Berbagi Kegembiraan atas Pengalaman Paskah

74
Pater Remmy Sila, CSsR

TEMPUSDEI.ID (18 APRIL 2021)

 

Oleh Pater Remmy Sila, CSsR, Superior Misi Redemptoris di Samoa, Provinsi Oceania

Hari Minggu yang lalu kita merenungkan kedalaman kerahiman ilahi yang nampak secara nyata melalui Yesus. Tidak hanya mengampuni mereka yang membunuh dan mengkhianati-Nya, tetapi bahkan menetapkan Sakramen Rekonsiliasi (pengampunan) yang memudahkan para pendosa untuk selalu mendapatkan pengampunan dari Tuhan. Jika kita selalu mendapatkan belas kasihan dan pengampunan dari Tuhan dan percaya bahwa Yesus sungguh telah bangkit dari kematian, maka kita pun harus bangkit dari sikap suka membenci, dengki dan keinginan untuk membalas dendam.

Hari ini, kita diingatkan akan tugas kita sebagai saksi kebangkitan Yesus. Kita dipanggil untuk berbagi pengalaman kegembiraan Paskah kita sendiri kepada orang lain. Apa gunanya kegembiraan Paskah kalau tidak dibagikan agar menjadi kegembiraan orang lain juga. Apa gunanya kita mendapatkan harapan baru bersama Yesus yang bangkit dan setia mendampingi kita dalam setiap ziarah iman kita kalau tidak dibagikan dengan sesama?

Untuk itu, dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menasihati kita agar tidak menyimpan pengalaman kegembiraan Paskah untuk diri kita sendiri.: “Demikianlah ada tertulis, bahwa Kristus akan menderita dan pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati, dan bahwa pertobatan dan pengampunan dosa harus diberitakan dalam nama-Nya kepada semua bangsa, dimulai dari Yerusalem. Anda adalah saksi dari hal-hal ini” (Lukas 24: 46-48).

Kata-kata Yesus inilah yang dipakai oleh Santo Petrus juga dalam bacaan pertama: “Demikianlah ia, pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal ini, kami adalah saksi” (Kis 3: 15).

BACA JUGA:  Sendengkan Telinga pada Suara Tuhan

Sebagai saksi kebangkitan Yesus, apa yang secara khusus perlu kita katakan atau wartakan kepada dunia?. Kesaksian dan pesan utama kita kepada dunia adalah pertobatan dan pengampunan dosa. “Karena itu sadarlah bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan…” (Kis 3: 19).

Dalam mewartakan kebangkitan Kristus, tanggapan yang diharapkan adalah kita adalah pertobatan dari dosa dan pembaharuan hidup. Menguburkan manusia lama kita untuk bangkit bersama Yesus dan hidup sebagai manusia baru. Kristus telah mati untuk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa kita tetapi kalau kita masih suka melakukan dosa, berarti kita masih suka memakukan Yesus berulangkali di kayu salib.

Meskipun demikian, bacaan kedua hari ini membuat kita memahami bahwa bentuk terbaik dari bersaksi bagi Yesus adalah dengan berjalan dalam terang-Nya dan mematuhi perintah-perintah-Nya. Kenyataannya, seperti yang dikatakan oleh Yohanes, hanya ketika kita menaati perintah-perintah-Nya kita dapat yakin bahwa kita benar-benar mengenal Tuhan. Jika kita dengan bibir mengaku mengenal Tuhan sementara tindakan kita bertolak belakang dengan perintah-perintah Tuhan, kita hanya menipu diri kita sendiri.

Konkretnya, bagaimana saya bisa mengajak  orang untuk masuk surga sementara segala cara pikir, kata-kata dan perbuatan saya sangat jauh dari nilai-nilai kerajaan surga. Itulah sebabnya dewasa ini banyak orang yang mengaku beragama tetapi cara berpikir, cara berkata dan bertindak mereka sangat jauh dari nilai hakiki ajaran agama. Agama akhirnya kehilangan nilai kesuciannya karena ulah para pemimpin agama sendiri yang tidak bisa memberikan panutan bagi para pengikutnya.

Oleh karena itu, marilah kita menjadi saksi kebangkitan Yesus tidak hanya melalui kata-kata tetapi terutama lewat tindakan nyata. Tetapi tindakan nyata tidak sama dengan kesibukkan untuk terus bekerja sehingga disebut sebagai aktifis. Satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah kesaksian lewat lutut (kebiasaan berdoa) dan lewat kesucian hidup.

BACA JUGA:  KASIH TUHAN UNTUK SEMUA ORANG

Kedua murid Emaus hanya bisa mengenal Yesus yang telah bangkit dan kemudian menjadi saksi-Nya ketika mereka mengundang Yesus untuk masuk dan tinggal bersama di rumah mereka. Banyak orang yang sibuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial tetapi lupa membangun hubungan pribadi yang intim dengan Yesus dalam doa dan Ekaristi.

Banyak orang hanya menjadi pekerja sosial dan bukan pelaku iman. Kalau kita selalu mengundang Yesus masuk dalam lubuk hati kita, bersatu dengan-Nya dalam Ekaristi, maka Ia akan selalu ada bersama kita untuk meneguhkan keyakinan dan pewartaan kita kapan pun dan di mana pun.

Selamat hari Minggu. Tuhan memberkati.

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here