MARAN ATHA

48

Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris, Provinsi Indonesia

TEMPUSDEI.ID (29/11) – Beberapa tahun yang lalu, seorang turis mengunjungi sebuah villa mewah yang kuno (castle) bernama Villa Castella Asconti di tepi danau Como di utara Italia. Di situ hanya ada seorang tukang taman yang membuka pintu gerbang. Pengunjung itu masuk ke dalam taman yang ditata indah begitu sempurna. Turis itu bertanya kepada tukang taman, kapan pemilik villa ini datang terakhir kali. Dia menjawab, “dua belas tahun yang lalu”. Apakah dia pernah menulis sesuatu? Tidak, katanya. Dari mana dia mendapat perintah untuk mengawasi dan merawat taman villa ini? Katanya dari agennya di Milan. Apakah tuan rumah ini tidak pernah datang? Dijawabnya, tidak pernah.

“Luar biasa,” kata turis itu. “Engkau merawat taman ini begitu bagusnya seolah-olah tuanmu datang kembali esok harinya”. Tukang taman itu dengan cepat merespon: “Hari ini, tuan. Hari ini”.

Sikap tukang taman ini menunjukkan sikap seorang kristiani sejati. Dia selalu berpikir bahwa tuannya akan datang hari ini, bukan besok. Karena itu taman itu dipelihara, dirawat, ditata dengan begitu indahnya setiap hari, supaya ketika tuannya datang, dia merasa puas dan terkesan.

“Maran atha” (Wahyu 22,20) adalah sapaan harian orang Kristen zaman dulu. Persis seperti sapaan “selamat pagi”, “hello” yang kita ucapkan hari ini. Ketika orang-orang Kristen berjumpa di mana saja mereka saling menyapa dengan kata ini. Maran atha, sebuah kata dari bahasa Aram berarti “Datanglah Tuhan Yesus”.

Mengapa mereka menggunakan ungkapan ini? Di balik ungkapan ini ada sebuah keyakinan sekaligus pengharapan akan kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Yesus segera kembali. Selain itu mereka juga menyatakan secara eksplisit bahwa diri mereka telah siap untuk itu. Mereka memanggil Yesus agar segera datang karena mereka sudah mempersiapkan diri untuk itu.

BACA JUGA:  Yesus Raja Kehidupan, Dia Terlibat Konkret dalam Hidup Kita

Apa wujud kesiapan itu? Kata-kata Yesus adalah jawabannya: “Jangan sampai didapatinya kamu sedang tidur” (Mark 13,36). Tidur adalah simbol kelemahan dan kegagalan untuk bertahan, persis seperti pengalaman Petrus bersama Yesus di taman Getzemani (Mark 14,37).

Yesus mengharapkan agar setiap murid-Nya selalu berjaga-jaga. Yesus ingin agar ketika Dia datang secara tiba-tiba, entah siang atau malam, mereka tetap dalam aktivitas sebagaimana mestinya sesuai tugas dan panggilan masing-masing.

Yesus tidak meminta orang-orang untuk duduk diam menantikan Dia. Setiap orang sudah diberikan tugas dan tanggungjawab masing-masing. Setiap orang yang “berjaga-jaga” adalah orang yang sedang bekerja melakukan tugasnya ketika tuannya tiba.

Kita sudah mengalami dalam iman kedatangan Yesus yang pertama. Masa Adven ini bukan sekadar masa menantikan kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Ini adalah masa di mana kita menghidupkan kembali pengalaman bersama Yesus sebelumnya, dan karena itu merindukan kedatangan-Nya yang kedua. Mereka yang sudah menyatu dengan Yesus pada kedatangan-Nya yang pertama, tidak mempunyai ketakutan akan kedatangan Yesus yang kedua.

Maka masa Adven adalah sebuah persiapan sekaligus pengharapan akan kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Hanya mereka yang benar-benar siap yang bisa mengatakan: “Maran atha”. Tapi entah siap atau tidak, kapan pun Dia tetap akan datang.

Thomas Merton, seorang mistikus dari Timur, suatu ketika ditanya: “Rahib, apa yang diajarkan oleh kebijaksanaan Allah kepadamu? Apakah engkau menjadi ilahi?” “Sama sekali tidak”, kata Thomas. “Apakah engkau menjadi seorang santo?” “Tidak juga. Engkau sudah lihat sendiri?”. “Kalau begitu apa, o Rahib malang?” Thomas menjawab, “Saya menjadi terbangun!” Ya, seperti katanya sendiri, hidup rohani pertama-tama adalah tentang bagaimana menjadi terbangun dari tidur.

Salam sehat dan salam hangat dari Biara Santo Alfonsus-Konventu Redemptoris Weetebula, Sumba tanpa Wa

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here