BERDOA TANPA LELAH DAN JEMU

35
Berdoalah senantiasa

Oleh Weinata Sairin, adalah pendeta, teolog dan penyair

 

“Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia : Beginilah firman Tuhan, Allah Daud bapa leluhurmu : Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat airmatamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi….” (Yesaya 38 :5)

Weinata Sairin

Dalam upaya membangun dan memperkuat relasi antar manusia, pada tataran horisontal, ada banyak bentuk hal yang bisa dilakukan. Ada saling kunjung dan pertemuan silaturahim, ada acara week end atau berlibur bersama ke luar kota, ada saling berbagi informasi. Di era digital sekarang penguatan relasi bisa dilakukan melalui media sosial : WA, tweeter, facebook, instagram, telegram, telepon, dan sebagainya.

Saling membagi persoalan atau pergumulan dan mendapatkan saran atau masukan adalah juga salah satu wujud komunikasi yang memperkuat relasi antar pribadi. Dalam konteks kehidupan kristiani, penguatan relasi antar umat seiman tentu saja bisa dilakukan melalui aktivitas gerejawi baik dalam ibadah maupun dalam program atau aktivitas lainnya.

Di masa kini, kegiatan gerejawi itu sangat banyak dan hampir terisi seluruh hari dalam seminggu. Ada ibadah hari Minggu, di Gereja yang besar bisa berlangsung 3-5 kali dalam satu hari Minggu; ada kegiatan Komisi (kategorial dan non kategorial), kegiatan panitia, kelompok kerja, tim, gugus tugas, wilayah atau sektor, kesekretariatan, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu dikelola secara profesional oleh Majelis Jemaat dalam kordinasi seorang atau beberapa pendeta jemaat yang dipangil secara full time oleh Jemaat dan di-hire untuk itu.

Dalam keorganisasian, Majelis Jemaat biasanya dikembangkan “kepemimpinan kolegial”, yang di dalamnya pendeta yang fulltime bertindak tidak sebagai “komandan” atau “bos” tetapi lebih dalam kapasitas seorang gembala atau pastor, dalam perspektif primus inter pares yang mengkordinasikan seluruh elemen agar berjalan dengan lancar dan tugas pelayanan Gereja optimal dilaksanakan.

BACA JUGA:  Romo Raymundus Sianipar, OFMCap: Kita adalah Permadani Hidup yang Utuh dan Terjalin

Komunikasi dengan Allah

Relasi dan komunikasi dengan Allah, Khalik Semesta Alam dilakukan oleh manusia, sang makhluk, secara terus menerus dalam berbagai bentuk. Relasi melalui ibadah, pembacaan Alkitab, pujian rohani, berdoa, secara kontinyu dilakukan, baik di gedung Gereja, maupun di rumah atau di kantor tempat kita bekerja.

Komunikasi dengan Allah melalui doa pribadi sangat penting diwujudkan secara rutin dan berkesinambungan sehingga relasi kita dengan Allah terawat dengan baik dan konstant. Doa-doa pribadi kepada Allah adalah media yang memungkinkan kita mengungkapkan pergumulan kita kepada Allah.

Dalam doa pribadi kepada Allah pagi, siang, malam biasanya kita bersyukur dan memohon hal-hal yang berhubungan dengan pribadi, komunitas dan orang-orang yang berelasi dengan kita. Dalam tradisi Kristen, kita tidak punya rumusan teks doa standar untuk pagi, siang dan malam; doa adalah ungkapan bahasa pribadi kita kepada Allah. Teks doa standar yang kita miliki hanya Doa Bapa Kami, yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan.

Acapkali yang menjadi pertanyaan kita adalah mengapa Allah tidak menjawab doa-doa kita? Atau mengapa Allah lama  menjawab doa kita. Dari pengalaman empirik kita mendapatkan informasi bahwa ada waktu 5 sampai 8 tahun bahkan lebih pasangan suami istri menunggu jawaban doa mereka untuk mendapatkan seorang anak.

Ada juga pengalaman umat yang doanya cepat sekali dijawab oleh Tuhan. Menarik sekali bacaan dalam kitab Yesaya ini yang menceritakan bahwa Allah mendengar dan menjawab doa Hizkia. Dalam Yesaya 38:3 Hizkia menaikkan doa kepada Allah. Ia menyatakan dalam doanya bahwa ia telah hidup di hadapan Tuhan dengan setia, tulus hati, telah melakukan apa yang baik di mata Tuhan. Seusai doa, Hizkia menangis dengan sangat. Ia lakukan itu karena ia sudah diberitahu melalui nabi Yesaya bahwa ia akan mati (38:1).

BACA JUGA:  Mukjizat dan Kata-kata Yesus Saling Menegaskan

Secara definitif dinyatakan oleh Tuhan bahwa hidup Hizkia diperpanjang hingga 15 tahun lagi. Luar biasa, Tuhan menjawab doa Hizkia dengan sangat detil. Di zaman itu jawaban Tuhan bisa langsung diterima melalui nabi, tanpa menunggu lama. “Teknologi” zaman itu sudah lebih maju ketimbang di era digital sekarang!

Dari cerita Hizkia memang jelas sekali bahwa Sang Nabi hidup dengan setia, tulus hati, berbuat baik. Kualitas spiritual seperti itu yang membuat Tuhan segera menjawab dan mengabulkan doa Hizkia. Hizkia juga masih diperlukan Allah untuk menata dan membangun komunitas Allah ditengah zaman agar komunitas itu kredibel dan mampu menyaksikan nama Tuhan di tengah umat manusia yang menyembah berhala. Tuhan menjawab doa umat-Nya sesuai dengan kairos-Nya, sesuai dengan agenda dan rencana Allah, seiring dengan strategi Allah dalam menyelamatkan manusia. Bukan karena mood, atau   bosan mendengar curhat cengeng manusia. Jawaban doa juga amat dipengaruhi oleh kualitas spiritual umat. Kualitas yang biasa-biasa saja, standar atau super.

Bacaan ini memberikan inspirasi bagi kita di zaman modern sekarang ini  bagaimana menampilkan kekristenan sejati, cantik, otentik, elegan yang setia dan mengasihi Allah seutuh penuh, tidak parsial dan tempo-tempo, kapan-kapan. Perilaku kekristenan seperti itu yang membuat Tuhan menjawab doa-doa kita, memperhitungkan kedirian kita dan bahkan menambah umur-umur kehidupan kita sehingga kita bisa mengukir karya terbaik bagi Allah dan sesama. Di tengah Virus Covid 19 yang habis-habisan menggerus tatanan hidup kita, mari berdoa tanpa lelah dan jemu. Beri ruang bagi Roh Kudus mengubah diri kita. Ingat bahwa Yesus Kristus sudah menderita bagi kita, agar kita tidak takut menderita di tengah dunia yang luka, yang penuh turbulensi ini.

BACA JUGA:  TANGAN TERDEKAT

Selamat menyambut dan merayakan Hari Minggu. God bless.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here