwa kuasa Tuhan mengatasi kuasa alam. Butuh keberanian untuk mendatangi Tuhan sekalipun jalan ke arah itu penuh bahaya. Butuh keberanian untuk berjalan di dalam badai karena hanya dengan cara itu kita bisa dekat dengan Tuhan dan membiarkan Dia menolong kita.

Tindakan Petrus bagaikan anak kecil yang melompat dalam kegelapan malam dengan penuh keyakinan bahwa ayahnya akan menangkap dia dengan selamat.

Salam dari Biara Yohanes  Neumann, Taman Bougenville, Bekasi, Jawa Barat