Laporkan ke Kapolri Penganiayaan Wartawan Chris Nau

81
Uskup Maumere Mgr. Edwaldus M Sedu, Uskup Larantuka Mgr. Frans Kopong Kung, Superior Jenderal SVD Pater Paul Budi Kleden SVD dan pimpinan STF Ledalero hadir dalam peluncuran buku.

TEMPUSDEI.ID (26/10/21)-Meskipun senang bekerja di Nusa Indah dan DIAN, tetapi cita-cita saya ingin kuliah di Jawa. Maka berangkatlah saya bersama El Moritz pada Desember 1974 ke Jakarta. Tujuan saya: mencari kerja dan kuliah. Ketika kami meminta izin untuk keluar dari pekerjaan, Pater Alex tidak berkeberatan. Tetapi belakangan baru saya tahu dari beliau sendiri, kalau sebenarnya beliau merasa berat melepas kami, terutama El Moritz, tetapi beliau melepas kami agar kami bisa menentukan nasib dan masa depan kami sendiri.

Lama tidak ada kontak, karena memang masa itu komunikasi masih sulit, hanya bisa dengan surat lewat pos dan tibanya juga lama. Pada suatu hari di pertengahan 1976, waktu saya bekerja pada surat kabar harian Suara Karya, saya menerima surat dari P. Alex Beding, yang meminta bantuan saya menyerahkan laporan kepada Kapolri mengenai insiden pemukulan/penganiayaan  wartawan DIAN Christianus Nau oleh oknum-oknum polisi di kota Bajawa.

Sebagai wartawan di departemen Pertahanan dan Keamanan/Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Hankam/ABRI) pada masa Jenderal TNI M. Jusuf menjabat Menhankam/Pangab,  1978-1982/83, pada Kabinet Pembangunan II Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, saya mempunyai akses ke Hankam dan Polri lewat Pusat Penerangan Hankam/ABRI. Dengan rekomendasi dari Pusat Penerangan Hankam/ABRI saya bertemu dengan Kapolri, Jenderal Polisi Drs Widodo Budidarmon  di rumah dinasnya di Kebayoran Baru. Saya menyerahkan surat dari P. Alex tersebut dan Kapolri  mengatakan akan mempelajari dan menindaklanjuti kasus  tersebut. Beberapa bulan kemudian saya mendapat informasi dari seorang wartawan DIAN  bahwa oknum-oknum polisi di Bajawa yang terlibat penganiayaan Chris Nau telah diberi hukuman.

Sekitar 30 tahun berpisah di Ende pada akhir 1974, saya baru bertemu lagi dengan Pater Alex Beding pada Desember 2004 di Timika, Papua. Suatu hari saya menerima telepon dari Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar bahwa Pater Alex dan adiknya Suster Benedicta, CIJ sedang berada di Jayapura. Mereka dalam “Tour of Papua” dan akan ke Timika, dan kalau kami ada di rumah, mereka akan menginap di rumah kami di Kuala Kencana, kota tambang Freeport.

Saya dan istri sangat senang menerima mereka tinggal dengan kami selama 3 hari 2 malam sebelum mereka terbang ke Bali untuk pulang ke Flores. Sebelum ke Jayapura Pater dan Suster mengunjungi Sorong dan Manokwari dan menjadi tamu Uskup Sorong-Manokwari Mgr. Hilarion Datus Lega. (Bagian ketiga – bersambung)