Pendidikan: Fondasi Membangun Bangsa dan Negara

423

Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada, dan Pemerhati Pendidikan

Pendangkalan pengetahuan dan pengertian dalam banyak segi, secara fenomenal menggejala di masyarakat. Pendangkalan tersebut dapat terjadi karena munculnya paham konsumerisme, dan hedonisme yang melahirkan budaya instan, ingin cepat, dan mudah tetapi tidak membentuk karakter bangsa.

Dalam budaya instan, para murid di tingkat remaja secara potensial dapat mengabaikan proses formatif yang dianggap mengganggu kenyamanan, khususnya bagi mereka yang merasa diri “bebas” dalam arti sempit. Mereka cenderung malas membaca, menulis, menghitung, dan berkreasi. Hasilnya jelas, berdasarkan hasil Program for International Student Assessment (PISA) 2019. tingkat literasi, matematika, dan sains di Indonesia tergolong rendah yakni pada peringkat 70-an dari 77-78 negara.

Profil siswa SD Katolik Pero, Sumba, NTT. (Foto: EDL)

Kualitas pendidikan yang kurang baik pada satu sisi menjadi cermin bagi para pendidik untuk memperbaiki kualitas profesi mereka sebagai guru. Sementara pada sisi lain memantik semangat bagi sekolah-sekolah untuk bergandeng tangan melakukan gerakan bersama meningkatkan kualitas pendidikan di tingkat daerah maupun nasional.

Bukti Sejarah

Kilas balik sejarah Indonesia membuktikan, bahwa melalui jalan pendidikan generasi muda terbangun kesadaran bersama untuk memperbaiki kualitas bangsa. Penanda kebangkitan nasional di era penjajahan Belanda, dimulai dari STOVIA, kaum terpelajar Hindia Belanda bersatu dalam organisasi Budi Utomo, yang dibentuk pada tanggal 20 Mei 1908.

Kaum muda terpelajar mulai memikirkan nasib bangsa dalam skala terbatas pada waktu itu, tetapi gema pengaruh kebangkitan meluas dan dapat memantik inspirasi lanjutan bagi tokoh-tokoh pemuda sezaman untuk berjuang bagi kepentingan bangsa dalam skala lebih luas. Tokoh-tokoh muda yang cerdas, dan dididik dengan cara yang baik rupanya menghasilkan pemimpin-pemimpin Indonesia yang luar biasa.

Di awal kemerdekaan Indonesia, Ki Hajar Dewantara (1889-1959), selaku Menteri Pengajaran menulis surat instruksi tertanggal 29 September 1945. Dalam instruksi bagi guru-guru dan unsur pimpinan sekolah, Ki Hajar mengatakan, “Dasarkanlah segala usaha pendidikan dan pengajaran pada dasar kebangsaan Indonesia dalam arti yang luas, tinggi, dan dalam, ….”

Selanjutnya Ki Hajar menegaskan, “Peliharalah dan kuatkanlah rasa cinta nusa dan bangsa dalam hati sanubari murid-murid … dengan memasukkan semangat kebangsaan dalam segala pelajaran, ….”

Dalam tulisan instruksi tersebut, Ki Hajar secara khusus mau mengatakan bahwa pendidikan anak-anak bangsa merupakan formasi esensial dan tidak dapat ditawar-tawar untuk diberikan kepada generasi muda. Dengan begitu, mereka mempunyai rasa cinta tanah air, dan bersedia untuk terlibat aktif membangun Indonesia menjadi negeri yang lebih baik dan bermartabat.

Profil para siswa SDK Wanno Baru, Sumba Barat Daya, NTT.

Pendidikan usia dini, dasar, menengah, dan tinggi dengan demikian merupakan rangkaian pembinaan integral yang berkesinambungan. Pendidikan berjenjang diupayakan untuk mengkristalkan pesan-pesan formatif berupa pengetahuan dan pengertian mendalam terkait hakekat kajian bertahap sesuai tingkatan belajar.

Semakin tinggi tingkat pendidikan warga negara, banyak hal problematika bangsa dapat diurai dan dihadapi melalui aneka solusi kreatif.  Tokoh pendidikan, Daoed Joesoef (1926-2018) secara terbuka mengemukakan bahwa ketahanan dan kekuatan suatu bangsa terletak pada bidang pendidikan. Pendidikan secara bertahap menghasilkan profil lulusan andal yang dapat mengisi kemerdekaan bangsa melalui bangunan mental berkualitas guna memajukan negara menjadi lebih baik.

Pendidikan usia dini, dasar, menengah, dan tinggi terkait langsung dengan kata didik yang di dalamnya mengandung ajaran yang dibagikan lewat berbagai macam cara pedagogis. Salah satu cara terbaik yang dapat digunakan, yaitu mengajarkan materi ajar ke generasi muda mengenai esensi tata nilai yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa.

ilustrasi. (Dok Universitas Pakuan)

Pendiri bangsa mempunyai cita-cita luhur yang menjadi tujuan bersama ketika memproklamirkan negara bangsa (nation state). Tujuan pendirian negara Indonesia terumus sangat jelas dalam mukadimah UUD 1945, alinea keempat, yaitu “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpahan darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Menghargai Pahlawan

Bangsa besar seperti Indonesia, selain menghargai para pahlawan yang sudah berjuang untuk negeri, juga menghargai proses formatif bagi anak-anak bangsa supaya mereka menjadi cerdas, mempunyai nurani jernih, peduli, dan mampu bertanggung-jawab. Proses formatif mengandaikan ketersediaan tenaga pendidik yang berkualitas dalam sekolah-sekolah di seluruh wilayah Indonesia.

Oleh karena itu kesadaran untuk membangun pendidikan bermutu, menjadi gerakan bersama untuk menyelenggarakan karya pendidikan di banyak tempat. Kendati wilayah Indonesia yang begitu luas, jangkauan karya pendidikan berkualitas diharapkan meluas sampai ke pelosok-pelosok di seluruh negeri. Indikasi karya pendidikan bermutu bukan berati sekolah ditunjang segala sarana prasarana, tetapi lebih jauh, secara metodik pendidik sebagai persona dapat melakukan animasi perangkat ajar ke dalam pendidikan yang mencerdaskan.

Pendidikan berkualitas yang menimbulkan rasa cinta tanah air, perlu dibuat berdasarkan karakter anak-anak bangsa. Indonesia mempunyai dimensi kultural yang begitu kaya, sebagai local genius. Local genius menurut F.D.K Bosch (dalam Riyani, 2015) dipahami sebagai kemampuan yang dimiliki suatu pendukung budaya untuk membuktikan seberapa kuat dasar-dasar kepribadian kultural “alumni” pada saat menghadapi akulturasi budaya. Beberapa ahli lain menyebut local genius sebagai kearifan lokal yang terkait langsung dengan kecerdasan masyarakat pendukung kebudayaan.

Pendidikan yang memperhatikan dimensi kultural akan lebih efektif bekerja karena konteks kehidupan budaya para murid yang diwarisi oleh orangtua mereka mendapatkan tempat yang layak di dalam ruang edukatif. Dengan demikian, pendidikan berkualitas yang mereka alami tidak lagi dirasa asing.

Pendidikan bermutu sangat memperhatikan proses menjadi atau the process of becoming. Proses menjadi, dalam pendidikan nasional, dilakukan sesuai jenjang berdasarkan usia, bakat, perkembangan psikologis peserta didik. Dalam proses menjadi mengandaikan adanya prasyarat pendukung yang jelas. Misalnya, profil lulusan pelajar Pancasila, mengandaikan adanya para pendidik yang memahami kandungan pesan dari setiap sila Pancasila.

Profil lulusan mencerminkan karakteristik alumni sekolah yang diharapkan sesuai visi-misi lembaga dan sila-sila Pancasila dalam konteks lokal maupun nasional. Alumni dari sekolah-sekolah di Indonesia, diharapkan menjadi pemimpin atau agen perubahan bagi tanah air berdasarkan pandangan filosofis bangsa yang sudah terangkum sangat baik di dalam butir-butir sila Pancasila.

Hasil didikan guru berkualitas, merupakan kader bangsa, guna mengisi kemerdekaan dengan bangunan mental kebaikan untuk membangun Indonesia menjadi bangsa yang maju, makmur, adil dan bermartabat berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Sebagai catatan akhir, penulis menyimpulkan pentingnya pendidikan berkualitas bagi generasi muda yang berbasis pada sila-sila Pancasila, khususnya sebagai dasar negara dan pandangan filosofis bangsa. Pendidikan secara mendalam membentuk karakter anak-anak bangsa untuk bertumbuh menjadi pribadi yang unggul bersama.

Aneka keunggulan kapasitas pengetahuan dan keterampilan warga negara secara bersama, memungkinkan ketahanan, dan kekuatan nasional dapat berjalan secara baik. Profil alumni karya pendidikan berkualitas secara nasional, membantu negara bertumbuh, mulai dari berkembang menjadi negara maju, modern, dan berkarakter. Semoga pendidikan bangsa dalam budaya Indonesia dapat menjadi fondasi kuat dalam menghasilkan profil alumni yang dapat mengisi kemerdekaan dengan hasil karya gemilang bagi kemajuan bangsa dan negara.