Pater Kimy Ndelo, CSsR

Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

Dalam hidup manusia ada saat-saat tertentu yang menentukan sejarah hidup selanjutnya. Itulah yang disebut momentum.

Momentum ini bisa berupa titik balik atau turning point dari hidup yang lama, yang keliru, atau penuh dosa. Momentum ini bisa juga sebuah lompatan yang belum pernah dibuat sebelumnya. Momentum ini bisa juga berupa sebuah keputusan penting yang dibuat secara sadar.

Dalam konteks hidup beriman, momentum ini bisa berupa sebuah kesadaran baru akan kehendak Allah yang dibaca, dipahami dan dijalani dengan sepenuh hati.

Peristiwa pembaptisan Yesus yang dirayakan hari ini, seperti dikisahkan keempat penginjil sekaligus – hal yang sangat jarang terjadi – adalah sebuah momentum paling menentukan bagi Yesus.

Dengan pembaptisan, untuk pertama kali Yesus tampil di muka umum. Tiga puluh tahun hidupnya tersembunyi dan tetap jadi misteri sampai kini.

Banyak usaha penafsiran untuk menjawab alasan “mengapa Yesus baru tampil saat itu, ketika Yohanes mewartakan pertobatan dan pembaptisan di sungai Yordan.”

Alasan sesungguhnya bisa dideteksi dari peristiwa yang dikisahkan oleh keempat penginjil kanonik.

Baptisan Yohanes adalah syarat sekaligus bukti pertobatan. Menariknya, pembaptisan semacam ini biasanya berlaku untuk orang non Yahudi. Kali ini yang dibaptis adalah orang Yahudi sendiri. Ini agak aneh.

Baptisan macam ini hanya berarti bahwa untuk pertama kali dalam sejarah, status istimewa orang Israel hilang. Mereka tidak ada bedanya dengan orang non Yahudi.

Momentum inilah yang dilihat oleh Yesus sebagai sebuah titik balik. Ada sebuah gerakan radikal yang mirip dengan penciptaan baru. Jika ingin menjadi umat pilihan, Allah maka harus melewati proses kelahiran baru, yaitu pembaptisan. Yesus tidak mau kehilangan momentum seperti ini. Dia menjadikan peristiwa pembaptisan sebagai sebuah awal baru dalam hidup-Nya dan bangsa Israel.

Kesadaran dan keputusan Yesus ikut dalam pembaptisan ini kemudian dikukuhkan atau di-approve oleh Allah sendiri dengan mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. Kepadanyalah Aku berkenan” (Mat 3,17).

Yesus tidak salah memilih momentum. Suara dari Allah akhirnya menegaskan siapa Dia dan bagaimana hidup-Nya selanjutnya.

Tradisi pembaptisan yang kemudian diwarisi oleh Gereja sampai saat ini menjadi momentum penting bagi setiap orang Kristen karena pada titik itulah mereka ikut ambil bagian dalam status yang sama seperti Yesus: “menjadi anak yang dikasihi dan berkenan kepada Allah”.

Johny kecil sedang main pastor-pastoran di rumah. Dia menjadikan kucingnya sebagai umat. Ibunya memandang dari balik jendela sambil tersenyum. Johny dengan semangat berkhotbah kepada kucingnya yang duduk tenang dan cuek.

Tidak lama kemudian terdengar suara kucing mengeong keras sambil berlari basah kuyup. Ibunya teriak: “Johny, berhenti dengan itu. Kucing takut air”.

Johny menjawab, “Harusnya dia tahu risikonya kalau mau gabung gereja saya”.

Menjadi Anak Allah dan berkenan pada Dia tentu ada risiko atau konsekwensi. Orang yang berkenan pada Allah adalah ciri khas seorang “hamba yang menderita” (Yes 42,1-9). Yesus tahu dan siap menjalani itu semua dengan ikhlas.

Apakah kita juga siap dengan konsekwensi baptisan kita? Kucing sudah pasti tidak tahu.

Salam hangat dari Biara Santo Alfonsus-Konventu Redemptoris Weetebula, Sumba tanpa Wa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here