Mengapa Kita Gagal Saling Mengerti Walau Bicara dalam Bahasa yang Sama?

346
Pater Remmy Sila, CSsR

Oleh Pater Remmy Sila, CSsR, Superior Redemptoris Samoa, Provinsial Oceania

 

OTEMPUSDEI.ID (23 MEI 2021)

Hari ini kita merayakan Pentakosta. Pentakosta ini tidak pernah terpisahkan dari “Karunia Pengertian”. Dengan Karunia Pengertian, kita bisa mengerti dan memahami Sabda dan kehendak Tuhan bagi kita. Dengan Karunia Pengertian pula, kita bisa saling mengerti dan memahami. Begitu sering kita tidak mengerti maksud dan kehendak Tuhan bagi kita, bahkan di antara kita sering terjadi salah paham.

Umat Kristen Perdana terutama para Rasul masih segar mengingat janji Yesus  tentang penolong, yaitu Roh Kebenaran yang membantu mereka bersaksi tentang Yesus sampai ke ujung bumi. Roh Kebenaran itu juga yang mengingatkan mereka tentang semua ajaran Jesus dan membantu mereka untuk mengerti dan memahami dengan lebih baik semua ajaran Yesus.

Sewaktu mereka mengalami karunia-karunia yang diuraikan dalam Kisah Para Rasul 2: 1-11, mereka mulai memahami yang  telah dikatakan Yesus kepada mereka. Mereka mulai saling memahami. Karunia memahami apa yang diucapkan dan mampu membawa persatuan yang luar biasa dari orang-orang yang berasal dari berbagai daerah dengan bahasa dan budaya yang berbeda.

Pada hari Raya Pentakosta kita merenungkan karunia pengertian dan rahmat persatuan   ini. Dari pengalaman kita, seringkali terjadi, meskipun kita berbicara dalam bahasa yang sama, kita tidak selalu bisa saling memahami karena kita tidak berbicara dari hati dan tidak mendengarkan juga dengan hati.

Oleh karena itu, kita perlu memohon bimbingan Roh Kudus  agar kita dapat berbicara dari hati dan mampu mendengarkan dengan hati juga. Salah mengerti dan salah memahami itulah yang seringkali menimbulkan perselisihan dan perpecahan di antara kita.

Banyak orang dewasa ini cenderung melihat kebebasan sebagai kesempatan untuk  mengatakan dan melakukan apa pun yang ia inginkan tanpa kesediaan untuk mendengarkan orang lain. Ini tentunya bukan kebebasan dalam arti yang sebenarnya. Ajaran iman kita menegaskan bahwa kebebasan sejati  adalah kebebasan yang benar-benar memimpin kita kepada Tuhan dan kepada persatuan satu sama lain dalam satu  tubuh Kristus dan dalam satu Roh. Dan kebebasan sejati juga yang menuntun kita kepada orang lain yang berbeda, yang tidak seagama dan seiman dengan kita untuk hidup bersama sebagai sebuah masyarakat lintas agama dan lintas budaya. Bahkan kita dituntun untuk mencintai dan merawat semua makhluk ciptaan Tuhan.

Jika kita menginginkan kebebasan sejati, marilah kita membiarkan diri dipimpin oleh Roh. Marilah berjuang melawan egoisme dan belajar hidup bersama dalam perbedaan dan saling mencintai dalam bimbingan Roh.

Salah satu cara untuk mengetahui bahwa kita mengikuti Roh adalah dengan berpegang teguh pada ajaran Yesus Kristus. Inti ajaran Yesus adalah mencintai Tuhan Allah dan mencintai sesama tanpa syarat.

Seringkali bimbingan dan bantuan Roh Kudus itu datang begitu saja dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita menemukan diri kita dalam suatu konflik, kita mohon kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada kita jalan keluar. Ketika hidup kita kacau, Roh bisa hadir jika kita dengan rendah hati memohon bimbingan. Seringkali Roh menyentuh hati kita ketika kita ingin melarikan diri dari tantangan dan persoalan hidup kita. Roh Kuduslah yang membantu kita untuk bertahan dalam ujian sampai waktunya tiba dan kita berhasil mengatasi persoalan.

Jadi, karunia Roh adalah tentang kemampuan hidup di dalam Yesus dan mencintai cara yang telah  Dia ajarkan kepada kita untuk mengasihi Tuhan secara total dan mencintai sesama tanpa syarat.

Selamat Hari Raya Pentakosta. Tuhan memberkati