ROH KUDUS-PARACLETOS

62

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

Pentekosta dirayakan baik oleh orang Yahudi maupun orang Kristen. Makna dan tujuan perayaan berbeda. Bersamaan dengan Hari Raya Paskah dan Hari Raya Pondok Daun, Pentekosta adalah salah satu hari raya besar orang Yahudi. Selama tiga pesta besar Yahudi ini, setiap pria Yahudi yang tinggal dalam jarak dua puluh mil dari Yerusalem secara hukum terikat untuk pergi ke Yerusalem untuk berpartisipasi dalam pesta itu.

Kata “pentekosta” adalah bahasa Yunani yang berarti “kelima puluh.” Hari raya itu menerima nama ini karena dirayakan lima puluh hari setelah Hari Raya Paskah. Nama lain untuk Pentekosta Yahudi adalah Shebuot atau “Hari Raya Mingguan” (“minggu” ketujuh yakni Sabat antara Paskah dan Pentekosta).

Awalnya hari itu adalah hari syukur atas selesainya panen. Selama Paskah, satu gantang jelai pertama (disebut: omer) dipersembahkan kepada Tuhan. Pada hari Pentekosta, dua roti dipersembahkan sebagai rasa syukur atas panen.

Kemudian, orang-orang Yahudi menambahkan pada Hari Raya Pentekosta unsur Perjanjian Yahweh dengan Nuh, yang terjadi lima puluh hari setelah air bah besar dan berkembang lagi sebagai syukur atas PERJANJIAN Yahweh dengan Musa di gunung Sinai. Diyakini itu terjadi 50 hari setelah keluar dari Mesir.

Bagi orang Kristen Pentekosta menandai akhir dari masa Paskah. Ini adalah peringatan hari Roh Kudus turun ke atas para rasul dan Perawan Maria dalam bentuk lidah api yang menyala, sebuah peristiwa yang terjadi lima puluh hari setelah Kebangkitan Yesus.

Pesta ini juga memperingati kelahiran Gereja Kristen yang ditandai dengan  khotbah apostolik Santo Petrus, yang menghasilkan pertobatan 3000 orang Yahudi menjadi Kristen.

Pentekosta lalu menjadi hari kelahiran Gereja yang didirikan Yesus hampir 2.000 tahun yang lalu. Tidak ada yang bisa mengklaim sendiri sebagai pewaris tunggal, walaupun ada sekitar 34.000 denominasi Kristen Protestan saat ini. Siapa pun bisa menjadi pewaris Gereja yang sah.

Sebagai pewaris, siapa pun pantas menerima Roh Kudus. Roh kudus memenuhi hati dan jiwa kita sejak kita dibaptis dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Tubuh kita karenanya adalah bait Roh Kudus, tempat Roh Kudus berdiam dan bekerja untuk kita.

Buah pertama Roh kudus adalah PERUBAHAN. Dari orang-orang yang ketakutan, tanpa gairah, putus asa menjadi penuh semangat dan berapi-api, pantang menyerah.

Selanjutnya aneka macam buah Roh bekerja dalam diam. Roh bekerja melalui perhatian tulus seorang sahabat saat kita sakit, dalam kemurahan hati orang-orang yang membantu kita. Roh kudus berperan memberi kekuatan dari dalam ketika kita mengalami krisis. Roh kudus meneguhkan ketika kita sadar telah melakukan sesuatu yang salah.

Roh hadir ketika kita bimbang memutuskan sebuah pilihan yang menentukan arah hidup kita. Roh kudus aktif menghibur ketika kita mengalami dukacita kehilangan orang tercinta. Roh kudus memberi kedamaian ketika kita berada dalam badai persoalan.

Dalam semua ini peran Roh kudus sungguh sebagai ‘PARACLETE’ yang berarti penasihat, penghibur, pembantu, penyemangat.

Hadirnya Roh kudus dalam diri kita mestinya membuat hidup kita berbeda. Dia bekerja dengan cara-Nya yang seringkali tak terduga.

Pada tahun 2016, Kongregasi Redemptoris (CSsR), mengadakan Kapitel Jenderal ke-25 di Biara-Rumah Retret Redemptoris di Pattaya, Bangkok. Pada saat itu diputuskan oleh para Kapitularis, tema Kapitel Jenderal yang bisa menjadi bahan refleksi selama 6 tahun mendatang.

Tema itu adalah: Witness of the Redeemer, in solidarity for Mission to a Wounded World//Saksi-Saksi Penebus, dalam Solidaritas untuk Misi bagi Dunia Yang Terluka.

Penekanan tema “Dunia Yang Terluka” kemudian seperti sebuah ramalan akan datangnya bencana Covid-19 yang menghantam umat manusia mulai tahun 2019 sampai sekarang.

Dengan cara semacam inilah Roh Kudus bekerja, mengingatkan dan mempersiapkan kita dengan caranya yang sangat rahasia.

Sangat mungkin dalam hidup kita pun Roh Kudus bekerja dengan cara yang serupa.

Salam dari Palm Beach Hotel, Kuta, Bali. // Pertemuan Kapitel Jenderal Fase Pertama Para Pimpinan Redemptoris Se-Asia Oceania)