Biarkan Aku Bercinta dengan Kota Ini

80
Ilustrasi/Ist

Cerpen Emanuel Dapa Loka

Kereta Senja Jakarta – Jogja sebentar lagi tiba. Jam di dinding bercat putih itu menunjukkan pukul 2.35 WIB. Tiba-tiba handphone John berdering panjang. Merasa terganggu, dia bangun lalu langsung mematikan, apalagi yang muncul di layar ponselnya hanya nomor.

Tidak lama berselang, handphone android buatan China itu kembali berdering. John langsung matikan lagi. Lelaki berkulit bersih itu kembali tidur.

Sekitar pukul 4.30 hpnya kembali berdering. Telepon masih dari nomor yang sama. John memang biasanya bangun pada jam segitu.

Dengan dongkol, sekaligus berat hati, dia angkat. “Hallo, siapa nih,” katanya dengan suara agak jengkel. “Maaf, Mas. Aku Fenny. Masih ingat aku? Aku turun dari kereta di Stasiun Tugu tadi jam 2.35. Aku dapat panggilan wawancara kerja di Jogja. Jemput aku, ya….” kata Fenny tanpa jeda.

Sendiri/ist

John terdiam. Nyawanya “belum nyatu”. Ingatannya juga belum nyambung, dan belum ngeh dengan suara orang yang barusan berbicara dengannya. “Fenny siapa, ya… Maaf, kayaknya aku gak kenal orang bernama Fenny. Anda mungkin salah nomor,” kata John.

Cepat-cepat wanita di balik telepon itu menimpali, “Oh, iya… Aku Stefany atau Any. Di kantorku orang lebih suka panggil aku Fenny, sebab ada pegawai lain yang lebih dahulu dipanggil Any. Sudah ingat belum….? Aku Any teman kamu dulu di Malang…”.

Mendengar penjelasan itu, jantung John langsung berdegup kencang…. Dug…. dug….dug….

Dia langsung teringat seorang wanita cantik berbadan “sempurna” yang dia pacari selama 2 tahun setelah selesai kuliah. Mereka sama-sama alumni sebuah kampus terkenal di Kota Malang. Hubungan mereka ketika itu sangat baik. Mereka tampak cocok, jarang terjadi cekcok. Pokoknya cocoklah!

***

Fenny kembali bicara. “Hallo, Mas… Jemput, ya…. Lagian ini hujan. Aku gak kenal siapa-siapa di kota ini. Kemarin aku minta nomormu di Billy sahabatmu. Kenal Billy, kan? Sekarang dia sudah jadi boss lho di Jakarta… Jemput aku, ya… Nanti jam 9 aku ada wawancara kerja di Timoho.”

Wajah John terlihat gugup. Dia enggan menjemput. Dia sepertinya tidak kuat melihat Fenny. “Ayo, Mas…. Jemput, ya…. Please… Please,” kata Fenny dengan suara manja.

“I… Iya…. Tunggu, ya….,” katanya terbata-bata. Tangannya sedikit gemetar sampai handphone di tangannya terjatuh. Untung handphone buat China itu tidak pecah.

“Mas, saya tunggu di pintu keluar, ya… Dekat becak-becak,” kata Fenny dengan gembira.

Tidak lama kemudian jantung Fenny pun berdegub kencang karena membayangkan sebentar lagi bertemu dengan John, setelah lima tahun tidak bertemu usai berpisah di Stasiun Lawang, Malang.

Lamunan Fenny belum melayang terlalu jauh, tahu-tahu John dengan motor matic-nya sudah nongol di depan matanya. Mata mereka seperti saling memagut. Jantung keduanya sama-sama berdegub kencang, sampai lupa bersalaman.

“Ayo, berangkat. Nanti kamu terlambat wawancara. Mana lagi tasmu,” kata John sambil mengangkat tas di samping Fenny. Fenny pun mengangkat tas jinjing berwarna coklat.

***

Setelah menyelesaikan wawancara, Fenny masih tinggal di Jogja selama empat hari. Dia menginap di sebuah hotel di Jalan Solo, sedangkan John ngekos di Babarsari, dekat kampus Atma Jaya.

Selama itu, keduanya beberapa kali bertemu, bahkan mereka dua kali makan malam bersama dan nonton film di bioskop. Mereka sempat pula main ke alun-alun utara. Tampak romantis, tetapi tetap saling menjaga jarak. Terutama John, dia tampak canggung memegang tangan Fenny, walau Fenny menunjukkan keinginan menggamit tangan John.

John pun melayani obrolan Fenny dalam nada yang biasa sekali. Dia terkesan sangat hati-hati. Sesekali Fenny memang mengumpan dengan kenangan indah mereka pada enam tahun lalu. John hanya tersenyum kecil, lalu mengalihkan pembicaraan.

***

Di pikiran dan pelupuk mata John masih sangat terang benderang bagaimana Fenny menyampaikan keinginan pulang ke Jakarta untuk menjenguk ibunya yang sakit keras. Namun, sejak kepulangannya itu tidak pernah ada kabar sama sekali. Semua komunikasi terputus!

“Maafkan aku, Mas. Ibu sakit keras. Aku takut kehilangan Ibu. Aku harus pulang. Yang pasti, aku sayang kamu. Hati dan jantung ini milikmu,” kata Fenny terisak-isak.

John lalu berkata, “Kalau mau pulang jenguk Ibu, pulanglah. Jangan lupa kasih kabar. Semoga ibu lekas sembuh, ya. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Gak bakalan macam-macam.”

Melihat John seperti melamun dan tidak bersemangat menanggapinya, akhirnya Fenny minta diantar ke hotel.

***

Empat hari setelah wawancara kerja tersebut, Fenny kembali ke Jakarta. John mengantarnya ke stasiun Tugu. Tidak berapa lama, kereta berangkat. Sekitar 30 menit kemudian, Fenny mengirim pesan, “Mas John, terima kasih untuk semuanya. Kamu memang laki-laki luar biasa. Mas, jantung yang pernah aku sebut adalah milikmu, benar-benar akan jadi milikmu…”

Tulisnya pada pesan berikutnya, “Aku akan segera kembali lagi ke kotamu, Yogyakarta untuk membawa jantung ini untukmu.”

John sama sekali tidak membalas pesan Fenny. Ditelepon pun, dia tidak angkat. Berkali-kali Fenny menelepon. Dia justru menonaktifkan ponselnya.

Sepulang dari stasiun, John mampir ke penjual pulsa dan membeli nomor baru. Dia ingin segera mengganti sim card-nya agar Fenny tidak bisa menghubunginya lagi.

Dua minggu kemudian, dia coba menghidupkan kartunya untuk menyalin nomor-nomor yang ada dalam sim card itu. Setelah itu dia ingin buang kartu lamanya.

Tak terduga, Fenny menelepon. Dengan terus terang Fenny mengatakan bahwa dia ingin kembali jadian dengan John. Dia bercerita bahwa suaminya meninggal dua tahun lalu. Tentang dua anaknya yang lucu-lucu, Fenny sudah ceritakan ke John saat makan malam bersama. “Aku masih sayang kamu, Mas. Benar jantung dan cintaku memang untukmu,” kata Fenny.

Dalam hati, John berkata, “Enak saja kau katakan begitu. Setelah  bertahun-tahun tanpa kabar, lalu jantung dan hatimu dicabik-cabik lelaki lain, sekarang kau ingin membawa kepadaku? Puih….!

Lalu John berkata, “Maafkan aku, Fenny. Terima kasih atas jantung dan cintamu yang hendak kau kembalikan untukku. Hanyalah, setelah jantung dan hatimu memar entah oleh lelaki yang mana, kini kau ingin kembalikan kepadaku? Tidak! Uruslah hidupmu dengan baik, aku juga akan mengarungi kehidupanku dengan caraku sendiri di kota ini.”

Lanjutnya lagi, “Sungguh, Fenny! Aku tidak mau jatuh cinta lagi, apalagi dengan orang yang pernah aku cintai. Biarkanlah aku bercinta dengan kotaku ini. Kota ini telah bertahun-tahun setia denganku. Jogya sungguh tidak ingkar cinta. Jogja jauh lebih setia dibanding dengan semua wanita yang aku cintai, termasuk kamu.”

Tak satu pun lagi kata keluar dari mulut Fenny selain terdengar sesenggukannya, lalu tut…tut…tut… Dia memutuskan sambungan telepon.

Kota Yogyakarta/Ist

***

Setelah putus dari Fenny, John sempat pacaran dengan beberapa wanita, tapi semuanya sad ending, malah ada yang berkesudahan dengan tragis. Walau pekerjaannya cukup matang, terakhir, karena sedikit stress dia pacaran dengan seorang “penghuni” Pasar Kembang atau Sarkem. Wanita itu kemudian pergi dengan seorang lelaki lain ke sebuah kota, dan tidak pernah kembali. Terakhir, John mendapat kabar, wanita itu meninggal karena terpapar Covid-19.*