Communio di Dalam dan Luar Ekaristi, Apa Itu?

150
Pater Kimy Ndelo, CSsR

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

“Kamu harus memberi mereka makan!”.

Kalimat singkat dan tegas Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengingatkan kita akan Koinonia.

Istilah ini punya dua makna yang dalam. Sederhananya, “communio” di dalam Ekaristi dan “communio” di luar Ekaristi. Atau berbagi makanan rohani dan berbagi kemakmuran jasmani.

Ketika kita menyebut “komuni”, yang dibayangkan adalah menerima hosti kudus dan memakannya. Dengannya kita mengalami kesatuan dengan Kristus yang menyerahkan diri menjadi santapan rohani bagi kita. Namun, bukan hanya itu.

Kenyataannya, kata “komuni” mempunyai makna yang lebih banyak. Komuni mengingatkan kita akan roti yang dikumpulkan dari banyak butir gandum, yang diolah menjadi satu roti yang kemudian dipecah-pecah menjadi santapan banyak orang.

Komuni juga mengingatkan kita akan air anggur dalam satu piala, yang berasal dari banyak buah anggur yang diperas dan disatukan, lalu dibagi sebagai minuman banyak orang.

Melalui roti dan anggur, kita kenangkan Yesus yang rela mati agar bisa menjadi makanan rohani bagi setiap orang.

Ada unsur pengorbanan sekaligus berbagi. Ekaristi tanpa dua aspek ini tak berarti apa-apa. Menerima Kristus dan bersatu dengan Dia mesti menghasilkan buah, yakni semangat seperti Kristus, berbagi apa yang dimiliki.

Mukjizat memperbanyak roti dan ikan justru terjadi ketika orang-orang rela berbagi dari yang sedikit yang mereka miliki. Komunio dalam ekaristi terjadi ketika kita berbagi makanan rohani dari altar yang sama.

Jika kita menjadi saudara di dalam ekaristi karena berbagi dari satu roti kudus, maka di luar ekaristi kita tetap satu saudara yang selalu berbagi: kegembiraan, dukacita, keberhasilan, ilmu, pengalaman, bahkan harta materi.

Inilah ciri khas jemaat gereja perdana: koinonia. Semestinya ini juga tetap menjadi semangat gereja masa kini.

Salam dari Biara Novena “Maria Bunda-Nya yang Selalu Menolong” (MBSM), Kalembu Nga’a Bongga, Weetebula, Sumba “tanpa wa”