Pentingnya Keteladanan Hidup dari Kaum Berjubah

49
Remmy Syla, CSsR

TEMPUSDEI.ID (25 APRIL 2021)

Oleh Pater Remmy Sila, CSsR, Superior Misi Redemptoris Samoa, Provinsi Oceania

Seorang pastor pergi memangkas rambutnya di tempat pangkas rambut. Ketika dia hendak membayar, tukang cukur berkata: “Pater adalah gembala kami. Pater adalah manusia untuk Tuhan dan sesama. Pater tidak usah bayar. Pater tolong doakan saja supaya usaha saya lancar.” Sang pastor mengucapkan terima kasih kepada si tukang cukur lalu pergi. Keesokan harinya, si tukang cukur terkejut melihat 12 koin emas muncul secara ajaib di depan pintu rumah pangkas rambutnya.

Seminggu kemudian seorang Rabbi Yahudi datang untuk mencukur jenggotnya. Ketika ia hendak membayar, si tukang pun cukur berkata: “Bapa Rabbi tidak usah bayar. Bapa adalah pemimpin spiritual umat Yahudi. Shalom.” Keesokan harinya, secara ajaib 12 berlian muncul di depan pintu rumah pangkas rambut.

Minggu berikutnya, walikota datang juga untuk memangkas rambutnya. Ketika ia hendak membayar, si tukang pangkas rambut berkata: “Tidak usah bayar bapak. Bapak adalah wali kota yang baik. Semoga bapak selalu sehat.” Wali kota tersebut mengucapkan terimakasih berlimpah lalu pergi. Dan keesokan harinya, si tukang pangkas rambut sangat terkejut karena di depan pintu rumah pangkas rambutnya telah antri 12 anggota dewan kota yang ingin memangkas rambut secara gratis juga.Hari ini kita merayakan hari Minggu Paskah IV yang dikenal juga sebagai hari Minggu Gembala yang Baik. Yesus adalah Gembala yang Baik yang mengajarkan kepada kita tentang kepemimpinan yang baik dan benar. Yesus pun menempatkan diri-Nya sebagai model  gembala yang baik. Gembala yang baik menjaga kawanan dombanya. Gembala yang baik menuntun kawanan dombanya ke padang rumput yang hijau. Gembala yang baik mencari dombanya yang hilang atau tersesat. Dan bila diperlukan ia akan siap mati demi keselamatan domba-dombanya.

BACA JUGA:  Setahun dalam Impitan Pandemi Covid-19 Menurut Refleksi Romo Josep Susanto

Gembala yang Baik

Kita patut bersyukur bahwa kita merupakan bagian dari kawanan Yesus, Sang Gembala yang Baik. Yesus, Gembala yang Baik, terus menjaga kita sampai saat ini melalui pelayanan para gembala manusia yang dipanggil dan dipilih-Nya sendiri. Mereka adalah para uskup dan para imam. Pemanggilan dan pemilihan secara khusus ini untuk memastikan bahwa kawanan-Nya tetap dijaga dan dirawat sampai Ia datang kembali.

Sayangnya, dewasa ini kita menyaksikan penurunan secara drastis jumlah imam dan jumlah orang muda yang tertarik untuk menjadi imam. Tidak terlalu banyak lagi kaum muda kita dewasa ini yang tertarik dengan imamat dan bentuk kehidupan religius yang lain. Alasannya bisa berbeda-beda. Tetapi yang paling menonjol adalah gaya hidup materialistik dan konsumeristik telah menyebabkan banyak orang muda tidak berminat dengan hidup imamat dan bentuk hidup membiara yang lain. Banyak juga yang tidak ingin dikekang oleh banyaknya aturan dan tuntutan hidup di seminari dan hidup sebagai imam atau juga hidup sebagai religius. Mereka ingin hidup bebas.

Maka hari Minggu Gembala Baik ini juga merupakan hari Minggu Panggilan Sedunia. Pada hari ini, Gereja mengundang kita untuk berdoa secara khusus untuk memohon lebih banyak panggilan untuk menjadi imam dan biarawan atau biarawati. Anda mungkin bukan orang yang dipanggil secara khusus untuk cara hidup ini, tetapi sebagai orang Katolik, Anda memiliki kewajiban untuk mempromosikan dan mendoakan panggilan khusus untuk menjadi imam, biarawan dan biarawati.

Nilai Imamat

Pater Wilhelm Wagener,CSsR (alm), sosok imam dengan teladan hidup yang baik. (foto oleh Ubas)

Pada kesempatan istimewa ini, marilah kita merenungkan nilai imamat secara khusus dalam hidup kita sebagai orang Kristen. Santo Yohanes Maria Vianney, Pelindung para imam mengatakan: “Tanpa imam, penderitaan dan kematian Tuhan tidak akan ada gunanya. Adalah imam yang melanjutkan karya penebusan di dunia ini…Apa gunanya rumah yang penuh dengan emas kalau tidak ada yang membukakan pintunya? Imam adalah pemegang kunci harta surga. Dialah yang membukakan pintu.” Paus Benediktus XVI juga menekankan hal yang sama ketika dia mengatakan bahwa tanpa pelayanan imamat “tidak ada Ekaristi, tidak ada misi, bahkan Gereja.”

BACA JUGA:  BAPTISAN, SEBUAH MOMENTUM

Kekurangan tenaga pastor (pelayan tertahbis) membuat banyak umat di seluruh dunia tidak mendapatkan pengajaran dan pelayanan iman secara baik dan memadai. Situasi ini merupakan satu tantangan besar bagi kita. Maka ada dua langkah yang harus kita ambil. Pertama, kita harus terus menerus meyakinkan umat agar sadar akan nilai dan pentingnya imamat dan kehidupan religius dalam kehidupan setiap orang beriman. Ini tentu merupakan tugas yang tidak gampang di tengah budaya materialistik dan egoistik yang kita hadapi sekarang. Tetapi kita tidak boleh menyerah dan berdiam diri dalam menghadapi sitausi ini.

Namun mempromosikan panggilan hidup khusus ini akan lebih efektif kalau kita mengambil langkah kedua. Jika Yesus adalah Gembala yang Baik, maka kita harus menjadi anggota sejati dari kawanan-Nya. Yesus berkata, “Akulah Gembala yang Baik, dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-doma-ku mengenal Aku” (Yoh 10: 14). Sebagai Gembala yang Baik, Ia berjalan di depan mereka, dan domba-domba-Nya mengikuti Dia, karena mereka mengenal suara-Nya (Yoh 10: 4).

Ketika kita mengenal dan mengikuti Gembala yang Baik, kita sendiri akhirnya menjadi gembala yang baik bagi diri kita sendiri dan orang-orang yang dekat dengan kita. Itulah sebabnya kenyataan menunjukkan bahwa panggilan imamat dan hidup religius biasanya berasal dari keluarga-keluarga kristiani di mana nilai-nilai Kristiani yang sejati diajarkan dan dihayati dengan baik dan setia.

Pentingnya Keteladanan

Selain peranan keluarga dalam penyemaian dan pertumbuhan bibit panggilan khusus ini, tentu yang tidak kalah penting adalah keteladanan para imam, biarawan dan biarawati itu sendiri. Apakah umat dan kaum muda masih menemukan keistimewaan nilai hidup yang secara khusus dihidupi dan ditawarkan oleh para imam dan kaum religius pada zaman ini?  Umat tentu sangat bangga memiliki imam, biarawan/biarawati yang memiliki keahlian khusus di bidang ini dan itu, tetapi mereka akan lebih bangga memiliki imam, biarawan/biarawati yang dapat dijadikan sebagai teladan hidup di bidang rohani dan kesucian hidup.

BACA JUGA:  Biola Senilai 1,5 Miliar Rupiah, Mau?

Teladan hidup tentu lebih kuat berbicara daripada rangkaian kata-kata yang indah dari bibir para imam, biarawan/biarawati. Dengan kata lain, satunya kata dan perbuatan, itulah yang dibutuhkan oleh masyarakat dan umat kita dari zaman Yesus sampai dengan saat ini dan selanjutnya.

Oleh karena itu, pada kesempatan istimewa ini, marilah kita mendoakan para imam, para diakon, para biarawa/biarawati dan para calon imam kita. Semoga Tuhan senantiasa menganugerahi mereka rahmat ketekunan dan kesetiaan dalam panggilan dan pelayanan mereka. Marilah kita juga berdoa untuk semua keluarga kristiani agar mereka menjadi bibit panggilan yang subur karena mereka dengan sungguh-sungguh mendengarkan dan mengikuti suara Gembala yang Baik, yang memanggil dan menuntun mereka menuju kekudusan dan kepenuhan hidup.

Selamat hari Minggu Panggilan. Tuhan memberkati.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here