Thu. Jun 25th, 2026

drg. Aloysius Giyai, dari Tumit yang Terpanah Menuju Puncak Pengabdian

drg. Aloysius Giyai, M. Kes ketika menjadi KadisKesehatan Papua sedang menggendong bayi.

Kisah Aloysius Giyai, Anak Pemburu yang Menjelma Menjadi Dokter Inovatif Papua

Di sebuah perjalanan pulang setelah menghadiri perayaan Natal bersama, seorang ayah berdiri menatap langit. Ia baru saja dipermalukan karena tidak mampu memenuhi kewajiban membawa mi instan dan ikan sarden seperti yang ditentukan panitia. Sebagai gantinya, ia membawa hasil buruan dari hutan—sesuatu yang baginya jauh lebih bernilai. Namun pemberian itu ditolak dan dianggap tidak layak.

Dengan hati terluka, ia mengajak keluarganya pulang. Di tengah perjalanan, sang ayah berhenti. Menengadah ke langit, ia berseru kepada Ugatame, Sang Pencipta dalam keyakinan masyarakat setempat.

Ugatame, saya bersumpah! Saya akan menyekolahkan anak-anak saya. Bila perlu, nanti merekalah yang membuat mi dan ikan sarden itu.”

Sumpah itu kemudian mengubah nasib sebuah keluarga. Salah satu anak yang mendengar dan merasakan kerasnya tekad sang ayah kelak dikenal sebagai drg. Aloysius Giyai, M.Kes., sosok yang menjadi salah satu tokoh penting pembangunan kesehatan di Papua.

Anak yang Pernah Dipanah Ayahnya Sendiri

Jalan menuju keberhasilan tidak pernah terbentang mulus bagi Aloysius Giyai. Ia lahir di Onago, Kabupaten Deiyai, pada 8 September 1972, dari keluarga sederhana. Kedua orang tuanya buta huruf dan menggantungkan hidup dari berburu di hutan. Kemiskinan menjadi teman sehari-hari. Tak jarang keluarga mereka dipandang rendah dan diperlakukan tidak hormat oleh lingkungan sekitar.

Saat kecil, Alo bukanlah anak yang rajin bersekolah. Ia sering malas dan enggan mengikuti pelajaran. Namun sang ayah memiliki cara keras untuk memastikan anak-anaknya tidak meninggalkan pendidikan.

Suatu hari, ketika Alo kembali membolos sekolah, ayahnya mengejar dan memaksanya berangkat belajar. Dalam peristiwa yang masih membekas hingga kini, sebuah anak panah meluncur dan mengenai tumitnya.

“Bapak panah kaki saya, kena di tumit. Sejak itu saya rajin ke sekolah,” kenangnya suatu ketika.

Peristiwa itu bukan sekadar hukuman. Ia menjadi titik balik yang mengubah arah hidup seorang anak kampung dari pedalaman Papua.

Menembus Sekolah Para Elit

Kerja keras mulai menunjukkan hasil. Melihat kecerdasan putranya, sang ayah mengirim Alo ke Jayapura untuk melanjutkan pendidikan dan tinggal di asrama yang dibina para pastor. Di sana, prestasinya terus berkembang.

Setelah menamatkan SMP, Alo mengikuti seleksi masuk SMA Negeri 1 Jayapura, sekolah favorit yang kala itu identik dengan anak-anak pejabat dan keluarga berada. Ia berhasil lolos.

“Saya bangga sekali,” tuturnya.

Namun kebanggaan itu tidak membuat hidup menjadi mudah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Alo harus bekerja keras di luar jam sekolah. Ia membabat rumput di halaman rumah warga dan menyedot septic tank demi mendapatkan uang saku.

Hampir tidak ada pekerjaan yang dianggapnya terlalu rendah selama pekerjaan itu halal dan dapat membantunya bertahan.

Dari kerja keras itulah ia belajar bahwa keberhasilan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari perjuangan panjang.

Memilih Jalan Pengabdian

Kecemerlangan akademiknya mengantarkan Alo diterima di dua perguruan tinggi sekaligus pada jurusan kedokteran. Ia kemudian memilih Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di Surabaya.

Setelah menyelesaikan pendidikan, ia tidak memilih menetap di kota besar.

Ia pulang ke Papua.

Kariernya dimulai dari bawah, dari Puskesmas Pembantu, lalu Puskesmas, hingga akhirnya bertugas di rumah sakit. Di setiap tempat penugasan, satu hal selalu menonjol: totalitas.

Bagi Alo, jabatan bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk melayani.

Menyulap Rumah Sakit yang Terpuruk

Ujian besar datang ketika ia dipercaya menjadi Direktur RSUD Abepura pada 2009.

Saat pertama kali memasuki rumah sakit tersebut, kondisi yang ditemuinya jauh dari ideal. Lingkungan kumuh, sampah berserakan, fasilitas terbatas, dan semangat kerja pegawai berada pada titik rendah.

Alih-alih menyalahkan keadaan, Alo memilih bekerja. Ia mendekati para pegawai secara manusiawi dan kekeluargaan. Ia mengajak mereka membangun rumah sakit bersama-sama. Ia memberi contoh melalui tindakan, bukan sekadar instruksi.

Hasilnya mengejutkan banyak pihak. Dalam waktu relatif singkat, wajah RSUD Abepura berubah drastis. Lingkungan menjadi bersih, pelayanan meningkat, peralatan kesehatan bertambah, dan rumah sakit itu berkembang menjadi salah satu pusat rujukan penting di Papua.

Lebih dari itu, ia membuka akses pelayanan bagi masyarakat miskin. Mereka yang tidak mampu cukup membawa surat keterangan dari RT atau tokoh agama untuk memperoleh perawatan.

“Saya tahu bagaimana rasanya sakit saat tidak punya uang. Mereka tidak boleh mati hanya karena tidak mampu membayar biaya rumah sakit,” ujarnya penuh haru.

Menjangkau Papua yang Jauh dan Sulit

Keberhasilannya di tingkat rumah sakit membuka jalan pengabdian yang lebih luas.

Pada 2014, Alo dipercaya menjadi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Di posisi ini, ia menjadi salah satu arsitek berbagai kebijakan strategis pembangunan kesehatan di Tanah Papua. Ia tidak hanya bekerja dari balik meja.

Berkali-kali ia menembus daerah pedalaman yang sulit dijangkau, melewati medan berat dan cuaca yang tidak bersahabat. Baginya, pelayanan kesehatan harus hadir hingga ke tempat-tempat yang paling jauh.

Sambil mengemban jabatan tersebut, ia juga menjabat Direktur Eksekutif Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP). Di tengah masyarakat adat, ia dipercaya memegang berbagai peran penting, termasuk sebagai pemimpin Lembaga Masyarakat Pegunungan Tengah Papua.

Semakin tinggi jabatan yang diraih, semakin luas pula medan pengabdiannya.

Syukur yang Menjadi Energi

Ketika ditanya apa yang membuatnya terus bekerja keras dan berinovasi, jawabannya sederhana.

“Semua ini adalah ungkapan syukur saya kepada Tuhan.”

Kalimat itu bukan sekadar slogan.

Mereka yang pernah bekerja bersamanya mengenal Alo sebagai sosok yang datang paling pagi dan pulang paling akhir. Tidak jarang ia meninggalkan kantor menjelang pukul sepuluh malam.

Ia percaya bahwa teladan lebih kuat daripada kemarahan.

Tanpa banyak pidato, tanpa ancaman, ia menunjukkan bahwa disiplin dan dedikasi harus dimulai dari pemimpin.

Bagi Aloysius Giyai, perjalanan hidupnya adalah bukti bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Dari keluarga pemburu yang hidup dalam kemiskinan, dari seorang anak yang pernah dipanah ayahnya sendiri karena malas sekolah, ia tumbuh menjadi dokter, birokrat, inovator, dan pelayan masyarakat.

Sumpah seorang ayah di bawah langit Papua telah menemukan jawabannya.

Anak yang dahulu tidak mengenal mi dan ikan sarden itu tidak hanya berhasil mengejar pendidikan. Ia menjelma menjadi sosok yang mengabdikan hidupnya untuk memastikan lebih banyak orang Papua memperoleh kesempatan hidup yang lebih sehat, lebih layak, dan lebih bermartabat.

Dan di setiap langkah pengabdiannya, syukur tetap menjadi bahan bakar yang tak pernah habis.

Related Post