Henri Dunant, Pendiri Palang Merah Internasional dan Kerajaan Allah, Apa Hubungannya?

129
Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

TEMPUSDEI.ID (13 JUNI 2021)

Pada suatu pagi di bulan Juni tahun 1859, seorang pria bangun lalu membuka jendela kamarnya di Swiss. Dia mendengar bahwa di Italia terjadi perang. Cepat-cepat dia menyiapkan barang-barang bawaan seadanya dan berangkat ke sana. Dia ingin melihat dari dekat yang sungguh terjadi.

Setibanya di Italia, dia melihat para tentara bertempur di satu sisi bukit dekat kota Castiglione. Dia melihat seorang tentara terkena peluru, berteriak lalu tumbang ke tanah. Dia belum pernah melihat hal ini sebelumnya. Hatinya pun tergerak untuk menolong tentara-tentara yang terluka.

Ketika pertempuran selesai dia lari memanggil penduduk sekitar dan membantu mengangkat para tentara yang luka dan membawa mereka ke kampung sekitar lalu mengobati luka-luka mereka.

Pengalaman itu sangat membekas di hatinya. Dia lalu pulang ke rumahnya dan menulis sebuah artikel tentang perlunya sebuah organisasi yang bertugas membantu dan menolong para tentara yang terluka di medan perang. Tahun 1864, tepat 5 tahun setelahnya, berdirilah sebuah organisasi pertama macam itu di Swiss, yang disebut Palang Merah (Red Cross). Organisasi ini dengan cepat berkembang di seluruh dunia. Semua orang melupakan pria ini hingga tahun 1891 namanya muncul di sebuah majalah. Pria ini adalah Jean Henri Dunant, yang dianggap sebagai pendiri Palang Merah Internasional, dan menjadi orang pertama yang menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1901.

“Kerajaan Allah seumpama benih yang ditaburkan di dalam tanah” (Mrk 4:26). Pertumbuhan benih ini menurut Yesus terjadi secara perlahan dan misterius oleh karya Roh Kudus. Gambaran Yesus tentang Kerajaan Allah ini berbeda dengan orang-orang Yahudi sezamannya.

Bagi orang Farisi Kerajaan Allah terwujud dalam pelaksanaan Hukum Musa secara absolut atau mutlak. Bagi orang Zelot, Kerajaan Allah terwujud dalam bentuk politis sebagai sebuah kekuasaan di mana Allah adalah pemegang Hukum Tertinggi. Mirip seperti Kilafah yang diyakini banyak orang radikal saat ini.

Bagi orang Esseni, Kerajaan Allah dilihat sebagai berakhirnya dunia ini karena kejahatannya. Karena itu mereka menarik diri dan bertapa di dekat Laut Mati menantikan saat akhir itu.

Bagi Yesus, Kerajaan Allah hadir dalam bentuk kuasa Allah dalam hidup manusia; mulai di dunia ini dan berakhir di Surga nanti. Kerajaan Allah tidak hanya soal nanti setelah kematian melainkan hadir di sini dan kini. Kerajaan Allah terkait sangat erat dengan yang dibuat manusia ibarat sebuah benih atau biji sesawi yang ditaburkan tetapi secara diam-diam, misterius, ditumbuh-kembangkan oleh Allah.

Dalam arti ini manusia diminta untuk melakukan yang bisa dilakukan; menaburkan dan menyiram. Dari pihak Allah, Dia melakukan apa yang hanya bisa dilakukan oleh Allah; menumbuh-kembangkan dan membuat hasilnya berlipat ganda.

Ketika kita, sebagai orang beriman memulai sebuah niat baik, dalam konteks membangun Kerajaan Allah, prosesnya mungkin jauh dari ekspektasi kita. Tumbuhnya sangat perlahan. Akan tetapi, sepelan atau selambat apa pun proses itu, kita hanya perlu bersabar menunggu bagaimana Allah bekerja. Yang penting kita yakin bahwa Allah selalu hadir dalam proses itu.

Pada saatnya Dia akan membuat semuanya indah dan penuh sukacita. Buahnya akan berlimpah ketika tiba waktunya. Dan saat itu mungkin saja tidak terjadi ketika kita masih hidup. Tapi kita pasti bahagia karena sudah pernah menanam benih itu dan pasti akan diperhitungkan oleh Allah.

Siapa pun bisa menjadi Jean Henri Dunant dalam cara yang berbeda-beda.

Salam dari Biara Santo Alfonsus-Konventu Redemptoris Weetebula, Sumba, NTT