NATAL DAN RASA IBA

175
Drama Natal Pemuda Gerizim

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

TEMPUSDEI.ID (24/12/21)-Wally yang berusia sembilan tahun duduk di kelas dua ketika sebagian besar anak seusianya duduk di kelas empat. Dia termasuk besar untuk anak seusianya, seorang anak yang canggung, pembelajar yang lambat. Tapi Wally adalah anak yang penuh harapan, sukarela, tersenyum, pembela mereka yang lemah underdog, dan dia sangat disukai oleh teman-teman sekelasnya.

Orang tuanya mendorongnya untuk mengikuti audisi untuk drama Natal di parokinya. Wally ingin menjadi gembala. Tapi dia malah diberi peran sebagai pemilik penginapan. Sutradara beralasan bahwa ukuran tubuh Wally akan membuatnya nampak galak ketika menolak Yosef yang mencari penginapan bersama Maria. Selama latihan, Wally diinstruksikan untuk bersikap tegas dengan Yosef.

Saat drama dimulai, tidak ada yang lebih terjebak dalam aksi selain Wally. Dan ketika Yosef mengetuk pintu penginapan, Wally sudah siap. Dia membuka pintu dan bertanya dengan mengancam, “Apa yang kamu inginkan?” “Kami mencari penginapan,” jawab Yosef. “Cari di tempat lain,” kata Wally dengan suara tegas. “Tidak ada kamar di penginapan.” “Tolonglah, pemilik penginapan yang baik,” Yosef memohon, “ini istriku, Maria. Dia dengan bayi dalam kandungannya dan sangat lelah. Dia butuh tempat untuk istirahat.”

Ada jeda panjang saat Wally menatap Maria. Pembisik membisikkan kalimat Wally berikutnya: “Tidak! Pergi!” Wally tetap diam. Kemudian pasangan yang sedih itu berbalik dan mulai perlahan menjauh. Melihat ini, alis Wally berkerut prihatin. Rasa iba menguasainya. Air mata menggenang di matanya. Tiba-tiba, dia berteriak, “Jangan pergi! Anda dapat memakai kamar saya. ”

Rangkaian kisah panjang tentang kelahiran Yesus yang kita renungkan setiap Malam Natal, bagaikan sebuah drama yang memperlihatkan bagaimana cara Allah menghadirkan diri di dunia ini. Akan tetap ini bukan tentang Allah semata. Di situ juga terlihat bagaimana Allah melibatkan manusia dengan peran dan tugas masing-masing.

Maria menerima Yesus di dalam dirinya, mengandung Dia selama 9 bulan dan melahirkan dia menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Yosef menerima Yesus sebagai putranya, dengan menerima Maria sebagai istrinya walau kehamilannya bukan karena peran dia sebagai pria.

Perjalanan keluarga kudus memasuki Betlehem di malam hari sambil mengetuk pintu untuk penginapan, adalah sebuah cara lain untuk mengajak manusia terlibat dalam kisah inkarnasi ini. Sayangnya, yang terjadi adalah: “tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2:6). Tragedi kemanusiaan seringkali berawal dari sikap ini: penolakan.

Seluruh perjalan kisah karya Yesus selama tiga tahun sesungguhnya juga adalah upaya agar orang menerima Dia sebagai utusan Allah, Penyelamat yang membawa kabar gembira penebusan, dan menyatukan kembali manusia dengan Allah.

Beriman kepada Yesus Kristus berarti menerima Dia di dalam hidup kita dan menjadikan Dia bagian tak terpisahkan dalam suka dan duka kita. Menjadi murid pada hakikatnya berarti tinggal di dalam Tuhan dan Tuhan tinggal di dalam kita.

“Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh 14,20).

Hal ini diulangnya lagi dalam doanya menjelang sengsara-Nya:  “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17,21).

Yesus di dalam aku dan aku di dalam Yesus adalah persatuan dua pribadi yang saling menghidupkan dan menghidupi. Mereka yang sungguh menerima Dia yakin bahwa kuasa Tuhan di dalam dirinya akan memampukan dia menanggung apa saja, bahkan menciptakan mukjizat di dalam dirinya.

Seorang wanita muda diduga menderita kanker payudara pada awal tahun ini. Oleh dokter dia diminta untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan mengambil tindakan operasi. Dengan tegas dia menolak dan mengatakan: “Tuhanku lebih berkuasa daripada siapa pun, termasuk dokter”. Dia membawa keyakinan ini dalam doanya dan kepasrahan.

Hanya mereka yang sungguh menerima Dia untuk tinggal dalam dirinya mempunyai keberanian untuk mengatakan ini.

Bagaimana caranya menerima Yesus? Mulailah dengan rasa iba. Natal adalah sebuah kenangan sekaligus undangan untuk memiliki rasa iba. Terlalu banyak menggunakan akal membuat banyak penolakan; terhadap sesama dan terutama terhadap Yesus.

Sekularisme tanpa iman saat ini berawal dari hilangnya rasa iba dan berkuasanya hitungan untung rugi.

Wally di dalam drama Natal sekolah di atas adalah contoh yang baik. Atas dasar rasa iba, skenario hidup bisa berubah, dan itu tidak salah. Selamat Hari Natal, Selamat Memiliki Rasa Iba.

Salam Damai Natal dari Biara Santo Alfonsus-Konvetu Redemptoris Weetebula, Sumba “tanpa Wa”.