Puisi 22 Perempuan Indonesia pada Bulan Bung Karno

391

Oleh Eka Budianta, penyair, mendapat penghargaan untuk kumpulan puisi terbaik 2012 dari Kemendikbud RI, dan Rekor MURI 2021

Bulan Bung Karno – Juni 2022 dirayakan dengan unik oleh 22 penyair perempuan Indonesia. Penerbitan buku puisi dengan lukisan koleksi Bung Karno yang  sangat berharga setebal xii + 484 halaman.   Penerbitnya Yayasan Bung Karno dan Wastu Adicita, dengan Kata Pengantar Guruh Sukarno Putra. Editornya Yuke Ardhiati dan Ariesa Pandanwangi, ISBN: 978-623-99137-1-7 dengan penata letak Lesh Dewika.  Cetakan I, harga Rp350.000,-

Bagaimana isinya?  Ternyata cukup brilian, karena puisinya menyajikan refleksi dialogis yang mengajak pembaca sadar akan jasa besar Presiden Pertama, Dr. Ir. Sukarno beserta cita-cita dan semangat hidupnya yang masih terasa.  Reproduksi lukisan-lukisan, kendati ukurannya diperkecil menyiratkan keagungan dan kedalaman cita-rasa.  Dengan teks puisi di kiri dan lukisan di kanan, pembaca serasa diajak mengagumi Indonesia.

Sebagai contoh, penyair Arleti Mochtar Apin mulai menyajikan judul-judul puisinya berhadapan dengan lukisan anggun Ibunda Presiden Sukarno, di halaman 24. Disusul puisi berjudul Gurat berhadapan dengan karya Ratna Sari Dewi yang melukiskan Bung Karno sedang tersenyum menghadap sebuah taman. “Sosok pujaan / Sang pelindung / Penyayang / Terima salam hormatku,” tulis Arleti.

Kesan bahwa puisi dan lukisan sengaja dipasangkan ini semakin terasa dalam tampilan lukisan Telaga di Tengah Hutan karya Ernest Dezentje (halaman 92) dengan puisisi Kamu Telaga karya Dedeh Supantini (halaman 93). “Kamu dan telaga terkadang sama / terlampau dalam tak terselami,” tulisnya.  Juga puisi Duduk Bersama karya Maya Purnama Sari, yang muncul setelah lukisan Mencari Kutu Rambut karya Hendra. “Segeralah / Temukan / Musnahkan / Mereka pembuat onar / Di setiap helai rambut.”

Maya, kelahiran Bandung 3 Januari 1989, adalah dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk program studi multimedia. Sejatinya dia lebih dikenal sebagai fotografer yang pernah mendapatkan penghargaan dari UNESCO di Perancis. Sedangkan Dedeh yang “menanggapi” lukisan Dezentje, adalah dokter spesialis syaraf, dosen di Universitas Kristen Maranatha.  Buku puisi karyanya cukup banyak dan aktif di sejumlah komunitas.

Kebanyakan dari 22 perempuan penyair yang karyanya terhimpun dalam buku ini memang cendekiawati, dosen dan peneliti.  Contoh lain, yang merangkap editor buku ini adalah Yuke Ardhiati. Ia menulis puisi sejak di bangku SMP, kemudian tampil sebagai novelis dan esais, terutama untuk buku arsitektur dan seputar kehidupan Bung Karno.

Untuk lukisan Seorang Pengarit karya R. Bonet, ia menulis, “Akulah, si petani Marhaen, bertanam dan berpanen / Di ladang milik sendiri, beri hidup anak isteri.”

Tri Yuniarti, pengajar sekolah seni di Surakarta menulis untuk lukisan Ronggeng karya Agus Djaja (halaman 432) puisi berjudul Wanita Pujaan. “Ipoleksosbud ucapku untuk Ronggeng / Sang Wanita Pujaan negeri dalam dongeng / Kami menanti swara lonceng / Berderap maju tuk bela negara agar tak tercoreng.”

Dari contoh-contoh lukisan dan puisi ini dapat disimpulkan bahwa bulan Juni sebagai kelahiran Bung Karno telah menghidupkan kembali diksi bersejarah.

Ada banyak istilah yang disegarkan kembali seperti kata Marhaen, ipoleksosbud (ideologi politik ekonomi sosial budaya) dan bermacam nama bunga yang dulu disukai Presiden Pertama.  bunga menur, melati tumpuk, sakura, bahkan nama Seko, perintis gerilya muncul dan hidup kembali.

Dapat dipastikan, keindahan dunia Sukarno bersumber pada kecantikan.  Jadi sangat beralasan bila perempuan jelita banyak ditampilkan baik sebagai patung maupun lukisan.  Di antara lukisan yang nyaris tampil nudis adalah karya Otto Djaja berjudul Pelangi.    Untuk itu Nina Fajariyah menulis sajak Rindu Hujan. “Jangan bertanya, jangan bicara / Hujan adalah rindu yang tertahan / Cukup rasakan, cukup nikmati.”

Nina seorang aktifis teater dan tergabung dengan Komunitas Perupa 22 Ibu.  Berkat kata-kata yang lembut tapi tegas, perayaan bulan kelahiran Bung Karno, Juni 2022 yang dimeriahkan 22 perempuan penyair itu, boleh dikatakan sempurna.

Selamat untuk pahlawan yang hidup abadi, dari para ibu yang sesungguhnya adalah pahlawan sejati.*