SEHELAI HARAPAN “IBU BUMI KASUARI”

87

SEHELAI HARAPAN “IBU BUMI KASUARI”

Simply da Flores, Harmony Institute

Sayap kasuari patah dan bulunya kusam dibalur lumpur tailing
Kicau cendrawasih jarang terdengar karena paruhnya terluka parah dan bingung ke mana pergi, karena hutan rumahnya gundul dibabat modal investasi.
Parade pohon sagu, udang dan kepiting kehabisan air mata turun dari gunung dan lembah, lalu berjejer di pantai pasir putih dikawal laskar mercuri, menanti pasrah ditelan gelombang samudera kerakusan.

Generasi pewaris Papua kebingungan melangkah gontai mencari cahaya mentari, purnama dan bintang kejora di jalanan, kota dan ke tanah rantau, karena honai dan rumah kaki seribu sudah terbakar dilalap ketakutan akan suara tembakan, deru helikopter dan bising gemuruh peluru di kampung, hutan dan gunung, gantikan merah gurih sirih pinang, entakan kaki yospan dan senandung tifa saat pesta bakar batu di tanah lahirnya.
Ibu bumi Kasuari terkapar menjerit-jerit memanggil anak-anak dari tujuh wilayah adat agar datang duduk berkeliling di danau Sentani, memandang istana puncak syclop, sambil membasuh wajah dan minum tetesan darahnya dan air susu yang tersisa.

Ibu Kasuari berikan wasiat dan amanah dengan suara terbatah dan napas tersengal:
“Anak-anak,
kalian terlahir di tanah ini atas kehendak Sang Pemilik semesta.
Kalian tidak pernah minta berambut keriting, berkulit hitam dan terlahir di sini.

Lihatlah,
rambut ibumu ini telah digundulkan
susu ibumu dilukai dipotong putingnya
perut ibu dirobek dan isinya dibawa pergi
tulang-tulang ibumu mulai dipotong dan dibagi-bagi dalam pesta pora ketamakan
jantung dan paru-paru ibumu mulai ditusuk dan dirusak agar cepat mati, biar mereka bisa bebas berbagi

Jika kalian masih inginkan ibumu hidup, janganlah kalian berkelahi dan tercerai-berai pergi.
Basuh mukamu, bersihkan nalar dan jiwamu dengan air di danau Sentani ini
Kunyah sirih pinang dan balurlah semua luka di badan ibumu
Kumpulkan ramuan alam yang masih tersisa untuk obati duka lara jiwamu.
Tuluskankan nuranimu, gandengkan tanganmu bersatu dan angkat jiwa ke langit berdoa.
Mintalah jawaban dan belaskasih Sang Ilahi yang sudah takdirkan kalian terlahir di tanah Papua ini, karena hanya pada-Nya ada jawaban dan pertolongan pasti.

Inilah selembar
harapan ibumu, agar kalian masih yakin dan rela lakukan untuk hadapi semua kenyataan yang terus mendera jiwa ragamu
Jangan tinggalkan tali pusarmu dan tumpah darahmu”