GAUDETE In DOMINO SEMPER

160

 Pater Kimy, Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

TEMPUSDEI.ID (12/12/21)-Seorang rabbi Yahudi datang ke Amerika. Dia tinggal di keluarga Kristen. Karena hari ini Natal, dia diajak makan di luar. Masuklah mereka ke restoran cina. Setelah makan, pelayan datang membawa nota tagihan, dengan sepotong kue keberuntungan dan sebuah bingkisan hadiah Natal.

Melihat hadiah Natal itu, sang Rabbi menangis terharu. Katanya: “Sungguh menggembirakan hidup persaudaraan di negara ini. Saya seorang Rabi Yahudi, diundang makan keluarga Kristen, di restoran Cina, diberi hadiah Natal oleh seorang Buddha, dan uniknya hadiah Natal ini dibuat seorang Hindu.”

Hari Minggu Gaudete atau Hari Minggu Gembira saat ini bersumber bukan pertama-tama karena apa yang sudah atau sedang diperoleh, melainkan karena apa yang akan diperoleh. Itulah yang disebut Gembira dalam  Pengharapan.

Nabi Zefanya mengajak puteri Zion bersukacita karena pengharapan akan pembebasan Israel (Zef. 3,14). Ketika dia bernubuat, bangsa Israel sedang dalam pembuangan di Babilon. Saat itu mereka dalam keputus-asaan. Namun Zefanya tahu bahwa saat pembebasan akan segera tiba. Pembebasan pun bukan datang dari sahabat melainkan “orang asing dan kafir” yakni Raja Cyrus dari Persia. Kegembiraan yang ditawarkannya merupakan kegembiraan antisipatif. Gembira karena percaya walau nampak mustahil.

Ketika Paulus mengajak para muridnya untuk bergembira dalam Tuhan, dia sedang berada di dalam penjara. Harusnya dia susah, marah, jengkela atau sedih. Tapi dia justru mengajak mereka bersukacita. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan” (Fil 4,4). Ini nampak tidak masuk akal tetapi keyakinan bahwa Tuhan akan segera menolong membuatnya bergembira dan melupakan penderitaannya. Bahkan dia  mengajak orang lain bergembira bersamanya.

Kegembiraan bisa bersumber dari banyak hal. Termasuk yg tak terduga, atau yang nampak tidak masuk akal. Banyak juga orang berpikir bahwa kegembiraan harus selalu sejalan dengan akal sehat manusia. Dalam kenyataannya tidak demikian.

Dalam Tuhan kegembiraan bisa muncul darimana saja, bagaikan setitik cahaya dalam kegelapan. Kegembiraan dalam pengharapan seringkali tidak memerlukan bukti yang terlihat, melainkan justru sebaliknya; kegembiraan adalah bukti bahwa Allah sedang bekerja dan merealisasikan kerinduan manusia.

Gembira dalam Tuhan tidak selalu berarti apa yang kita harapkan sesuai dengan kenyataan. Tidak. Justru apa yang didatangkan Tuhan, walau berbeda dengan harapan kita, yang disyukuri dan melahirkan kegembiraan.

Yesus nampak tidak sesuai dengan harapan Yohanes dan orang Israel pada umumnya. Mereka mengharapkan seorang Mesias politik yang datang dengan kekuasaan militer untuk mengusir bangsa Romawi. Ketika ideal macam itu tidak ditemukan muncul keraguan akan Dia sebagai Mesias. Tapi justru Mesias yang berbeda inilah yang kelak mendatangkan kegembiraan sejati.

Bergembiralah, bukan karena apa yang sudah ada, melainkan karena apa yang akan ada. Karena dengan cara itu kita menunjukkan kepercayaan kita akan kuasa Allah.

Dalam salah satu seruannya di Washington, Uskup Agung Fulton J. Sheen (sekarang Venerabili) berkata, “Orang-orang tidak mendengarkan kami karena kami sering mengkhotbahkan omong kosong sosiologis daripada Kristus yang disalibkan. Kristus yang tidak memiliki salib adalah sebuah kelemahan dan pasti tidak akan pernah berbicara tentang pertobatan.”

Salam Sukacita dari Biara Redemptoris Taman Bougenvil, Jatibening, Bekasi, Jabar