SURAT CINTA dari Jepang untuk Gubernur Victor Laiskodat

3108
Padang sabana sumba dan kuda-kuda perkasa. (Foto: ist)

Puisi Don Bosco Wora

Tana Humba, persada beradab kaya falsafah
permukiman para umbu dan rambu,
pemilik kodrat dan marwah

Bersama suara alam nurani bersedia bersorak kuat
agar tuan mendapat mandat untuk berdaulat
dan Tana Humba pun bisa bertuah bahagia
tak jatuh dalam resah atau wabah celaka.

Tuan tahu,
Tana Humba bukan hutan belantara tak bertuan,
tapi kenapa tuan berubah rupa jadi tak ramah
berteriak monyet dan kata-kata sampah
yang hanya melukai insan
seperti pengkhianat yang mudah jatuh
dan bernafsu serakah
tak ada rasa malu mengembara
sambil mengumbar cacian di balik aturan
lalu lupa pada suara-suara
yang memberi posisi dan amanah.

Tuan lupa pada jejak-jejak kuda di Tana Humba
kala itu ikut mengiring kemenangan tuan
membawa para umbu dan rambu,
pemilik akal dan rasa
yang bergairah memberi tubuh menyambut tuan
bagai seorang tamu umbu
tak menyerah walau napas tersengal,
mulut menganga
tapi terus dalam baris bergerak menggetarkan.

Tana Humba mesti mengerang sakit
karena tertusuk kata-kata hewan
bagai sembilu merobek luka dada para pemilik akal dan rasa
Mereka seperti tak punya marwah apa-apa di mata tuan,
apakah tuan sudah biadab atau sekadar amnesia?

Mampetkah hati tuan sehingga tak bisa lagi
melahirkan kata maaf menyejukkan?
Tidakkah tuan tahu, darah-darah sukma mendidih di dalam luka dada mereka?

Jawablah, wahai tuan terhormat
Jangan pura-pura bisu,
sambil membenamkan janji-janji di perut tuan!

CATATAN:
Tana Humba: Tanah Sumba
Umbu: Panggilan untuk laki-laki
Rambu: Panggilan untuk perempuan
Tamu Umbu: sebutan untuk seorang raja

Tokunoshima – Jepang, 3 Desember 2021