Kusta Rohani dan Iman yang Menyembuhkan

163
Pater Remmy Sila, CSsR

 

Oleh Pater Remmy Sila, CSsRSuperior Samoa, Provinsi Redemptoris Oceania

 

TEMPUSDEI.ID (14 FEBRUARI 20210

Yesus dan orang kusta

Penyakit kusta adalah salah satu jenis penyakit menular yang sangat menakutkan pada zaman dulu sampai sekarang. Meskipun dewasa ini sudah ada obat kusta, namun ada data yang mengatakan bahwa masih tetap ada sekitar 200.000. Puji Tuhan, kasus tersebut perlahan-lahan menurun.

Yang jelas, pada zaman Perjanjian Lama dan pada zaman Yesus, belum ada obat kusta. Karena penyakit kusta merupakan penyakit menular, seorang penderita kusta harus diasingkan dari masyarakat yang masih sehat. Tentu saja tidak ada seorang pun yang mau menderita penyakit kusta, apalagi diasingkan dari keluarga dan teman-temannya sendiri. Tidak hanya itu, dihindari oleh semua orang karena takut tertular.

Dalam Kitab Suci, penyakit kusta juga menjadi simbol dosa. Kita bahkan dapat menyebutnya sebagai “kusta rohani.” Dan kita dapat memahaminya karena seperti kusta, demikian dosa dapat terlihat, tetapi mengapa orang berdosa tidak bisa dilihat alasannya secara kasat mata. Ada sesuatu yang salah dalam sifat manusiawi kita dan dalam hubungan kita dengan Allah seperti dikatakan oleh Santo Paulus: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” (Rm 7: 19)

Terpisah dan Diasingkan

Kitab Imamat bab 12-15 secara khusus membahas tentang berbagai penyakit dan mengapa beberapa penyakit mengharuskan orang untuk hidup terpisah atau diasingkan, terutama agar tidak menulari orang lain. Maka kita dapat membayangkan alasan ada orang yang berusaha menyembunyikan suatu jenis penyakit menular, karena ingin menghindari pengasingan dari masyarakat.

BACA JUGA:  Kardinal Suharyo pada Hari Pentakosta: Jangan jadi Gereja yang Mandeg

Inti ajaran dari Paulus untuk Jemaat di Korintus dan untuk kita semua adalah bahwa kita tidak boleh menimbulkan syak dalam hati orang, siapa pun dia. Sebaliknya seturut teladan Santo Paulus kita hendak berusaha  untuk menyenangkan hati semua orang, bukan untuk kepentingan diri kita melainkan untuk kepentingan banyak orang, supaya mereka beroleh selamat. Ini sudah pasti merupakan sesuatu yang sulit, tetapi kita dapat memahami bahwa seorang pengikut Yesus dipanggil untuk mencintai setiap orang dan untuk melayani setiap orang tanpa pandang bulu dan untuk menempatkan kepentingan banyak orang di atas kepentingan pribadi.

Ini adalah suatu tugas bahkan perintah untuk selalu bersikap baik demi keselamatan sesama. Santo Paulus menganggapnya sebagai cara untuk membawa keselamatan bagi orang lain. Dalam hal ini kita semua adalah misionaris yang diutus melalui bidang tugas dan karya kita masing-masing untuk membawa rahmat penebusan Tuhan yang berlimpah kepada sesama kita di tempat kerja kita dan di mana pun kita berada.

Jadilah Tahir

Sedangkan bacaan Injil dari Markus 1: 40-45 membawa kita kembali kepada tema tentang penyakit kusta. Penderita kusta dalam bacaan Injil ini datang kepada Yesus dan ingin disembuhkan. Yang menarik adalah bahwa meskipun ia sangat yakin bahwa Yesus dapat menyembuhkannya tetapi ia tetap menempatkan kehendak Tuhan pada tempat yang pertama dan bukan kehendaknya. Maka sambil berlutut di hadapan Yesus, ia memohon: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat meneyembuhkan aku.” Karena sikap imannya inilah maka Yesus mengabulkan permohonanya dengan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Dan seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta.

Meskipun Yesus meminta si penderita kusta yang baru disembuhkan untuk tidak bercerita kepada siapapun tentang peristiwa penyembuhannya, tetapi penderita kusta itu tidak bisa menahan  mulutnya untuk membagikan kisah kebaikan Tuhan yang telah dialaminya. Dengan demikian ia telah menjadi seorang pewarta keselamatan dari Tuhan bagi sesamanya sehingga semakin banyak orang dari segala penjuru datang kepada Yesus meskipun Ia telah menyingkir ke tempat-tempat yang sepi.

BACA JUGA:  MELAYANI - Mengabdi dalam Sunyi

Kusta Rohani

Sejak awal Gereja, dosa dipandang  sebagai kusta rohani. Maka kita diundang dan diantar kepada Yesus untuk disembuhkan dalam pembaptisan. Tetapi Gereja juga mengalami pergumulan cukup panjang untuk bisa memahami kenyataan bahwa orang yang telah dibaptis tetap masih jatuh dalam dosa dan terus saja berdosa. Gereja akhirnya menyadari bahwa dosa itu seperti penyakit kusta yang proses penyembuhan membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh secara total. Untuk itu dibutuhkan ketelatenan, kesabaran dalam menyembuhkan seorang penderita kusata.

Demkian untuk mempertobatkan seorang pendosa juga dibutuhkan ketelatenan, kesabaran dan cinta yang yang besar dan tanpa syarat dari kita semua terutama dari para petugas pastoral baik tertahbis maupun tidak tertahbis. Dan obat kusta rohani yang mujarab adalah iman kepada Yesus baik dari pihak penderita maupun dari pihak petugas pastoral.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memohon Roh Kudus agar membantu kita untuk memiliki iman yang kuat dan membantu kita juga untuk senantiasa membaharui hidup beriman kita. Marilah kita pun memohon kepada Yesus, Tuhan kita agar menyembuhkan kita semua dari penyakit kusta rohani kita. Amin.Tuhan memberkati.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here