MOSES KILANGIN, MUSA DARI NEMANGKAWI

364
Moses Kilangin (alm)
Patung Moses Kilangin. (Foto: ist)

TEMPUSDEI.ID (16 MARET 2021)

 

Oleh Yoseph Yapi Taum, Dosen Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Dr. Yoseph Yapi Taum

Moses Kilangin adalah tokoh pendidikan yang dikenal, dikenang, dan dihormati hampir oleh semua orang Papua. Orang-orang Amungme di Bumi Amungsa bahkan menyebut Moses sebagai “Uru Me Ki” yang artinya “Sang Guru Besar”. Dia juga sosok yang sangat dihormati dan disegani oleh para pendiri dan pemimpin perusahaan raksasa di bumi Papua, Freeport MacMohan. Tidak heran, nama Moses Kilangin diabadikan sebagai nama bandara internasional di Timika yang dibangun oleh Freeport.

Moses Kilangin yang nama lengkapnya Moses Abraham Kalmalan Kilangin Tenbak adalah anak kandung suku Amungme yang tinggal di seputar gunung Nemangkawi. Nemangkawi adalah sebuah gunung berbentuk mangkok dengan pemandangan yang indah dan suhu yang sangat dingin dan selalu bersalju. Ia lahir di Unganarki di daerah Diloa Lembah Besar tahun 1925 dan meninggal di Timika pada 14 Agustus 1999. Ia beruntung mengecap pendidikan Belanda dan menjadi orang Amungme pertama yang meraih posisi terhormat sebagai seorang guru.

Sebagai pendidik, dia bertekat mengubah dan memperjuangkan nasib kaumnya di puncak gunung yang selalu diselimuti salju abadi. Tahun 1958 Moses Kilangin menulis artikel di Majalah Triton Mart terbitan Hollandia (sekarang Jayapura) dengan judul “Antero Masih Gelap Pasang Lampu Lekas”. Moses melukiskan kondisi di tanah kelahirannya yang begitu memprihatinkan. Ia meminta perhatian pemerintah Nederlands Nieuw Guinea (pemerintah penjajah Belanda) untuk memperhatikan pendidikan, karena di sana tidak ada sekolah dan masyarakatnya hidup dalam kondisi yang sangat terbelakang.

 Musa dari Nemangkawi

Moses tidak hanya pandai menulis dan berbicara. Dia pun melakukan tindakan-tindakan nyata untuk mengubah nasib kaumnya. Dengan bersemangat, di tahun 1954 Moses diutus Pastor Cammerer untuk membangun kampung halamannya. Moses Kilangin berangkat dari Epouto menuju Kokonao. Selanjutnya ia berjalan kaki lagi ke Koperapoka. Satu bulan kemudian, tepatnya pada 1 Oktober 1954, Moses tiba di Tsinga. Selama empat bulan pertama  guru Moses bekerja dengan penuh semangat di Lembah Tsinga. Ia mengumpulkan anak-anak untuk bersekolah. Ia mengajar, memberi petunjuk, dan membangun permukiman penduduk yang sehat di tempat yang layak dihuni. Karena banyaknya murid yang ingin bersekolah, pada Januari 1955, Moses kembali ke Koperapoka menemui Pastor Cammerer untuk meminta tambahan guru baru. Permintaannya dikabulkan. Pastor Coenen mengirim dua guru bantu, yakni Paulus Aika dan Johanes Aikawe.

BACA JUGA:  Andy F. Noya Persembahkan Penghargaan yang Diterimanya untuk Orang yang Punya Hati untuk Berbagi

Pastor Coenen sangat terkesan dengan semangat dan kerja keras Moses. Moses telah memberikan penyadaran yang baik sehingga masyarakat mulai membangun permukiman pada daerah yang lebih baik. Konsentrasi penduduk dalam permukiman tertentu memungkinkan mereka lebih mudah memperoleh pelajaran agama dan anak-anak juga mulai bersekolah dengan tenang. Amkayagama dibangun menjadi ibukota di daerah Tsinga. Lapangan terbang milik misi Katolik dibuka dan rumah-rumah guru pun dibangun termasuk sekolah bagi anak-anak suku Amungme.

Karya pembaruan terbesar Moses adalah membangun Distrik Akimuga tahun 1958. Bersama temannya, Bestur Kokonao Arnold Mampioper, mereka memindahkan penduduk dari dataran tinggi ke dataran rendah, di daerah Lembah Tsinga dekat gunung bersalju. Dengan susah payah dan menghadapi banyak tantangan, akhirnya distrik Akimuga pun bisa didirikan.

Dalam waktu singkat banyak orang Amungme menjadi pemeluk agama Katolik. Tantangannya tidak mudah. Terjadi perbedaan pandangan yang tajam antara kepercayaan asli suku Amungme dengan ajaran Gereja Katolik, seperti paham-paham animisme antara womkela (dukun) dan hai (surga). Larangan agama Katolik untuk berpoligami membawa tantangan yang besar pula. Banyak pria berpoligami tidak mau ke gereja karena mereka diminta menceraikan isteri keduanya. Perlahan-lahan semua tantangan itu bisa diatasi.

Atas semua jasa dan pembaruan yang dibawanya, Pastor Coenen menyebut Moses sebagai Musa bagi tanah kelahirannya.

Mantan Bestur Kokonao Arnold Mampioper mengakui peran penting Guru Moses Kilangin.  Dalam bukunya berjudul Amungme Manusia Utama dari Nemangkawi Pegunungan Cartensz (2000), Arnold menyebut tiga peran sentral Moses, yaitu (1) membangun permukiman warga suku Amungme di wilayah Distrik Akimuga dan sekitarnya; (2)  keberhasilan misi Katolik di sana; dan (3) peran Moses dalam ekspedisi The Conquest of Cooper Mountain atau ‘menemukan’ Gunung Tembaga tahun  1960.

Sebuah ban di Bandara Mozes Kilangin di Timika.

Kalian Kerja Jujur dan Adil

Tahun 1960, lima tahun setelah Moses menjalankan misi pendidikannya di Bumi Amungsa, datanglah sebuah fajar harapan baru ke atas gunung Nemangkawi. Harapan Moses dalam “Pasang Lampu Lekas” kini seolah-olah mendapatkan momentumnya.

Forbes Wilson, pemimpin ekspedisi “menemukan” Gunung Tembaga, mengajak Moses menjadi penunjuk jalan menuju puncak gunung Nemangkawi. Misi Forbes adalah membuktikan “mitos” yang diceritakan Jean Jaques Dozy dan Gruisen pada 1936 bahwa di Gunung Ersberg (Nemangkawi), tembaga berserakan di tanah. Moses pun melakukan perjalanan bersama tim ekspedisi gunung tembaga ini selama tiga bulan, sejak Juli sampai dengan September 1960. Mereka menempuh rute Omoga menuju Belakama terus ke Tsinga Jongkogama-Waa (Mile 68 sekarang)-Osekindi-Bayulkase (mile 74 sekarang).

BACA JUGA:  Luar Biasa! Pada Mata Uang Amerika Serikat Ada Tanda Tangan "Anak Haram" Ini

Ekspedisi ini membuahkan hasil yang sangat mengejutkan, bahwa penelitian Dozy dalam Mountain Ersberg bukanlah mitos, ia benar adanya. Forbes Wilson yang mengisahkan kembali perjalanan ekspedisi “menemukan” Gunung Tembaga (Ersberg Mountain) ini dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain menyebut Moses Kilangin sebagai  orang yang amat berjasa dan berperan penting dalam penemuan gunung Grasberg di tahun 1960.

Tujuh tahun kemudian, sesudah mendapatkan kepastian kandungan tambang (emas), tepatnya 5 April 1967, pemerintah Indonesia menandatangani kontrak karya pertama dengan Freeport.  Mesin dan alat-alat pengebor didatangkan dan gunung itu pun mulai dibongkar. Penduduk Amungme, yang tinggal di sekitar gunung, di wilayah Waa dan Banti, menjadi marah karena menurut mereka Nemangkawi adalah tempat berdiamnya arwah nenek moyang mereka. Newangkawi adalah tempat suci untuk berdoa dan berburu.  Orang-orang Amungme, penduduk lembah Waa dan Banti, melarang Freeport membongkar daerah sakral itu. Pada malam hari, penduduk menutup dan memalang dengan pohon-pohon untuk menghentikan kegiatan Freeport. Freeport dengan terpaksa akhirnya menghentikan kegiatannya.

Dalam kesulitan ini, mereka menemukan jalan keluar: Moses Kilangin. Moses dicari, dijemput, dan diterbangkan dengan helikopter ke Newangkawi, yang kini dikenal sebagai Grasberg. Moses pun memberi pemahaman kepada kaumnya, orang-orang lembah Waa dan Banti. Penjelasannya sebagai berikut:  ”Gunung ini seperti kita orang Amungme beli tembakau isap itu. Sebelum kita beli, ‘cubit’ dulu atau ambil sedikit untuk rasa dulu, kalau baik baru kita beli. Sama saja dengan gunung ini, di’cubit’ dulu kalau baik baru mereka beli.”

Moses ingin menerangkan bahwa yang dilakukan Freeport adalah sebuah percobaan awal untuk menemukan harta terpendam di dalam gunung. Kalaupun harta itu ada, masyarakat jugalah yang akan menikmatinya, sebagai berkat bagi mereka. Karena itu, dia melanjutkan.: “Sebab di dalam batu-batu itu ada macam-macam harta. Harta itu bisa kita pakai untuk sekolah sampai menjadi tuan-tuan besar. Pesawat helikopter yang kamu lihat ini juga bisa kita beli dari harta yang ada di dalam batu-batu itu. Bahkan suatu saat nanti kamu punya masa depan dan anak-anak kalian akan lebih baik,” tulis Moses Kilangin.

Penjelasan ini rupanya melunakkan kemarahan orang-orang lembah Waa dan Banti. Proyek pun dilanjutkan. Setelah berhasil menenangkan kaumnya, Moses pun berpesan pula kepada John Currie, Pengawas Senior PT Freeport MacMoran sebagai berikut:

BACA JUGA:  Untuk Dirjen Bimas Katolik, Perlu Beri Peluang bagi Orang Daerah

“Kalau kalian bikin begini nanti masyarakat bikin begitu. Di masa depan kalian akan bermasalah terus menerus. Lebih baik kalian kerja jujur dan adil saja, sehingga kalian tidak diganggu terus. Kalau ada hasil, bicara baik-baik dengan masyarakat. Jangan meremehkan masyarakat. Perhatikan mereka punya pendidikan, kesehatan, perumahan yang baik, hak-hak masyarakat harus dihargai, dan dihormati masyarakat Amungme sebagai penduduk asli sebagai manusia.”

Dalam perkembangannya, sejak kontrak karya pertama Indonesia dengan perusahaan tambang Amerika Serikat itu, berbagai persoalan kekerasan dan konflik terus-menerus terjadi di daerah tambang emas itu, seolah-olah tak kunjung selesai. Hal itu menunjukkan bahwa kandungan emas dan harta berlimpah ruah itu tidak menjadi berkat bagi bumi Cenderawasih.

Cengkeraman Kuku

Dalam Alkitab, Musa (Moses) adalah tokoh yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan menuntun mereka menuju tanah yang dijanjikan kepada Abraham, yaitu tanah Kanaan. Harapan dan cita-cita Musa memang tidak tercapai. Ia hanya mengantarkan orang Israel sampai ke tepi timur sungai Yordan, sebelum menyeberang ke tanah terjanji Kanaan.

Moses Kilangin memiliki harapan dan cita-cita besar membebaskan kaumnya dari berbagai ketertinggalan, kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Ketika sebuah perusahaan raksasa datang ke bumi Papua, dalam keluguannya, Moses mengira perusahaan tambang emas itu akan menjadi sarana dan jalan mewujudkan impiannya akan tanah Papua yang maju dan sejahtera.

Moses tampil di depan menjadi penunjuk jalan bagi Freeport. Kini perusahaan raksasa itu telah beroperasi hampir selama setengah abad. Ia sudah mencengkeramkan kuku-kukunya dengan kokoh di tanah Papua. Diperkirakan, dalam sehari  Freeport dapat mengeruk 30 juta ton tembaga dan 2,744 miliar gram emas. Bila dihitung secara kasar dengan standar harga per gram emas 100 ribu rupiah, berarti nilai emas yang terkandung di bumi Papua sekitar 270 triliun rupiah. Itu belum termasuk produk tambang lainnya.

Pertanyaannya, apakah masyarakat Papua sudah maju dan sejahtera dengan kehadiran Freeport yang telah mengeruk nilai kekayaan yang begitu fantastis? Sudah adakah orang Papua yang membeli helikopter dari kekayaaan itu? Bagaimana kondisi pendidikan, kesehatan, perumahan orang Papua? Sejahterakah umat Israel di tanah terjanji? Pertanyaan seperti ini tentu tidak bisa dijawab Musa maupun Moses. Akan tetapi ada satu hal yang pasti, Musa dan Moses tetap dikenang dan dihormati kaumnya sebagai tokoh berpengharapan yang besar, sekalipun jelas bahwa mereka sendiri tidak pernah sampai di tanah impiannya. *

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here