Dari Kekurangannya Lansia ini Menolong Penderita Covid, Tuhan Kembalikan 10 Kali Lipat

423
Deonatus Gultom (tengah) bersama dua sahabatnya. (ist)
Deo berdiri paling belakang, persis di bawah salib. Berpose bersama usai pelayanan koor. (ist)

TEMPUSDEI.ID (24 Juli 2021)

Setelah menikmati menu rendang sapi dari daging kurban Idul Adha, pada 22 Juli 2021 malam, Deonatus Gultom atau yang biasa disapa Deo menulis status di face book: Menu sore, rendang daging sapi jatah kurban, tambah sayur oseng-oseng dan lalapan bawang putih.

Atas status FB-nya tersebut, sejumlah temannya berkomentar. Seseorang yang ikut berkomentar lalu mengirim pesan melalui jalur pribadi atau Japri. “Om Deo, aku ingin sekali makan daging sapi, tapi saya tidak dapat (daging) kurban,” tulis sang teman, seorang anak kos.

Sontak, Deo merasa iba, apalagi teman itu sedang menjalani Isoman di kosnya. Deo tahu karena seminggu sebelumnya teman itu memberitahu bahwa dia terjangkit virus korona.

Deo lalu menelpon untuk menanyakan posisi teman itu. Ternyata, dia kos di Madyopuro, Malang, tidak begitu jauh dari tempat tinggal Deo.

Karena perasaan iba tersebut, tanpa pikir panjang Deo mengajak anak itu bertemu. Deo ingin memberinya uang Rp200 ribu, kebetulan dua hari sebelumnya seseorang memberi Deo uang Rp300 ribu. Pikir Deo, semoga dengan asupan daging sapi (berarti asupan gizinya lebih bagus), anak kos dari NTT tersebut lekas sembuh dari Covid.

Deo dan anak kos tersebut sepakat untuk bertemu di lampu merah Gerbang tol Madyopuro. Tepat pukul 20.00 WIB, Deo menuju ke tempat tersebut. Sesampai di tempat yang disepakati, Deo memikirkan cara memberikan uang tersebut agar dia terhindari dari keterpaparan Covid.

Sejurus kemudian, anak itu datang. Namun karena anak itu terinfeksi Covid, dan supaya Deo tidak tertular—apalagi Deo sendiri memiliki komorbid (sakit bawaan)—Deo langsung menelpon dan katakan, “Mohon maaf, ya. Kita tidak usah berdekatan. Ini ada sedikit uang untuk beli daging sapi besok. Aku taruh uangnya di atas mobil orang yang lagi parkir,” sambil menunjuk mobil yang dia maksud.

BACA JUGA:  Seminari Santo Petrus Kanisius Mertoyudan Bidan Kelahiran Kepolisian Republik Indonesia

Setelah Deo menaruh uang itu, dia menjauh lalu anak itu datang mengambil uang tersebut. Setelah itu, mereka saling melambaikan tangan. “Aku benar-benar trenyuh,” kata Deo.

Sesampai di rumah, Deo mendapat WA ucapan terima kasih. Deo lalu bergumam, “Dari kekuranganku, aku masih bisa berbagi dengan orang.” “Semoga lekas sembuh,” kata Deo membalas WA anak itu.

Menuding Penipu

Keesokan pagi, handphone Deo berdering tiada henti. Karena tidak ada nama penelpon, dia tidak mengangkat. Karena tidak diangkat, sang penelepon mengirim pesan WA berbunyi: Mohon maaf, Pak Deo, tolong terima telepon sebentar saja. Dan tidak lama kemudiannya berdering kembali. Deo pun  mengangkat.

Setelah berbasa-basi sebentar, sang penelepon berkata, “Mohon maaf sebelumnya kalau aku mengganggu kenyamanan Pak Deo.”

Deo lalu bertanya, “Lalu ada apa, anda siapa?”

Penelepon itu menjawab, “Pak Deo, suatu saat nanti, Pak Deo akan tahu siapa saya. Boleh aku minta nomor rekening, Pak Deo?” kata orang itu dengan nada meminta.

Deo tidak begitu saja memenuhi permintaan wanita itu. “ Dari mana anda tahu nomor hpku?” tanya Deo menyelidik dengan perasaan curiga.

Sang penelepon dengan sopan kembali berkata, “Mohon maaf, Pak Deo. Saya kira itu tidak begitu penting. Aku hanya ingin Pak Deo berkenan memberikan nomor rekening Pak Deo.”

Lagi-lagi Deo masih menaruh curiga. “Oalah…! Anda itu penipu, ya?” seru Deo.

Lagi-lagi dengan nada sopan penelepon itu berkata, “Demi Tuhan, saya bukan penipu, Pak. Saya hanya saja ingin berbagi dengan Pak Deo dalam masa-masa sulit ini.”

“Lalu anda siapa kalau bukan seorang penipu?” tanya Deo sekali lagi.

Si penelepon berusaha meyakinkan bahwa dirinya bukanlah penipu. “Betul, Pak Deo. Saya bukan penipu. Jujur, selama aku kenal Pak Deo, sejak dulu, dalam kesulitan pun Pak Deo selalu mau berbagi dengan saudara Pak Deo. Kepada yang bukan saudara pun Pak Deo selalu ringan tangan untuk menolong.”

BACA JUGA:  Catatan  "SATU HATI UNTUK NTT" di Alor, dan "Apa Mengapa" Bupati Alor Main Maki

Mendengar kata-kata tersebut itu, Deo langsung mematikan handphone-nya.

Tidak lama kemudian. Hanphone-nya berdering lagi. “Haloooo… Apa sih maumu? Perlu kau tahu, rekeningku itu kosong. Tidak ada isinya untuk kau kuras,” katanya dengan dialek Batak.

Kembali penelepon itu berkata, “Lhooo, aku kan cuma minta nomor rekening  Pak Deo. Aku hanya ingin berbagi dengan Pak Deo walau hanya sedikit.”

Mendengar “kenekadan” orang tersebut, Deo lalu berpikir, “Apa salahnya kuberikan. Siapa tahu ada rezeki nomplok. Kalau dia mau membobol, apanya dia dapat, toh rekeningku pun tidak ada isinya.”

Deo pun mengirimkan nomor rekeningnya. Tidak lama kemudian, orang itu membalas, “Tks, Pak Deo. Semoga Pak Deo sehat sllu. Hanya aku mohon dengan sangat hormat, agar Pak Deo jangan sampai memberikan no hpku ini kepada siapa pun, please. Tks.”

Astaga!

Deo lalu berusaha mengingat-ingat suara orang tersebut, namun tidak berhasil menebak.

Tidak sampai satu jam kemudian, handphone Deo berdering lagi, “Om Deo, kalau ada waktu, tolong pergi ke ATM. Barangkali Om Deo butuh. Mohon maaf, Om Deo, kami hanya bisa bantu Om Deo sedikit. Semoga bermanfaat.”

Deo pun belum percaya. “Pikiranku, dasar orang gendeng…!” Sekitar pukul 11.00 WIB, Deo ke ATM, sekadar untuk mengecek kebenaran dari kata-kata perempuan itu.

Setelah memasukkan PIN ATM, lalu mengecek saldo, astaga! Deo gugup. Jantungnya berdebar-debar kencang. “Seingatku, saldoku tinggal seratus ribu lebih. Kini sudah jadi 2 juta lebih. Artinya betul-betul ditransfer 2 juta”.

Dengan tangan agak gemetar, dia menarik uang itu lalu bergegas pulang. Di jalan dia hanya bergumam, “Ya Tuhan Yesus, terima kasih banyak. Engkau utus orang berhati mulia menolong hamba-Mu ini. Tadi malam aku berikan dari kekuranganku 200 ribu, tetapi kini ada orang yang memberiku 10 kali lipat.“

BACA JUGA:  Petugas Medis Covid-19 Korban Penembakan Meninggal di Tempat

Deo lalu bergegas menepon orang yang meneleponnya semalam itu, namun tidak bisa dihubungi. Malah terdengar suara yang mengatakan “salah sambung”. Berkali-kali menelepon, tidak tersambung.

Sontak Deo teringat Firman Tuhan dan bertanya: apakah ini yang dimaksud dengan hukum “tabur tuai”?

Deo lalu mendaraskan doa: Saudaraku yang baik hati dan berhati mulia, aku berkata kepadamu bahwa kelak surgalah yang layak menjadi tempatmu dan keluargamu. Semoga rezekimu berlipat ganda berkat kebaikanmu.

Terima kasih Tuhan, terima kasih Bunda Maria. Aku mohon, Bunda, doakan selalu yang menolong saya ini agar melalui Putramu Yesus Kristus, keluarga mereka selalu terlindungi, Amin.

Deo sendiri adalah seorang Lansia yang tidak memiliki pendapatan tetap. Dia adalah warga Paroki Ratu Rosari Malang dan seringkali bergabung dalam koor di lingkungannya. Deo sudah sering kali diminta untuk beberapa tugas pelayanan di gereja, namun selalu merasa belum layak. (tD/EDL)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here