Cacatan Ringan: Ganjar Pranowo, Pilihan Terbaik Mega

407
Megawati dan Ganjar Pranowo. "Yes untuk Ganjar".

Emanuel Dapa Loka, Wartawan, tinggal di Bekasi

Jika informasi yang beredar benar, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri akan mengumumkan atau mendeklarasikan Calon Presiden PDIP pada ulang tahun “Partai Moncong Putih” itu pada momentum ulang tahun PDIP, 10 Januari 2023.

Lantas,  “Siapa yang akan dideklarasikan itu”? Pertanyaan tersebut muncul mengingat sejauh ini ada dua nama kader PDIP yang selalu muncul, yakni Ganjar Pranowo dan Puan Maharani.

Salah satu alat ukur untuk menilai tingkat elektabilitas seseorang (di kancah mana pun) adalah hasil survei. Tentu saja, survei harus dilakukan oleh lembaga survei kredibel, bukan LSJ atau “Lembaga Survei Jadi-jadian”. Sebab, untuk kepentingan tertentu, bisa saja, tahu-tahu muncul hasil penelitian LSJ dengan hasil yang meragukan atau “jadi-jadian”.

Sejauh ini, hasil survei dari beberapa lembaga survei kredibel menempatkan Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan di “tiga besar” calon Presiden RI.

Pertanyaannya, berdasarkan apa sebuah partai menentukan seseorang layak dicapreskan? Pasti banyak syarat yang harus dipenuhi. Elektabilitas berdasarkan survei bukan satu-satunya. Atau malah, tingkat elektabilitas menempati urutan ke-99.

Masih banyak syarat mendasar lain yang harus dipenuhi seperti bagaimana ideologi, pengalaman, rekam jejak dalam banyak hal, keterterimaan dalam internal partai, eksternal partai dari calon dan seterusnya. Meski begitu, hasil survei tidak bisa diabaikan begitu saja.

Konteks Ganjar

Mari bicara konteks Ganjar Pranowo. Ganjar ini bukanlah kader kaleng-kaleng di tubuh PDIP. Dia salah satu kader terbaik yang telah makan asam garam baik secara ideologi partai maupun kerja-kerja partai.

Dan dalam rekam jejak kepemimpinan, dia juga tidak bisa dianggap sepi. Terakhir, dia pernah menjadi anggota DPR. Dia adalah Gubernur Jawa Tengah dua periode berturut-turut. Dan dalam memimpin, dia terterima oleh rakyatnya dengan gaya kepemimpinan yang smart, lembut, namun pada saat-saat tertentu bisa garang.

Dia adalah sosok pembela Pancasila yang berani. Banyak bukti tentang hal ini.

Ganjar adalah tipe pemimpin milenial, yang dekat dengan semua kalangan, terutama kaum melek teknologi. Dan karenanya dia tahu bagaimana menyapa dan mengajak generasi milenial untuk mengambil peran dalam membangun bangsa ini. Melalui cara apa lagi yang efektif dalam menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi di era semacam ini?

Dan sekali lagi, walau elektabilitas bisa diletakkan di urutan ke-99, namun tidak bisa diabaikan. Mengapa? Justru karena berbagai syarat lain telah terpenuhi sehingga elektabilitas tinggi.

Dengan kata lain, elektabilitas yang tinggi hanyalah sebentuk “deklarasi” bahwa yang bersangkutan layak menjadi Capres. Atau justru bisa dikatakan, karena Ganjar memenuhi aneka syarat pentinglah, maka elektabilitasnya tinggi.

Ganjar tidak tiba-tiba muncul, lalu dipilih dalam survei-survei itu secara spontan. Rakyat Indonesia sudah berada di era terbuka dan bisa menyelisik sendiri aneka informasi sebelum menentukan pilihannya.

Ingat! Sosok-sosok yang lain berada pada era dan panggung terbuka yang sama. Lantas, mengapa responden tidak memilih mereka?

Kalau hanya satu atau dua lembaga survei yang menempatkan Ganjar di posisi tertinggi, terutama di antara kader PDIP sendiri, barangkali orang masih berpikir skeptis, jangan sampai ini permainan. Tapi hasil semua lembaga survei menunjukkan hasil yang sama atau mirip-mirip.

Berdasarkan hal-hal di atas, termasuk hasil survei, bagi saya, ”Yes untuk Ganjar”. Dan berdasarkan catatan yang sama, saya yakin bahwa Megawati pun “Yes untuk Ganjar”.

Jika demikian, PDIP akan mencatat rekor hatrict memenangi Pilpres. Kalau bukan sekarang, pasti masih lama lagi memenangi Pilpres. Hasil deklarasi 10 Januari 2023 sangat menentukan.

Rakyat telah menunjukkan “hak prerogatifnya” dengan logikanya sebagai rakyat. Akankah Megawati memiliki pilihan sendiri dengan logikanya sendiri yang teralienasi dari logika rakyat? Kita tunggu saja.*