Mungkin Alam Mulai Enggan Bersahabat dengan Kita Juga

71

Romo John Kota Sando, dari Merauke

Segala peristiwa yang terjadi dalam hidup kita selalu membawa pesan dan hikmah. Lagu Ebiet G. Ade Berita Kepada Kawan menyerukan pesan yang amat berharga: “Mengapa di tanahku terjadi bencana. Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang,” begitu kata Ebiet dengan indah dalam lagu tersebut.

Setiap peristiwa dalam hidup kita perlu direfleksikan karena itulah cara Tuhan berbicara kepada kita tentang segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini.

Setiap peristiwa mengandung pembelajaran, pencerahan, peneguhan, penyadaran, teguran, nasihat dan ajakan untuk merenung dan berintrospeksi diri. Bahkan ada ungkapan yang mengatakan: “Jika anda ingin mencari jejak-jejak kaki Tuhan, maka carilah Dia dalam jejak-jejak peristiwa kehidupan anda”.

Perlu sikap tobat

Injil Markus 1:14-20 hadir dengan pewartaannya yang menyerukan agar kita bertobat dari dosa-dosa kita: “Waktunya telah genap. Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah pada Injil” (Mrk.1:15). Seruan ini datang tepat pada waktunya, di saat manusia masih tertidur lelap dalam pelukan dosa; di saat pelbagai bencana dan cobaan datang menghancurkan kebahagiaan manusia. Allah yang sejak awal merancang kebaikan bagi kehidupan manusia langsung mengingatkan manusia agar sadar dan bertobat, karena dosa mendatangkan bencana dan tragedi yang memilukan.

Tak ada kehidupan dan kebahagiaan yang dibangun di atas dosa, selain di atas cinta dan kebaikan. Kesempurnaan cinta dan kebaikan Allah menjadi nyata di depan mata manusia, ketika PuteraNya Yesus Kristus datang ke dunia ini untuk menghancurkan kuasa dosa dan mengangkat manusia dari kubangan lumpur dosa dan membersihkannya dengan darah-Nya sendiri.

BACA JUGA:  Sejak 71 Tahun Lalu Indonesia Punya Keuskupan Khusus untuk Militer dan Kepolisian

Kerajaan Allah menjadi begitu dekat dengan manusia lewat  kehadiran Putera-Nya Yesus Kristus yang berjalan sambil berbuat baik; mewartakan kabar keselamatan dan pembebasan bagi manusia. Dan hanya orang yang sungguh bersatu dan berpihak kepada Kristus yang akan mengalami pembebasan dari cengkeraman kuasa dosa. Itulah sebabnya Rasul Paulus dalam 1 Kor.7:29-31 mengingatkan jemaat di Korintus supaya mereka tetap setia bersatu dan berpihak pada Kristus daripada bersatu dan berpihak pada dunia yang pada hakikatnya berada dalam kehancuran dan kepunahan.

Bahagia atau tidaknya hidup manusia sangat tergantung pada pilihannya. Pilihan yang benar akan mendatangkan berkat dan pilihan yang salah akan mendatangkan bencana.

Tuhan menciptakan segala sesuatu baik adanya (Kej.1:31). Tetapi dosa telah meracuni hidup manusia, sehingga ciptaan yang baik itu dapat melahirkan dosa. Perlu disadari bahwa orang yang hidup di dalam dosa tidak akan pernah merasa damai dan nyaman yang sesungguhnya: “Selama kusembunyikan dosaku, batinku tertekan dan aku mengeluh sepanjang hari” (Mz.32:3).

Tuhan selalu terbuka menerima pertobatan kita

Semangat pertobatan perlu dibangun di dalam diri kita, jika kita ingin hidup yang bahagia dan nyaman. Itulah sebabnya melalui nabi Yunus dalam Yun.3:1-5.10, Allah menyerukan pertobatan kepada penduduk Niniwe agar kedamaian dan kebahagiaan mereka tidak dihancurkan oleh perbuatan dosa mereka.

Allah tak pernah menghendaki kehancuran atas hidup manusia dan tetap setia memberikan pengampunan kepada manusia bagaimanapun besar dan beratnya dosa manusia itu: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes.1:18)

Jika manusia merasa hidupnya tidak damai dan bahagia, penuh tantangan dan penderitaan, itu semua disebabkan oleh  kesalahan dan dosa manusia sendiri. Jangan pernah kita coba menyalahkankan dan menghakimi Tuhan, karena Ia tidak pernah sedikitpun merancang dan menghendaki kehancuran dan kebinasaan atas hidup manusia. Tuhan tidak pernah membiarkan manusia berada dalam situasi ketakberdayaan dan akan terus memulihkan dengan kasih-Nya yang tak berkesudahan: “Buluh yang patah terkulai tidak diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya” (Mz.12:20, Yes.42:3).

BACA JUGA:  Dari Debu Tanah Kembali ke Debu Tanah

Dunia dan hidup kita yang tersakiti oleh pelbagai macam cobaan dan penderitaan perlu dipulihkan dengan pertobatan. Hati kita yang terluka karena hancurnya kebahagiaan perlu dipulihkan dengan pertobatan. Jika kita keras hati dan tidak mau bertobat, maka itu sama halnya kita menimbun bencana atas diri dan kehidupan kita.

Kita perlu berintrospeksi diri dan masuk dalam kesadaran batin kita agar kita sungguh menyadari bahwa dosa yang kita buat tidak saja mencederai kemulian Allah, tetapi juga merusak diri kita sendiri dan menghancurkan kehidupan alam serta kebahagiaan orang lain.

Para pimpinan gereja, pastor, biarawan-biarawati perlu bertobat, karena bisa saja dengan cara hidup yang tidak sesuai dengan pangggilan dan misi pelayanannya telah menyakiti hati banyak umat atau bahkan menjauhkan mereka dari Kerajaan Allah.

Para orang tua perlu bertobat, karena jika mereka tidak dapat menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga mereka, maka masa depan anak-anak mereka akan terbengkelai. Anak-anak perlu bertobat dengan menaruh rasa hormat terhadap orang tua, jika tak ingin kehilangan “surga” masa depan mereka.

Para pejabat pemerintahan dan wakil rakyat perlu bertobat untuk tidak mementingkan diri sendiri dan mau bekerja sepenuh hati untuk rakyat. Singkatnya kita semua perlu bertobat agar kita tetap berada dalam rangkulan kasih Allah, sehingga kita tetap boleh mengalami hidup yang damai dan bahagia. Janganlah kita menjadi kristen “KTP” alias “Kristen Tanpa Pertobatan”.

Ada ungkapan yang mengatakan, “Jika anda menginginkan buah apel, anda harus menanam bibit apel. Jika anda mau jeruk, anda tidak dapat menanam kaktus. Anda hanya dapat memperoleh buah yang anda inginkan sesuai dengan bibit yang anda tanam. Demikianpun juga anda tidak dapat berkata negatif, sementara anda mengharapkan yang positif. Anda tidak dapat mengatakan kekalahan, sementara anda mengharapkan kemenangan. Anda tidak dapat memikirkan kegagalan atau mengatakan saya takut, sementara anda menginginkan keberhasilan”.

BACA JUGA:  Menemukan Tuhan di Sini dan Kini

Demikianpun juga saya tidak dapat mengatakan saya bertobat, jika saya masih terikat dan bersekutu dengan dosa-dosa saya. Saya tidak dapat mengatakan bahwa saya harus berubah ke arah hidup yang lebih baik, jika saya masih membiarkan diri saya dibelenggu oleh hal-hal buruk yang melekat pada diri saya. Saya tidak dapat membangun masa depan yang baik, jika saya tidak berani melepaskan diri dari bayangan kekelaman masa lalu saya. Maka, bertobatlah, karena Kerajaan Allah sudah dekat. Amin.

 

Merauke, 23 Januari 2021.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here