Cinta itu Menggerakkan

99
Eng Vikda

Oleh Eng Vikda

TEMPUSDEI.ID (30 JUNI 2021)

Saya selalu kagum pada orang-orang yang pernah mengalami kemendalaman cinta Tuhan, lalu berubah menjadi manusia baru; selalu mengarahkan diri dan hidup selaras kehendak Tuhan. 29 Juni lalu kita memeringati pesta dua rasul besar Paulus dan Petrus yang kiranya demikian tenggelam dalam kemurahan cinta Tuhan lalu berubah menjadi manusia merdeka dan penuh gairah mewartakan Tuhan.

Poin menarik dari kedua orang ini adalah mereka sama-sama pendosa; Petrus pernah meninggalkan dan menyangkal Yesus tiga kali. Paulus pernah menjadi seorang pembunuh dan penganiaya pengikut Kristus. Karena cinta-Nya yang besar, Tuhan menjamah dan melunakkan hati mereka. Mereka menjadi manusia baru. Manusia yang punya tujuan hidup jelas sebagaimana tertulis dalam Mazmur: mewartakan dan memuliakan Tuhan.

Perubahan itu  agak tak masuk akal bagi orang kebanyakan, bagaimana mungkin seorang pendosa bisa menjadi pewarta kebaikan. Tetapi itulah faktanya. Tuhan, membuat yang tak mungkin menjadi mungkin. Atau dengan bahasa lain kuasa Tuhan mengubah mereka dari seorang loser menjadi seorang winner. Di titik inilah saya belajar mengamini ungkapan, cinta itu menggerakkan sekaligus mengubah. Cinta Tuhan telah menggerakkan dan mengubah Petrus dan Paulus.

Dalam pergulatan hidup saya selama ini, kadang muncul keraguan, apakah saya sudah diampuni, diterima apa adanya, dicintai. Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali muncul manakala saya merasa kering, malas, dsb. Saya pun kemudian sampai pada sebuah kesadaran dan pertanyaan, apakah saya sudah sungguh sadari, resapi, syukuri segala rahmat yang selama ini Tuhan berikan? Di situ saya menemukan bahwa kurangnya rasa syukur membuat saya lupa pada sebuah kebenaran akan kondisi dasariah saya sebagai anak yang dikasihi Allah apa-adanya. Saya diundang untuk sadar, memang saya pendosa, tetapi sudah diampuni dan dicintai apa adanya.

Kesadaran bahwa diri ini diterima dan dicintai itu amat penting juga saya temukan dalam sebuah kisah inspiratif dari seorang anak di Amerika. Anak ini pernah membenci Tuhan karena kehilangan ayahnya di usia 11 tahun. Sepeninggal ayahnya, perekonomian mereka ambruk, hidup susah, hingga ia harus masuk panti asuhan. Ini menyakitkan karena yang sebelumnya anak orang berkecukupan, sekarang harus menjadi anak panti asuhan.

Rasa marah dan benci pada Tuhan tersebut berubah ketika ia sadar bahwa Tuhan ternyata tidak meninggalkan dia. Tuhan tetap hadir lewat para suster yang merawatnya di asrama, melalui prestasi akademiknya, sampai dengan beasiswa penuh di salah satu universitas swasta ternama, mendapat pekerjaan bagus dengan gaji lumayan, hingga bisa menghidupi keluarganya dan membiayai kuliah adiknya, dan aneka rahmat lainnya.

Di situ dia sadar, Tuhan tidak pernah meninggalkan apalagi membencinya meskipun dia pernah marah dan membenci Tuhan. Kesadaran ini membuat hidupnya jauh lebih baik, bahagia, dan penuh dengan rasa syukur, aktif di gereja serta ikut membantu anak-anak panti.

Singkatnya, kesadaran bahwa Tuhan selalu mencintai dia, menggerakkannya untuk terus bersyukur dan berbuat baik.

Di sini saya menemukan kebenaran Surat Paulus kepada Jemaat di Galatia; Allah telah memilih, memanggil dan menganugerahkan rahmat bagi setiap orang, termasuk sejak di dalam kandungan sampai akhir hayatnya.

Rasul Paulus dan Petrus adalah orang-orang yang demikian. Mereka sadar mereka pendosa, tetapi mereka juga sadar bahwa cinta Tuhan telah menghapuskan dan mengalahkan dosa mereka sehingga hidup mereka sungguh menjadi berkat. Mereka menjalaninya dengan totalitas diri sampai akhir hayat.

Saya merasa diundang untuk hal yang sama; mencintai Tuhan setotal-totalnya. Tentu ini tidak mudah, tetapi sebagaimana ditulis  Wilhelmus van der Weiden, dalam Setia Kendati Lemah, tokoh-tokoh pendahulu kita, seperti Abraham, Musa, Paulus, Petrus, dan sebagainya pun mengalami dinamika seperti kita. Mereka kadang kala lemah, patah semangat, kecil, tetapi lama-kelamaan  bisa dan setia.

Eng Vikda, Mahasiswa Sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta